
Saat bel istirahat sekolah berbunyi, semua murid berhamburan keluar. Tujuan mereka hanya satu, mengisi perut mereka dengan makanan yang ada di kantin.
"Tasya ke kantin yuk?" ajak Meili. Sudah lama ia tidak istirahat bersama. Entah apa yang membuat semakin hari sahabatnya itu semakin menjauh, padahal ia juga tak kurang-kurang mengajaknya, tapi selalu di tolak oleh Tasya.
Tasya yang baru selesai menyimpan buku pelajarannya, menoleh ke arah Meili. Sejenak ia berpikir tapi kemudian ia mengangguk. "Boleh," sahutnya.
Meili yang melihat itu tersenyum, semoga ini awal yang baik untuk sahabatnya itu kembali seperti dulu.
Meili kemudian juga menoleh ke arah Jessy. "Ke kantin yuk!"
"Ya udah ayo," sahutnya dan berjalan lebih dulu.
Meili hanya terbengong melihat sikap Jessy. Biasanya ia akan membujuknya lebih dulu dengan jurus muka melas, tapi sekarang sahabatnya itu tanpa di bujuk langsung mau.
Tanpa ada yang tau sebenarnya Jessy memang sedari tadi ingin mengisi perutnya. Perutnya sudah berdemo sejak pelajaran berlangsung, karena dari semalam sama sekali belum ia isi.
Saat tiga gadis itu berjalan ke kantin, sontak saja mereka jadi pusat perhatian para murid lainya. Karena sudah lama sekali bidadari sekolah mereka tidak jalan bersama.
Bahkan pemandangan itu tak luput dari perhatian Nathan cs
yang sedang bermain basket di halaman sekolah.
"Bro liat, bidadari gue lewat," celetuk Ariel yang tiba-tiba berhenti bermain dan pandangannya tertuju pada Jessy. "Nggak liat sehari aja rasanya tambah cinta gue," ucapnya dengan tersenyum.
"Halah, cuma lo yang cinta. Dia mah nggak," sahut Reza kemudian tertawa.
"Jodoh nggak ada yang tau bro," Ariel tetap pada pendiriannya.
Di saat kedua sahabat itu saling berdebat, nyatanya pandangan Nathan juga tertuju pada Jessy. Sayangnya gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
"Jessy, suami kamu lagi ngelihatin kamu tuh." bisik Meili ketika menyadari Nathan yang terus memperhatikan Jessy.
"Biarin aja, yang penting gue sekarang mau makan." sahut Jessy yang tidak menanggapi ucapan Meili.
Sedangkan Tasya yang melihat Meili berbisik-bisik dengan Jessy, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lapangan. Saat itulah ia melihat pandangan Nathan tertuju ke arahnya.
Tasya yang mengetahui itu seketika melemparkan senyum manis, sudah lama ia juga tidak mengobrol santai dengan Nathan, terkecuali jika membahas tentang kegiatan OSIS.
"Tasya ayo!" Meili menggeret tangan Tasya agar berjalan lebih cepat. Karena Jessy ternyata sudah berjalan lebih dulu.
"Iya," Tasya yang kemudian memutus pandangannya.
Setelah sampai di kantin, ternyata suasana kantin sudah cukup ramai. Tapi berhubung yang datang adalah bidadari sekolah, maka tidak sedikit para siswa yang merelakan bangkunya untuk mereka.
"Aku pesan dulu ya, seperti biasa kan?" tanya Meili. Dan kedua gadis itu mengangguk.
Setelah kepergian Meili, ternyata di bangku itu hanya ada suasana hening. Seperti sebelum-sebelumnya tidak ada percakapan.
__ADS_1
Hingga beberapa saat kemudian Meili sudah kembali dengan nampan yang berisi makanan mereka.
Di saat acara makan itu berlangsung, ternyata yang paling lahap adalah Jessy. Tanpa banyak bicara gadis itu menyantap makanannya dengan cepat.
Meili yang memperhatikan cara makan Jessy hanya bisa menggelengkan kepala. Biasanya gadis akan menjaga cara makannya agar terlihat anggun, tapi itu tidak berlaku untuk Jessy.
"Tasya, maaf kemarin tidak bisa menjenguk. Karena kemarin aku ikut Papa ke acara pernikahan anak temannya di luar kota," Meili memutuskan untuk mengobrol bersama Tasya di sela-sela makan mereka.
Tapi ucapan Meili yang di dengar Jessy, justru membuat gadis itu tersedak seketika.
Meili dan Tasya hanya menatap Jessy bingung, pasalnya tidak ada yang mengajaknya bicara tapi ia tiba-tiba tersedak. Sialnya lagi Meili tadi tidak membeli minuman karena antri yang cukup panjang.
"Ini!" Seseorang menyodorkan sebotol air mineral.
Tanpa melihat siapa yang memberinya, Jessy langsung mengambilnya dan meminumnya hingga tinggal setengah.
"Te--" Ketika Jessy akan mengucapkan terimakasih, saat itulah ia tau kalau yang memberinya adalah Nathan. Sontak saja ia terkejut.
"Sama-sama," sahut Nathan datar. Padahal Jessy belum selesai mengucapkan kata terimakasih tapi ia sudah membalasnya. Kemudian ia mengambil sisa air yang tinggal setengah di tangan Jessy lalu meneguknya sambil berjalan ke bangku teman-temanya berada.
Meili yang melihat pasangan pasutri baru itu hanya mengulum senyum, sebenarnya gatal sekali mulutnya ingin menggoda Jessy tapi sayangnya mereka masih di tempat umum.
Sedangkan Tasya yang melihat interaksi itu hanya diam, rasanya ada yang aneh di dalam dirinya.
"Jessy!" panggil Meili dengan menaik turunkan alisnya, dan tidak lupa juga senyum menggoda.
Di bangku Nathan, ia juga mendapat tatapan tanda tanya dari sahabat-sahabatnya terkecuali Raka.
"Bro, lo ngambil start gue." Ariel yang sedikit kesal pada Nathan. Kalau saja tadi ia yang lewat pasti ia yang akan memberikan minum untuk gadis incarannya itu. Dan membayangkan Jessy yang akan mengucapkan terimakasih padanya.
"Iya, nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba maju terdepan." Reza yang menimpali.
Nathan hanya menyunggingkan bibirnya tanpa berniat membalas ucapan Ariel dan Reza.
*
*
Saat bel pulang sekolah baru saja berbunyi, tiba-tiba ponsel Jessy bergetar.
Jessy kemudian melihatnya, dan ternyata ada pesan masuk dari no baru.
"Gue tunggu di parkiran samping sekolahan."
Jessy mengerutkan keningnya membaca pesan itu.
"Siapa lo?" balas Jessy mengirim pesan.
__ADS_1
Dan tidak lama, ponselnya kembali bergetar. Matanya membulat ketika membaca balasan pesan yang baru masuk.
"Suami lo."
Dan ternyata itu adalah Nathan. Entah dari mana suaminya itu mendapatkan no hpnya, karena seingatnya ia masih belum bertukar no.
Jessy berdecak kesal, karena dia tadi berniat untuk memesan ojek online saja. Tapi sekarang Nathan mengajaknya pulang bersama.
Ketika di depan gerbang sekolah, dari kejauhan Jessy dapat melihat mobil Nathan yang sudah terparkir. Dengan langkah malas ia berjalan ke arah mobil Nathan.
Jessy langsung masuk begitu saja ke dalam mobil. Dan Nathan juga langsung melajukan mobilnya ke arah tujuannya, ia ingin mengajak Jessy ke suatu tepat.
Ketika dalam perjalanan, Jessy mengerutkan keningnya waktu jalan yang di lewati mobil Nathan bukan ke arah rumah nenek nya atau Mami Nilam.
"Lo mau kemana?" Akhirnya Jessy memutuskan bertanya.
Sebelum Nathan menjawab, ternyata mobil yang di kemudikan nya sudah berhenti. "Ayo turun," ajaknya.
Jessy hanya menghembuskan nafasnya kasar, apa sangat susah untuk menjawab pertanyaannya. Batinnya.
Saat turun dari mobil, ternyata suaminya itu sudah berjalan masuk ke dalam ruko dua lantai.
"Apa dia mau beli hp?" gumam Jessy.
Karena ruko itu adalah konter yang menjual berbagai merk HP, aksesoris, juga berbagai macam kuota.
"Lo nggak mau masuk!" Nathan melihat istrinya hanya berdiri di tempat.
Jessy kemudian memutuskan untuk mengikuti Nathan.
"Mas Nathan!" sapa salah satu pegawai konter begitu melihat Nathan masuk dalam konter.
"Bagaimana, apa semuanya lancar?" Nathan berhenti sejenak.
"Iya, seperti biasanya Mas." sahut gadis penjaga konter. Kemudian ia melihat kedatangan Jessy yang berdiri di samping Nathan. "Wah... Mas Nathan bawa pacarnya!" katanya tersenyum.
Nathan hanya mengulas senyum tipis. Begitupun Jessy yang hanya bisa tersenyum kaku. "Ya sudah, saya masuk dulu." Nathan kemudian berjalan ke arah tangga dan menuju lantai dua.
Jessy yang mengikuti langkah Nathan sebenarnya mulai penasaran. Sebenarnya apa tujuan mengajaknya ke sini dan kenapa Nathan bisa masuk sembarangan di sini.
Ternyata di lantai dua terdapat gudang yang menjadi penyimpanan, dan di sebelah nya ada ruangan yang tertutup. Setelah itu di pojok ruangan seperti ada dapur mini.
Jessy memperhatikan Nathan sedang masuk kedalam ruangan, ketika ia juga mengikuti suaminya, ia terkejut melihat isi dalam ruangan itu. Di mana ada ranjang juga sofa serta televisi yang berukuran cukup besar. Tidak jauh beda dengan kamarnya di rumah.
...----------------...
...Hayo, habis membaca jangan lupa jempolnya ya π. Komentarnya juga, biar gak kosong kolom komentar nya π. ...
__ADS_1
...Kalau di kasih hadiah, othor ma alhamdulillah π€. ...