
Setelah semua selesai merapikan barang ke dalam kamar masing-masing, kini mereka bersantai di halaman belakang dengan menghadap kolam renang.
Hanya Reza dan Ariel yang sedang berenang, itu saja dengan syarat harus menggunakan kaos dan boxer. Tentu itu semua ulah Nathan, karena ia tidak mau sampai mata istrinya itu melihat bentuk tubuh kedua sahabatnya. Padahal jika di lihat bentuk tubuhnya jauh lebih bagus, tapi entahlah ia tidak suka saja melihat mereka bertel*njang dada.
Sedangkan ia sendiri dan Raka hanya duduk di samping kolam tanpa berniat untuk ikut berenang.
"Jessy, kenapa kamu tidak bisa berenang? Nggak coba belajar gitu?" Meili tau jika sahabatnya itu tidak bisa berenang, tapi ia heran kenapa Jessy tidak belajar saja.
"Entahlah, aku hanya tidak suka berenang." jawab Jessy enteng. Yang ia ingat sejak umur sepuluh tahun ia memang tidak suka berenang, dan ia sudah pernah memaksakan diri untuk mencoba berenang, namun hasilnya ia malah tenggelam. Sejak saat itu ia semakin tidak suka dengan berenang.
"Oh... "
"Kamu sendiri tidak berenang?" tanya Jessy. Karena Meili juga hanya bersantai di pinggir kolam renang dengan cemilan di tangannya. Gadis mungil itu sedari tadi tidak berhenti mengunya. "Meili, lo suka makan. Tapi kok masih kecil?" ucap Jessy tiba-tiba yang mulai julid.
Sontak itu membuat Meili tersedak seketika. Ia bahkan harus memegang tenggorokannya karena terasa sedikit sakit, ia lalu menyambar gelas yang di sodorkan seseorang. Tanpa menunggu lama ia menenggaknya hingga tinggal setengah.
"Ahh," ketika tenggorokannya sudah terasa lebih baik. "Terima kasih ..." Suara Meili semakin lirih ketika ia tahu ternyata yang menyodorkan minum adalah Raka.
Ia kemudian mengalihkan pandangannya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Jessy aku ke kamar dulu," pamitnya dan dengan jurus seribu langkah ia kabur dari sana.
Jessy hanya menatapnya dengan tatapan curiga melihat tingkah Meili yang aneh.
*
*
Hingga malam tiba mereka semua menikmati acara makan malam bersama, kali ini mereka tidak ada pesta barbeque. Karena semua makanan sudah di siapkan oleh penjaga vila keluarga Nathan.
Bukannya apa-apa, tapi mengingat kejadian terakhir kali di vila keluarga Raka, mereka tidak ingin mengambil resiko.
Setelah makan malam usai mereka langsung sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang yang sibuk berjalan-jalan, ada juga yang sibuk menyendiri.
__ADS_1
Tapi tidak sepasang pengantin muda itu, mereka hanya berdiam di dalam kamar.
"Sayang tidak enak dengan yang lain jika jam segini kita sudah berada di kamar." Jessy merengek ingin keluar dari kamar namun suaminya itu tidak melepaskannya.
"Tidak apa-apa, mereka sudah biasa di sini. Sekarang yang penting itu kita membahas masa depan kita!" bujuk Nathan. Tentu saja dengan seribu alasan.
Jessy hanya bisa mencebik mendengar alasan suaminya, namun ia tau itu hanya akal-akalannya saja.
Nathan menatap serius ke arah istrinya yang sedang berbaring di sampingnya. "Sayang, apa kamu tidak ingin mempunyai Nathan junior?"
Jessy tertawa mendengar itu. "Sayang, Nahan junior sudah kamu bawa kemana-mana. Untuk apa aku memilikinya," ucapnya dengan tawa yang masih belum mau berhenti.
Pletak.
Nathan menyentil dahi Jessy.
"Ouch," Jessy mengusap dahinya. "Sayang!" teriaknya tidak terima.
Nathan gemas sekali melihat istrinya, padahal tadi ia sudah berniat mengajaknya untuk membahas masa depan tapi kenapa istrinya itu justru berpikiran ke arah yang lain.
"Lalu salahnya di mana?"
"Isi otak kamu yang salah."
"Tapi kamu tadi bilang Nathan Junior, jadi tidak salahkan." Jessy yang masih belum paham.
Nathan menghembuskan nafasnya kasar, kenapa istrinya di saat seperti ini menjadi lemot. "Yang aku maksud itu adalah baby sayang," gemasnya.
Mata Jessy membulat.
Baby?
__ADS_1
Ia masih belum memikirkan tentang itu, karena ia pikir mungkin setelah lulus sekolah saja ia akan merencanakan itu.
"Bagaimana hm?" Nathan menanyakan kembali.
"Sayang aku masih sekolah," Jessy mencoba mencari alasan sehalus mungkin.
"Sudah tinggal beberapa bulan lagi, dan belum tentu juga langsung hamil." Nathan sendiri tidak kehilangan akal agar istrinya itu mau. Entah kenapa ia sudah ingin memiliki keturunan di usia muda.
Jessy menelan ludahnya kasar, yang di ucapkan suaminya ada benarnya juga. Tapi itu kan 'mungkin' bagaimana jika kenyataanya ia langsung hamil?
"Sayang!" Nathan berusaha menyingkirkan jarak di antara mereka. Tangannya kini sudah mulai beroperasi di lekuk tubuh istrinya.
Pikiran Jessy yang tadi sempat melayang kemana-mana, kini seketika tersadar saat nafas suaminya sudah menerpa ceruk lehernya.
"Sa-sayang!" Jessy berusaha menghindar dari singa yang sudah bersiap untuk memangsanya.
"Ayo kita coba dulu," kata Nathan. "Siapa tau kita beruntung."
Jessy mencebikkan bibirnya.
Di coba?
Memangnya suaminya pikir lagi ambil undian.
Tapi sayangnya sekeras apapun Jessy menolak, Nathan tetap harus mendapatkan keinginannya.
Setelah berhasil memberikan istrinya sentuhan-sentuhan kecil yang dapat meningkatkan gair*hnya, ia segera melancarkan aksinya. Ia harus segera melakukan nya sebelum istrinya itu kembali sadar.
Mereka kini sama-sama sudah dalam keadaan tanpa busana, dan untuk pertama kalinya Nathan mencoba tanpa pengaman yang tentu saja rasanya berbeda.
Suasana dingin malam itu sama sekali tidak berpengaruh bagi sepasang manusia yang sedang mencari kehangatan, hingga beberapa saat kemudian Nathan ambruk di atas tubuh Jessy ketika ia sudah mendapatkan pelepasan pertamanya.
__ADS_1
...----------------...
...Signal di tempatku lagi nggak bagus, maaf ya 🙏...