Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Kamu


__ADS_3

"Sebenarnya ada apaan sih?" Di sela-sela Meili mengemudi ia masih penasaran sebenarnya apa yang akan Jessy lakukan.


Jessy mengangkat kedua bahunya, karena ia sendiri belum tau apa yang ingin di lakukan ibu mertuanya.


Meili hanya menghembuskan nafasnya pelan. Sekarang ia hanya bertugas mengantarkan Jessy ke tempat ibu mertuanya berada.


Hingga tak lama, kedua gadis itu sudah sampai di mall tempat mereka bertemu dengan Nilam.


Jessy langsung mengajak Meili pergi ke restoran, karena Nilam sudah berada di sana.


Saat pertama kali Jessy masuk ke dalam restoran, ia sudah melihat Nilam yang melambaikan tangan. "Mi," ketika Jessy sudah duduk di samping ibu mertuanya.


"Selamat siang tante," sapa Meili dengan dengan khas senyum cerianya.


"Siang sayang, maaf ya jadi ngerepotin kamu." Nilam sedikit tidak enak.


"Nggak kok Tante, kebetulan memang Meili tidak ada acara." sahut Meili.


"Ya sudah, sekarang kita makan dulu setelah itu kita jalan-jalan." ucapnya.


Jessy sedikit mengerutkan keningnya, jika memang hanya mengajaknya jalan-jalan kenapa suaminya tidak boleh tau? Tapi ia kemudian memutuskan untuk makan.


Sebelum kedua gadis itu datang, Nilam sudah memesankan makanan untuk mereka berdua.


"Oh ya sayang, apa kamu ingat jika suami kamu besok ulang tahun?" tanya Mami Nilam di sela-sela makan mereka.


Jessy yang mendengar pertanyaan ibu mertuanya langsung saja tersedak dengan makanannya yang ada di mulut.


"Ya ampun sayang hati-hati," Nilam sembari memberi minum kepada menantunya.


Setelah meneguk setengah minumannya, Jessy bisa bernafas dengan lega. Ucapan mertuanya barusan sungguh membuatnya terkejut, karena dirinya memang sama sekali tidak tau tentang hal itu. "Maaf Mi, Jessy tidak tahu." ucapnya dengan tidak enak.


"Dasar, istri durhaka." cibir Meili, namun kemudian ia tertawa. Jelas saja itu membuat Jessy melotot padanya.


"Tidak apa-apa kalau kamu lupa," kata Mami Nilam. Ia sendiri juga menyadari jika kedekatan mereka terjalin baru beberapa minggu terakhir. "Nah, Mami punya rencana!"


Jessy dan Meili menyimak nya dengan serius.


"Bagaimana kalau besok kita masak untuk acara pesta kejutan untuk Nathan?" ujar Nilam.


Kedua gadis itu saling pandang kemudian menganggukkan kepalanya menyetujui ide Mami Nilam.


"Ya sudah setelah ini kita belanja ke supermarket." Ketiga perempuan dua generasi itu kemudian beranjak dari sana setelah menghabiskan makanan. Dan tujuan mereka kini adalah supermarket.


Jessy bertugas mendorong troli, sedangkan Mami Nilam dan Meili memilih bahan makanan apa saja yang akan mereka besok.


"Sayang kamu besok mau di masakin apa?" Nilam menoleh ke arah menantunya sekilas, kemudian melanjutkan memilih belanjaannya.

__ADS_1


"Terserah Mami aja," jawab Jessy. "Karena apapun yang di masak Mami, rasanya selalu enak." ucapnya tersenyum.


Mami Nilam tersenyum kepada menantunya. "Hm, kamu memang selalu bisa menyenangkan hati Mami."


Tak terasa, troli yang di dorong Jessy sudah hampir penuh. Entah besok apa saja yang akan di masak mereka berdua.


Ketika mereka antri membayar di kasir, tak sedikit yang mencuri pandang kepada mereka. Bagai mana tidak, Mami Nilam yang masih terlihat cantik di usianya, bersama Jessy dan Meili yang seperti anak gadisnya yang tak kalah cantiknya.


"Jessy, aku berasa jadi artis!" Meili mulai muncul tingkah genitnya ketika beberapa cowok tampan melihat ke arah mereka.


Jessy memutar bola matanya malas. "Udah deh, lo nggak usah genit genit."


Meili mencebikkan bibirnya. "Iya iya percaya yang udah teken, coba aja kalau masih jomblo kayak aku."


Mami Nilam hanya menggelengkan kepala melihat kedua gadis itu yang sedari tadi berdebat.


Setelah membayar di kasir Mami Nilam segera menghubungi supirnya untuk membawa belanjaan mereka terlebih dahulu ke mobil, karena setelah ini ia ingin berbelanja lainya dengan kedua gadis itu.


"Mami mau belanja apa?"Jessy mengikuti langkah kaki Mami Nilam.


"Mami mau belanja baju dulu, sudah lama Mami nggak belanja." jawabnya, kemudian ia masuk ke dalam salah satu toko baju dengan merk ternama.


"Wih asik nih, shoping." Meili langsung saja berbinar, sudah lama ia tidak shoping. Bukanya ia tidak mampu beli, hanya saja ia malas jika harus sendirian.


Mami Nilam dan Meili terlihat begitu antusias, tapi tidak dengan Jessy. Gadis itu hanya memilah milah pakaian yang tergantung kemudian ia letakkan kembali. Bagi Jessy shoping bukanlah hal yang menyenangkan, jika di suruh memilih ia akan memilih hiking.


Setelah beberapa saat, Jessy sudah kembali dengan paper bag kecil di tangannya.


Dari kejauhan Mami Nilam dan Meili terlihat sedang tertawa. Mereka seperti membicarakan sesuatu. Hingga kemudian Mami Nilam melambaikan tangan pada Jessy agar mendekat.


Setelah Jessy mendekat, Meili masih saja tidak berhenti tertawa. Dan itu membuat Jessy curiga.


"Sayang marilah, apa kamu tidak ingin membeli itu?" Mami Nilam menunjuk ke arah Meili.


Ketika Jessy menoleh ke arah sahabatnya itu, Meili dengan segera menempelkan baju yang ia bawa ke tubuhnya.


Mata Jessy di buat melotot melihat itu. Bagaimana bisa ibu mertuanya menawari pakaian seperti itu. Pakaian yang kekurangan bahan, bahkan yang memakainya pun akan masuk angin. Terlihat baju itu seperti terbuat dari saringan teh, apalagi dengan warna merah menyala.


"Mi, apa itu baju?" Jessy bergidik ngeri jika memakainya.


Lagi-lagi tawa Meili semakin pecah melihat ekspresi Jessy.


"Tentu saja itu baju sayang," jawab Nilam dengan menahan tawa karena menantunya itu terlihat lucu.


"Baju untuk menggoda kak Nathan," Meili menimpali, kemudian melanjutkan tawanya yang tidak bisa berhenti. Pikirannya membayangkan Jessy yang memakai baju itu, dan dengan tingkah centil menggoda Nathan.


"Lo gila," umpatnya. Tapi seketika pipinya bersemu merah.

__ADS_1


"Sayang, tidak apa kamu membeli ini. Kamu kan sudah menikah, lingerie ini itu membuat rumah tangga kamu semakin harmonis." Mami Nilam menasehati.


Sontak saja pipi Jessy semakin memerah karena mendengar ucapan ibu mertuanya. "Tapi Mi--"


"Sudah tidak apa-apa, kamu beli saja satu. Terserah kamu pakainya kapan," Mami Nilam langsung mengambil baju yang berada di tangan Meili dan membawanya ke kasir bersama belanjaannya.


"Mbak, jadikan satu saja." Mami Nilam menggabungkan belanjaan Meili.


"Wah, Terima kasih tante sudah di traktir." Meili terlihat senang, padahal ia sendiri masih mampu untuk membayarnya.


"Sama-sama sayang," Nilam kemudian menoleh pada Jessy. "Apa kamu tidak ingin membeli sesuatu?"


Jessy menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mi."


Setelah menyelesaikan pembayaran, ketiga perempuan itu memutuskan pulang. Dan Jessy pulang bersama Meili seperti saat ia berangkat tadi.


Ketika sampai di rumah, Nathan tidak menaruh curiga kepada Mami dan istrinya.


*


*


Tengah malam ketika Jessy ingin memberikan hadiahnya pada sang suami, ia terlihat bingung. Ia tidak tau harus memulainya dari mana. Apalagi melihat suaminya yang sudah terlelap.


Karena merasakan pergerakan istrinya, Nathan sedikit membuka mata dan mengetahui sang istri belum tidur. "Kamu kenapa?"


Jessy tersentak kaget mendengar suara Nathan. Ia hanya tersenyum kaku, tapi kemudian ia beranjak dari ranjang. Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu kembali lagi naik ke ranjang. "Ini," ia memberikan hadiah yang tadi di belinya.


Nathan mengerutkan dahinya, karena ia sendiri lupa jika sedang berulang tahun.


"Selamat ulang tahun," ucap Jessy dengan tersenyum manis.


Senyum tampan seketika menghiasi wajah tampan, ia tidak menyangka jika istrinya itu akan memberikan ya hadiah. "Terima kasih," ucapnya dengan menerima hadiah dari Jessy. "Apa boleh aku membukanya?"


Jessy menganggukkan kepalanya.


Nathan kemudian mulai membuka hadiahnya, sesuatu yang terbungkus kotak. Hingga akhirnya ia tahu jika isinya adalah sebuah jam tangan.


"Maaf, aku nggak tau kamu sukanya apa." Jessy berkata jujur.


Nathan menatap Jessy dalam. "Yang aku suka?"


"Kamu," imbuh Nathan.


...----------------...


...Ayo kirim kado buat Papa Nathan. Biar besok di undang makan malam 😁...

__ADS_1


__ADS_2