Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Bekal


__ADS_3

Senyum di wajah cantik Jessy sedari tadi tak pernah luntur. Sejak kejadian di dalam mobil bersama suaminya, selalu terbayang di ingatannya.


Ia tidak tau bagaimana timbulnya cinta, dan bagaimana rasanya jatuh cinta pada seseorang. Entah perasaan seperti apa yang bisa di namakan cinta. Tapi yang jelas kini ia merasa hatinya merasa ada jutaan bunga yang sedang bermekaran.


Bahkan sesekali ia memegang pipinya dangan kedua telapak tangannya yang tiba-tiba terasa panas. Mungkin bisa di bilang ia sekarang tidak jauh beda dengan Meili jika sedang bertemu pria tampan.


Jessy seketika menggelengkan kepalanya ketika menyadari kekonyolan nya. "Gue seperti orang gila." Saat ia menyadari sedari tadi tersenyum sendiri, untung saja teman sekelasnya belum ada yang datang.


Meskipun Jessy sudah menahan untuk tidak tersenyum, tapi sedetik kemudian senyuman manis itu terbit kembali di wajah cantiknya. Apalagi kalau bukan karena pikirannya yang selalu terbayang-bayang kejadian di dalam mobil.


"Ya ampun!" Jessy mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. "Lama-lama gue bisa gila," gerutunya.


"Siapa yang gila?" Yang ternyata Meili sudah berada di hadapan Jessy.


Jessy yang terkejut seketika membuka tangannya dan mendapati Meili sedang menatapnya curiga. "Nggak ada," jawabnya. Jessy mencoba seperti biasanya, ia tahu Meili adalah seseorang yang penuh dengan keingintahuan. Bahkan ia menahan agar tidak tersenyum di hadapan Meili ketika lagi-lagi pikirannya tertuju pada suaminya.


Meili menautkan kudua alisnya. Jelas-jelas tadi ia sempat melihat sahabatnya itu tersenyum sendiri sebelum ia datang. "Jessy, efek sakit lambung nggak ngaruh sama otak kan?"


Sekarang giliran Jessy yang menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan dari Meili. "Maksudnya?"


"Kamu nggak gini kan?" Meili menaruh telunjuknya di kening dengan posisi miring.

__ADS_1


Jelas saja itu membuat mata Jessy melotot. Enak saja sahabatnya itu menyebutnya gila, memang atas dasar apa dia bisa di sebut gila. "Tuh mulut nggak ada saringan," sungut Jessy.


Tapi Meili justru tertawa. "Ya habisnya tadi aku lihat kamu senyum senyum sendiri, aku pikir mungkin itu efek kamu sakit kemarin." ucapnya tanpa dosa.


Jessy memutar bola matanya malas mendengar itu.


"Oh ya kenapa kamu masuk sekarang?" tanya Meili. "Besok kan libur, nanggung tau! Mending sekalian hari senin saja." ujar Meili.


Jessy hanya menggelengkan kepalanya, bagaimana seorang putri dari pemilik yayasan sekolah justru memberi saran yang menyesatkan.


Meili mencebikkan bibirnya ketika sahabatnya itu tidak menanggapi ucapannya. Akhirnya ia memilih untuk duduk di kursinya.


Tak lama para murid sudah mulai berdatangan, termasuk Tasya.


Jessy yang tadi sibuk dengan pikirannya, seketika menoleh ke arah Tasya yang sudah berdiri di samping bangkunya. Ia tak mengucapkan apa-apa, tapi matanya terus menatap ke arah Tasya. Menunggu adiknya itu ingin membicarakan apa.


"Kak, maaf. Selama kakak sakit Mama sama Papa tidak bisa jenguk karena sedang berada di luar kota." ujar Tasya menjelaskan.


Jessy yang mendengarnya hanya tersenyum miring, ia tidak begitu terkejut mendengar itu. Karena terlalu sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari Danu, sehingga hatinya terasa kebal mendengar itu.


Jessy menganggukkan kepalanya sebagai respon. "Ya sudah," sahutnya.

__ADS_1


Tasya menghembuskan nafasnya pelan mendengar itu, dia sudah bisa menebak bagaimana tanggapan kakaknya. "Dan untuk makan malam waktu itu, aku benar-benar tidak sengaja. Sungguh aku--"


"Sudahlah, jangan bahas itu lagi." potong Jessy.


Melihat kakaknya yang bersikap seperti itu, Tasya hanya bisa meremas kedua tangannya yang saling bertautan. Hingga akhirnya ia memilih untuk kembali ke kursinya.


Meili yang sedari tadi mendengarkan obrolan mereka tidak berniat ikut campur, padahal ia biasanya akan langsung ikut menyela pembicaraan mereka. Entahlah sejak acara makan malam itu, ia memiliki pandangan yang berbeda terhadap Tasya. Bukannya ia benci, hanya saja sekarang sahabatnya itu semakin berubah.


Ketika jam istirahat, Jessy merasa heran dengan makan yang di bawa oleh Meili. "Gue tadi kan nggak pesan ini?" Jessy melihat nampan yang di bawah Meili berisi bakso, dan satu kotak bekal yang berisi bubur ayam. Ia tahu jika Meili yang ingin memakan bakso, tapi bubur ayam? Bahkan di kantin tidak ada yang menjual bubur ayam terus Meili mendapatkan dari mana!


Meili hanya tersenyum penuh arti. Ia kemudian berbisik kepada Jessy. "Ini dari kak Nathan, katanya ibu mertua kamu yang kirim."


Sontak saja Jessy terkejut mendengar itu. Ia segera mengarahkan pandangannya untuk mencari keberadaan suaminya, saat mengetahui keberadaanya yang sedang duduk dengan para sahabatnya tiba-tiba ponselnya berdering. Jessy segera membuka pesan yang masuk di ponselnya, dan ia di kejutkan kembali oleh pesan yang di kirimkan oleh suaminya.


💌 Jangan makan yang aneh-aneh, tadi Mami kirim makanan khusus untuk menantu tercintanya.


Setelah membaca pesan itu, tanpa sadar senyuman terbit di bibir Jessy. Dan ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada suaminya yang ternyata juga menatapnya dari jauh. Ternyata suaminya juga tersenyum ke arahnya.


"Cie," goda Meili. "Ada yang kasmaran nih."


...----------------...

__ADS_1


...Tuhkan udah ada yang senyum-senyum sendiri. ...


__ADS_2