Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Jarum suntik


__ADS_3

Sudah beberapa kali Meili ijin ke toilet, perutnya terasa panas dan melilit.


Padahal di dalam toilet ia tidak mengeluarkan apapun, karena sudah terkuras habis untuk yang pertama tadi. Dan sekarang di tambah ia yang mulai muntah mengeluarkan isi perutnya. Tentu saja tenggorokannya terasa terbakar sisa dari makan bakso waktu istirahat tadi.


"Meili lo nggak apa-apa?" Jessy mulai terlihat khawatir. Melihat wajah Meili yang berkeringat dingin dan juga mulai pucat.


Meili menoleh ke arah Jessy. "Nggak apa-apa, tenang saja. Ok." jawabnya santai dengan senyum.


Sedangkan Tasya ia juga ikut menoleh ke arah Meili, namun bibirnya keluh untuk menanyakan keadaanya. Apalagi setelah kejadian tadi siang bersama Meili.


*


*


"Meili, lo gue anter ya?" Jessy tidak tega melihat Meili pulang sendirian.


"Nggak usah, aku mau mampir ke tempat lain dulu.!" tolaknya. Kemudian ia segera masuk kedalam mobilnya dan mulai melajukan mobilnya keluar dari area sekolahan.


Jalanan yang hampir sore itu, lumayan padat karena jam pulang sekolah. Ia sekarang hanya butuh waktu untuk sendiri, karena itu tadi ia tidak mau di antar oleh Jessy.


Tapi tidak lama, Meili merasakan tangannya yang mulai gemetar. Dan keringat dingin mulai keluar di saat perutnya di landa rasa sakit kembali.


Ia menepikan mobilnya, tangan kanannya mencengkeram kuat pada perutnya, sedangkan tangan kirinya ia jadikan tumpuan kepalanya yang ia telungkup kan pada setir mobil.


Sejenak Meili memejamkan matanya, berharap bisa menghalau rasa sakit di perutnya.


Tidak lama, terdengar ketukan di kaca pintu mobilnya.


Meili mengangkat kepalanya, matanya menyipit melihat seseorang yang berdiri di samping pintu mobilnya. Ia tidak bisa melihat jelas seseorang itu karena matanya sedikit buram.

__ADS_1


Ia kemudian menurunkan kaca mobilnya.


"Buka!" yang ternyata itu adalah Raka. Ia tadi sengaja mengikuti Meili karena tahu ada yang tidak beres dengan gadis itu. Dan benar saja ia melihat wajah Meili yang sangat pucat.


Meili mengenali suara itu, namun ia tidak memperdulikannya. Ia bahkan akan menaikkan kaca mobilnya kembali, namun dengan cepat Raka memasukkan tangannya dan membuka pintu mobil Meili.


"Kak Raka mau apa sih?" Jika dulu mungkin Meili akan senang melihat tindakan Raka sekarang, namun setelah ia merasakan rasa kecewa itu semua sudah tidak berarti lagi untuknya.


Mungkin dulu ia berjuang mendapatkan hati Raka karena ia yakin Raka tidak memiliki kekasih, tapi saat melihatnya dengan Tasya itu semua langsung meruntuhkan perjuangannya. Ia tidak mau berjuang untuk seseorang yang hatinya sudah tertanam oleh hati yang lain.


Raka tidak memperdulikan pertanyaan Meili, ia justru membuka lebar pintu mobil Meili.


Deg.


Meili membeku ketika Raka begitu dekat dengannya, ia bahkan bisa mencium wangi maskulin dari cowok itu.


Ternyata Raka membuka seat belt yang Meili gunakan, ia terpaksa melakukan hal itu karena ia yakin jika gadis itu tidak mau mendengarkan ucapannya.


Raka langsung menggendong Meili, dan membawanya ke dalam mobilnya.


"Kak Raka!" kesal Meili karena Raka tanpa ijin langsung menggendongnya.


"Kita ke rumah sakit," tegas Raka.


Mata Meili membulat mendengar itu. "Nggak!" tolaknya langsung. Ia kemudian mencoba keluar dari mobil Raka namun ternyata sudah terkunci.


Ia tidak habis pikir, sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Raka. Tiba-tiba hadir, dan tiba-tiba memberikan perhatian. Apa dia mencoba mempermainkan perasaannya?


Dulu di saat ia ingin mendapatkan perhatian darinya, namun sama sekali tidak ada ada balasan. Dan sekarang?

__ADS_1


Meili tiba-tiba saja memejamkan matanya ketika sakit pada perutnya semakin menjadi. Tangannya kembali mencengkeram kuat perutnya.


"Kalau sakit, harus ke rumah sakit!" final Raka. Dan mulai melajukan mobilnya.


Tapi Meili menggelengkan kepalanya mendengar itu. "Aku nggak mau," ia tetap menolaknya. "Aku takut jarum suntik." lirihnya yang langsung membuat Raka menoleh ke arahnya.


*


*


Malam hari Jessy hanya bisa berguling di ranjangnya, padahal ia baru saja mengakhiri panggilan video call nya dengan sang suami.


Entah kenapa semakin hari, ia semakin susah untuk tidur. Apa mungkin ia merindukan pelukan hangat dari sang suami? Atau merindukan?


"Tidak-tidak," ia mengusap wajahnya kasar saat sesuatu melintas di pikirannya.


Tapi kemudian ia tersenyum sendiri dengan pipi yang merona.


"AAAAA!" teriaknya.


Ia seperti gila di buatnya.


Ternyata menikah dengan Nathan, sungguh membuat hidupnya berubah. Jika dulu hanya ada warna kelabu, kini warna itu menjadi jutaan warna pelangi yang menghiasi.


Ia patut bersukur, ternyata di balik suram kehidupannya yang dulu ternyata Tuhan sudah mempersiapkan kebahagiaan.


"Apa gue harus melakukan sesuatu?" gumamnya ketika ia mendapatkan suatu ide gila yang tiba-tiba bersarang di otaknya.


...----------------...

__ADS_1


...Maaf gengs beberapa hari keteteran buat up 🙏...


__ADS_2