
Beberapakali ia menekan bel, hingga kemudian pintu di depannya terbuka.
"Tasya!" Mariam terkejut melihat Tasya yang keadaanya sedikit kacau. Pandangan sendu dengan sisa air mata yang masih terlihat jelas. "Ayo masuk dulu Nak."
Namun Tasya bergeming diam di tempatnya.
Mariam semakin terheran melihat sikap cucunya itu.
"Apa Nenek juga menyayangiku?" tanya gadis itu lirih dengan bibir bergetar.
"Sayang, sebenarnya ada apa?" Mariam semakin bingung.
"Apa Nenek juga menyayangiku?" Tasya mengulangi pertanyaannya.
Mariam yang masih tidak mengerti langsung saja menganggukkan kepalanya. "Tentu saja Nenek menyayangiku Nak." Membuat gadis di depannya itu kembali menangis.
"Jika Nenek benar-benar menyayangiku, apa Nenek mau melakukan sesuatu?"
"Sebenarnya ada apa? Nenek masih tidak mengerti. Dan kamu ingin apa dari Nenek."
Tasya menatap lekat bola mata Mariam. "Bisakah Nenek menyuruh Kak Jessy melepas Kak Nathan?" ucapnya tanpa ragu.
Deg.
Detak jantung Mariam seakan berhenti mendengar permintaan Tasya, inilah kenapa dulu ia menyetujui saat Jessy meminta merahasiakan hubungannya dengan Nathan dari semua orang termasuk Tasya. Karena Mariam sendiri sudah mengetahui sifat Tasya yang tidak begitu menyukai Jessy.
"Sayang, itu tidak mungkin." jawab Mariam cepat. "Karena mereka --"
__ADS_1
"Karena apa Nek!" sela Tasya, bahkan nada suaranya sedikit meninggi. Ia tersenyum getir melihat penolakan Mariam. Dan tentu saja karena ia merasa hanya sebagai cucu tirinya.
Meili yang sedang beristirahat di kamar samar-samar seperti mendengar keributan dari arah luar, perlahan ia berjalan ke arah sumber suara dengan menahan rasa pusing di kepalanya.
"Apa Nenek tau jika Kak Jessy kemungkinan sedang hamil?" kata Tasya yang seketika membuat Mariam membeku. "Kak Nathan itu orang yang baik Nek, seharusnya tidak mendapatkan seseorang seperti Kak Jessy." Ia yang masih dalam pemikirannya sendiri.
"Tasya!" sentak Meili. Ia terkejut melihat sifat sahabatnya yang ternyata bisa sekasar itu dalam berbicara.
Tasya menoleh ke arah Meili yang ternyata juga berada di rumah Mariam, ia tersenyum sinis. "Kamu juga tahu kan kalau Kak Jessy sedang hamil?"
"Memangnya kenapa kalau Jessy sedang hamil, itu bukan urusan kamu!" Meili merasa semakin pusing mendengar ocehan sahabatnya itu.
"Tapi Kak Nathan masih berhak mendapatkan yang lebih baik!"
"Lebih baik seperti apa? Seperti kamu? Saudara yang tega merebut suami kakaknya!" Kepalang tanggung, Meili lebih baik membongkar semuanya.
"Iya, Kak Nathan dan Jessy sudah menikah sejak lama. Dan tidak ada larangan jika Jessy hamil, karena dia sudah mempunyai suami." terang Meili.
"Sudah, sudah ayo di bicarakan saja di dalam." Mariam merasakan suasana yang semakin memanas.
Tangis Tasya semakin tak terbendung, hanya isakan yang terdengar.
"Kamu pasti bohong kan?" Tasya yang tidak percaya begitu saja.
"Tasya tenanglah," Mariam yang mencoba menenangkan.
"Apa ini benar Nek?"
__ADS_1
Namun Mariam hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Tasya kembali menoleh ke arah Meili. "Kenapa kamu tidak memberitahuku," ia menggoncang tubuh Meili.
"Karena aku tau, kamu akan sulit menerima ini." sahut Meili.
Tasya menggelengkan kepalanya. "Sejak kehadiran Kak Jessy, kamu juga selalu saja berada di sampingnya. Bahkan mengetahui semua ini," teriak Tasya yang merasa hancur dengan kenyataan. Tanpa sadar ia begitu saja mendorong Meili meluapkan rasa kecewanya.
Karena tubuh Meili yang tidak seimbang, dia begitu saja terjatuh. Namun karena kepalanya yang sejak awal memang sudah merasakan pusing itu membuatnya pingsan.
"Nak!" Mariam yang panik melihat Meili tidak sadarkan diri.
Tasya melihat Meili yang pingsan sama sekali tidak membuat hatinya tersentuh, ia seolah tidak mempunyai rasa iba. "Nek, aku menginginkan Kak Nathan!"
Mariam mendengar itu tiba-tiba membuat dadanya seperti terhantam batu besar, hingga membuatnya semakin lama semakin susah untuk bernafas.
Tanpa di sadari mereka, ternyata Jessy sudah berada di halaman dan mendengar semuanya. Tangannya terkepal erat, melihat keadaan sahabat dan Neneknya sekarang.
Dengan langkah lebar ia berjalan menghampiri Tasya berada.
Plak.
Untuk pertama kalinya Jessy menampar orang terdekatnya. "Gue udah peringati, jangan ganggu hidup gue!" teriaknya penuh amarah.
...----------------...
...Siapa yang mau gebukin gengs di persilahkan 😁...
__ADS_1