
Tiga hari sudah Jessy di rawat di rumah sakit. Dan hari ini ia bersikeras untuk meminta pulang, pasalnya ia menjadi tidak enak karena merepotkan banyak orang untuk merawatnya.
Pagi hari Mami Nilam yang merawatnya, dan ketika malam Nathan yang bergantian menjaganya. Nathan tidak bisa berlama-lama untuk mengambil libur, karena ia sudah kelas tiga di mana sebentar lagi ujian segera di mulai beberapa bulan lagi.
Jessy sudah merasakan tubuhnya yang baik-baik saja sehingga ia tidak ada alasan untuk tinggal lebih lama lagi. Apalagi ia juga memikirkan neneknya yang berada di rumah, meskipun Mariam tidak curiga tentang keberadaanya di rumah sakit tapi ia tetap saja kasian melihat neneknya hanya berdua dengan pekerja rumah makannya yang ia suruh tinggal di rumah selama ia tidak ada.
Mariam jelas saja tidak melarang Jessy yang ia tau menginap di rumah suaminya, bahkan jika perlu ia menyuruh Jessy agar cepat-cepat memberikannya cicit.
"Sudah siap?" Mami Nilam yang sudah merapikan semua barang-barang Jessy dan memasukkannya ke dalam tas. Sedangkan Nathan menyelesaikan administrasinya.
Jessy mengangguk. "Sudah Mi," jawabnya. Setelah beberapa saat lalu perawat sudah melepas jarum infusnya.
Tidak lama setelah itu Nathan datang dengan membawa kursi roda. "Pakai ini aja!"
__ADS_1
"Gue masih bisa jalan," Jessy tak habis pikir dengan suaminya. Padahal ia sudah baik-baik saja tapi seakan akan ia adalah wanita tua yang tak mampu berjalan.
"Gue tau," sahut Nathan. "Tapi lo baru aja sembuh," imbuhnya. Ia tak mau ambil resiko jika istrinya kenapa-napa.
Sedangkan Mami Nilam hanya tersenyum melihat perdebatan suami istri itu, ia tak akan ikut campur selama masih dalam batas wajar. "Ya sudah, kalau begitu Mami duluan saja ke mobil. Kalian berdua putuskan dulu mau pakai kursi roda apa tidak." Setelah itu ia keluar dengan membawa tas yang berisi perlengkapan Jessy.
"Gue mau jalan aja," putus Jessy yang tetap tidak mau memakai kursi roda.
"Baiklah kalau begitu," Nathan lebih memilih mengalah daripada perdebatan itu tidak akan pernah selesai. Ia kemudian menyingkirkan kursi roda yang ia bawa dari hadapan istrinya dan menaruhnya di pojokan ruangan.
"Ini yang lo pilihkan!" sahut Nathan datar. Kemudian ia berjalan keluar dari ruang rawat inap istrinya.
"Turunin gue nggak?" Jessy yang ingin turun dari gendongan suaminya. Ia malu sekali ada beberapa pasang mata yang melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Nggak," jawab Nathan singkat. Ia tak memperdulikan permintaan istrinya dan terus berjalan.
"Malu di lihat orang!" kata Jessy.
"Tutup saja mata lo, pasti udah nggak keliatan." Mata Jessy jelas saja melotot mendengar jawaban Nathan. "Kenapa tambah melotot?" Nathan melihat ke arah istrinya.
"Dasar!" sungut Jessy. Tapi akhirnya kemudian ia memilih saran dari suaminya untuk memejamkan mata dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Nathan. Dengan tangannya yang melingkar di leher Nathan.
Nathan hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya yang menurutnya sangat lucu. Dan Nathan ternyata benar-benar menggendong Jessy hingga ke arah mobil.
Sore hari itu, jalan lumayan padat karena bertepatan orang pulang bekerja. Jessy akan terlebih dahulu untuk pulang ke rumah Nathan, dan malam ia baru pulang ke rumah neneknya.
...----------------...
__ADS_1
...Sedikit dulu ya, nanti di sambung lagi. Matanya udah nggak kuat banget π΅. Karena sebenarnya tadi udah ketiduran akunya, tapi kebangun dan nggak bisa tidur lagi π . Love you all π₯°...