
Hingga pagi menjelang Jessy masih tetap terjaga, ia takut jika ia memejamkan mata makan akan melewatkan perkembangan neneknya.
Nathan, tentu saja ia juga ikut terjaga, mana mungkin ia tega membiarkan istrinya sendirian.
Dari jauh, terlihat Mami Nilam yang kembali datang. Namun kali ini ia hanya sendirian karena Papi Tama harus ke perusahaan, ia datang berniat untuk menggantikan menjaga Nenek Mariam meskipun masih tidak ada perubahan tentang kondisinya.
"Sayang," Mami Nilam memberikan pelukan hangat kepada menantunya. "Kamu pulang untuk istirahat dulu ya, biar gantian Mami yang jaga nenek." Ucapannya seketika mendapat gelengan dari Jessy.
"Nggak Mi, Jessy masih mau di sini." Jessy masih terus berharap akan ada perubahan pada kondisi Mariam.
Nilam tersenyum sembari mengusap bahu menantunya, kemudian ia duduk di samping Jessy. Ia menggenggam erat tangan yang mulai berasa dingin. "Kamu boleh khawatir dengan nenek, itu wajar karena kamu memang menyayanginya. Tapi nenek juga pasti ikut sedih jika kamu nanti sakit karena kelelahan," tuturnya lembut.
Jessy menoleh ke arah ibu mertuanya. "Nenek pasti akan sembuh kan Mi?" yang langsung mendapat anggukan dari Nilam. "Tentu, itu karena doa dari cucu tersayangnya." sahut Nilam.
"Mami benar, kamu juga perlu istirahat." Nathan menimpali.
Jessy mengarahkan pandangannya pada suaminya. "Tapi Nenek--"
"Nenek akan baik-baik saja," sahut Nathan. "Kalau kamu tidak mau pulang ke rumah, kita istirahat di hotel saja." bujuknya. Mungkin itu akan lebih baik jika sewaktu waktu mereka mendapatkan kabar tentang keadaan nenek, mereka tidak akan membutuhkan waktu lama untuk sampai ke rumah sakit karena jarak hotel yang dekat dengan rumah sakit.
"Iya, lebih baik kamu istirahat dulu. Meskipun hanya sebentar," Nilam yang juga ikut membujuk.
Jessy akhirnya memilih mengikuti saran dari suaminya, setelah mempertimbangkan matang-matang.
"Ya sudah, biar nanti supir yang antar baju kalian ke hotel." umar Nilam sebelum anak dan menantunya pergi.
Karena jarang yang benar-benar dekat, mereka sudah sampai di hotel yang di maksud oleh Nathan.
__ADS_1
"Lebih baik kamu membersihkan diri dulu," kata Nathan pada istrinya setelah mereka sampai di kamar hotel. "Biar lebih segeran," imbuhnya.
"Hm," setelah itu Jessy menuju kamar mandi.
Sembari menunggu istrinya selesai membersihkan diri, ia melakukan panggilan pada pelayanan hotel untuk memesan makanan dan minuman hangat.
Semalaman terjaga membuat tubuhnya merasakan sedikit pegal, di tambah udara yang cukup dingin.
Beberapa saat kemudian Jessy keluar dengan menggunakan bathrobe, karena supir Mami Nilam belum sampai.
Bertepatan itu makanan yang di pesan Nathan juga datang.
"Ayo kita sarapan dulu," ajaknya.
Namun Jessy menggelengkan kepalanya, untuk saat ini ia sama sekali tidak merasakan lapar. Meskipun ia sekarang tidak berada di rumah sakit tapi pikirannya tertinggal di sana.
Jessy menatap ke arah suaminya yang sedang menatapnya lekat, berharap ia mau makan. Di detik berikutnya ia menganggukkan kepalanya.
Setelah acara sarapan itu selesai, Nathan menyuruh istrinya untuk tidur. Sedangkan ia sendiri akan membersihkan diri.
Tapi mata indah milik Jessy sama sekali tidak mau terpejam, pikirannya masih sama seperti sebelumnya.
"Kamu belum tidur?" Nathan yang telah selesai membersihkan diri, ia sama seperti istrinya hanya mengenakan bathrobe.
"Aku tidak bisa tidur," jawab Jessy.
Nathan berjalan ke arah ranjang di mana Jessy berbaring. "Kemarilah," ia membawa istrinya dalem pelukan. Dari jarak dekat ia bisa melihat wajah istrinya yang tidak seperti biasanya. Terlihat ada lingkaran hitam di kantong matanya dan juga mata yang sedikit sembab. "Sekarang tidurlah." Satu kecupan ia berikan di kening Jessy, dan memberikan tepukan kecil di punggung istrinya.
__ADS_1
Perlahan namun pasti, Jessy mulai memejamkan matanya. Rasa nyaman yang selalu di berikan suaminya membantu untuk ia bisa tidur.
Melihat istrinya yang sudah terlelap, ia sendiri kemudian ikut menyusul ke dunia mimpi.
*
*
"Sayang, bangun." Nathan mengguncang pelan bahu Jessy. Mereka baru saja tidur satu jam yang lalu, tapi telepon dari Mami Nilam membuatnya harus terbangun.
Mami Nilam mengabarkan jika Nenek Mariam sudah sadarkan diri meskipun keadaanya masih belum ada perubahan.
Jessy mencoba membuka matanya yang terasa berat, ia samar-samar melihat suaminya sudah berganti pakaian.
Supir keluarga yang tadi sudah membawakan beberapa pakaian.
"Nenek sudah sadar," beritahu Nathan. Dan itu sukses membuat mata Jessy terbuka seketika.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Jessy bersiap, kemudian segera menuju rumah sakit. Ia tidak sabar untuk bertemu neneknya.
Akan tetapi langkahnya semakin pelan ketika akan sampai di ruang ICU tempat Mariam di rawat, karena ia melihat sosok papanya yang ternyata baru saja keluar dari ruang ICU.
"Tidak apa-apa," Nathan menguatkan.
...----------------...
...Nah kan, ketemu babe Danu 😤...
__ADS_1