Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Gadis Yang Sama


__ADS_3

Setelah melewati liburan di vila, kini sudah waktunya untuk mereka kembali menjadi seorang pelajar.


Suasana di sekolah seperti biasanya, tidak ada yang berubah. Yang berubah hanya sikap Tasya yang kembali diam.


Entah sebenarnya apa yang sedang menganggu pikirannya, tapi Tasya hanya diam memendam apa yang dia rasa.


Di jam istirahat, Jessy memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Bukan untuk membaca atau meminjam buku, gadis itu pergi ke sana karena ia ingin memejamkan matanya sejenak.


Karena semalam Mariam nenek nya mengajak untuk begadang menikmati acara dangdut di televisi, meskipun sebenarnya ia tak mau tapi tetap saja ia di seret oleh Mariam hingga duduk di sofa depan televisi.


Setiap kali mata Jessy ingin terpejam, lagi-lagi harus terbuka karena nenek nya yang ikut bernyanyi dan bergoyang ketika penyanyi di televisi menyanyikan dangdut koplo.


Kalau saja suara nenek nya merdu semerdu suara penyanyi Inul dara tinggi, mungkin ia akan terlelap. Tapi suara nenek nya mengalahkan petir dan kilat yang sedang beradu di langit.


Padahal tubuhnya sudah sangat lelah dan ingin beristirahat setelah perjalanan pulang dari vila.


Dan kini di perpustakaan pun ia tidak begitu nyenyak, meskipun di sana suasananya sepi. Tapi tidur dengan posisi duduk dan kepala berada di bangku sungguh membuat punggung dan lehernya sakit.


"Sungguh, gue rindu ranjang di rumah." Jessy menyenderkan punggungnya di sandaran kursi dan kepala mendongak ke atas.


Hingga tak lama bel sekolah berbunyi, membuat Jessy juga harus kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajarannya.


Baru saja Jessy duduk, Meili sudah menyodorkan satu roti bungkus dan satu cup es jeruk.


"Terima kasih," ujar Jessy sembari menghabiskan es jeruk nya sebelum guru masuk kelas.


"Jessy!" panggil Meili lirih, bahkan lebih mirip bisikan.


Jessy menoleh ke arah Meili. "Apa?"


"Tasya kenapa?" tanya nya dengan nada suara yang sama. Ia heran melihat sikap Tasya sedari tadi yang hanya diam, Tasya juga kembali tidak mau beristirahat dengan nya.


Jessy mengarahkan pandangannya pada Tasya yang berada di samping Meili. Gadis itu memang diam dengan pandangan yang lurus ke depan.


Hingga akhirnya Jessy hanya mengangkat kedua bahunya untuk menjawab pertanyaan Meili.

__ADS_1


Jessy sendiri bukan tipe orang yang suka ngurusi urusan orang lain, hingga dia tidak begitu peduli.


Meili hanya menghembuskan nafasnya pelan. Kalau sudah begini ia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Karena selama mengenal Tasya, baru beberapa kali belakangan ini sikap temannya itu berubah.


*


*


Ketika pulang sekolah, Nathan terlihat terburu buru. Biasanya ia akan sejenak mengobrol dengan teman-teman nya di parkiran, tapi kali ini ia harus bergegas pergi.


"Woi, mau kemana?" teriak Ariel melihat Nathan yang sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Gue cabut dulu," sahut Nathan hingga kemudian ia melajukan mobilnya keluar dari pelataran sekolah.


"Mau kemana sih tuh anak?" tanya Reza.


"Tau tuh, buru-buru amat!" Ariel yang juga penasaran.


"Mungkin dia lagi ada urusan," sahut Raka dan berjalan menuju mobilnya. "Gue juga cabut," pamitnya.


"Jessy, tuh suami mau kemana?" Meili melihat Nathan yang sudah pulang lebih awal.


"Suami, suami. Di sekolah nggak ada suami," kata Jessy. Ia mencoba menghapus status istri jika di sekolah.


Meili hanya berdecak kesal melihat sikap temannya yang selalu seperti itu, tapi ia juga menyayanginya.


Suasana menjelang sore itu, jalanan cukup padat. Di penuhi para murid sekolah yang juga sudah pulang sekolah.


Karena macet, Jessy harus beberapa kali berhenti untuk menunggu kendaraan di depannya kembali bergerak maju.


Tapi di saat ia berhenti, matanya tidak sengaja mengarah ke arah kafe es cream yang sering ia lewati. Ia seperti melihat seseorang yang ia kenal, dan sekarang bersama seorang gadis.


Jessy menatapnya lebih lama untuk memastikan apa yang dia lihat. Cowok itu sedang memeluk gadis yang bersamanya dengan keadaan gadis itu menangis, gadis yang sama ia lihat waktu sebelum dirinya menikah ketika pulang dari pantai.


Karena cowok dan gadis itu duduk di area luar kafe, tidak sulit bagi Jessy untuk memastikannya. Dan benar saja saat pandangan Jessy bertemu.

__ADS_1


Deg.


Nathan juga menyadari Jessy yang juga menatapnya dari sebrang jalan. Nathan segera melepas pelukannya, dan mencoba menghampiri Jessy.


"Jessy!" teriak Nathan melihat kepergian istrinya.


Jessy melajukan motornya begitu saja, apalagi bertepatan dengan jalanan yang mulai lancar.


"Gue pulang dulu," pamitnya pada gadis itu. Ia langsung berjalan menuju mobilnya tanpa menunggu jawaban gadis yang ia tinggalkan.


Sedangkan Jessy hanya tersenyum miring mengingat apa yang baru saja ia lihat.


"Asu," umpatnya. Entah kenapa hatinya merasa sedikit kesal.


Hingga sampai di rumah, Jessy begitu saja memarkir sepeda motornya di depan pintu rumah.


"Jessy, si banteng masukkan ke dalam garasi dulu!" teriak Mariam. Mariam yang kebetulan bersantai di teras heran melihat sikap cucunya yang sepertinya marah.


(Maaf untuk nama motor Jessy untuk up sebelumnya namanya salah 😁, nggak tau kenapa yang keinget rambo nya tok Dalang.)


Jessy tidak mendengarkan teriakan nenek nya, ia langsung masuk ke dalam kamarnya.


Dengan melepas seragamnya sembarangan dan melemparnya ke segala arah, Jessy masuk ke dalam kamar mandi. Yang ia butuhkan sekarang adalah bagaimana cara mendinginkan pikirannya yang sedang panas.


Jessy mengguyur tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower, hingga dinginnya air mulai menyentuh kulit putihnya.


Ia tidak tahu apa yang sedang ia rasakan, tapi ada terselip rasa marah pada hatinya. Dulu ia pikir Nathan tidak mempunyai seseorang yang penting dalam hidupnya hingga dia mau menikah dengannya.


Tapi ia sekarang melihat Nathan kedua kalinya dengan gadis yang sama.


"Aaaaaaaaaaa," teriak Jessy. Berharap sesak di hatinya ikut terbuang bersama teriakannya.


...----------------...


...Hayo-hayo, aku dah begadang nih. Jangan lupa jempol like nya dan komen. Kalau vote nya masih ad ajuga boleh 😁 (ngarep) ...

__ADS_1


__ADS_2