
Jalanan yang lumayan padat tidak membuat Nathan kesulitan dalam mengendalikan laju motornya, ia tetap memacu laju motornya dengan kecepatan tinggi.
Jessy yang juga sudah terbiasa membawa motornya dengan kecepatan tinggi jadi sama sekali tidak membuatnya takut. Bahkan tangannya tanpa sadar sudah nyaman melingkar di pinggang suaminya.
Meskipun Nathan membawa motornya dengan kecepatan tinggi tapi ia tetap berhati-hati, apalagi sekarang ia sedang bersama istrinya.
Jessy mengedarkan pandangannya ketika motor yang di kendarai Nathan sudah memasuki kawasan pegunungan, udara dingin khas pegunungan seketika ia rasakan.
Tak sedikit orang yang menatap iri pada pasangan pasutri muda itu, di mana mereka terlihat sempurna. Padahal aslinya selama perjalanan, pasangan itu hanya diam.
Hingga tidak beberapa lama, mereka sampai pada vila milik keluarga Raka. Vila yang memiliki halaman cukup luas dan di tumbuh banyak tanaman hingga membuatnya semakin terlihat asri.
Ternyata Nathan dan Jessy sampai lebih dulu dari pada teman-temannya, terbukti tidak ada satu pun mobil ada di sana.
"Yang lain belum sampai?" Jessy mengedarkan pandangannya.
"Sepertinya," jawab Nathan.
Kemudian samar-samar terdengar derap langkah kaki dari dalam vila. "Aden sudah datang?" sapa penjaga vila yang memang mengenali Nathan sebagai teman Raka.
Nathan tersenyum mendengar sapaan itu. "Iya Pak, baru saja." jawabnya pada pria paru baya itu.
"Ya sudah, kalau begitu silahkan masuk. Kamarnya sudah di rapikan."
"Nanti saja Pak, tunggu yang lain dulu." tolak Nathan halus. Meskipun ia sudah pernah datang ke vila milik keluarga Raka, tapi ia merasa tidak sopan jika harus masuk terlebih dahulu. Sedangkan sebentar lagi Raka dan yang lainnya akan datang.
"Ya sudah kalau begitu, saya tinggal dulu kebelakang. Mari den, neng." pamitnya dan kemudian berlalu dari sana untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
Nathan dan Jessy memilih duduk di kursi yang berada di halaman vila sembari menunggu kedatangan yang lainnya.
Entah mobil mereka yang lambat atau Nathan yang mengendarai terlalu kencang, sehingga mereka berdua datang terlebih dahulu.
"Lo sering kesini?" tanya Jessy karena melihat penjaga vila yang langsung mengenali Nathan.
Nathan menganggukkan kepalanya. "Beberapa kali."
"O," Jessy menanggapinya.
Dan tak lama terlihat mobil memasuki halaman vila. Baru saja pintu mobil itu bergeser terbuka, suara cempreng langsung terdengar.
"Jessy!" teriak Meili. Lalu berlari menghampiri Jessy yang masih duduk. "Aku pikir kamu nggak jadi ikut!" sungutnya.
Jessy memutar bola matanya malas, sahabatnya itu selalu saja berlebihan. Padahal seandainya dia tidak ikut juga tidak berpengaruh apapun.
__ADS_1
Di susul semuanya yang baru turun, mereka semua langsung menghampiri Nathan dan Jessy.
"Kenapa kalian bisa sampai bersama?" tanya Ariel heran. Meskipun tadi Nathan sudah mengirimi pesan padanya kalau Nathan akan berangkat sendiri menggunakan motor.
"Motor gue tadi mogok waktu baru keluar beberapa meter dari rumah," jelas Nathan datar. "Kebetulan dia lewat, jadi sekalian berangkat bareng." alasannya.
Mendengar alasan suaminya, Jessy langsung menatap ke arahnya.
"Jadi lo berangkat bareng Jessy?" pekik Reza. Dan itu membuat pandangan semua orang semakin mengintimidasi nya. Tapi tidak dengan Meili, karena gadis itu sudah mengkhayal bagaimana Nathan dan Jessy bisa berangkat bersama dengan pikirannya sendiri.
Raka hanya tersenyum tipis mendengar penjelasan temannya, ia tau seperti apa Nathan yang sebenarnya.
"Ah, aku sangat lelah." sela Meili kemudian menoleh ke arah Raka. "Kak Raka, boleh masuk sekarang?"
Raka hanya berdehem. "Kalian bisa menempati kamar di lantai dua, pilih saja."
"Ya sudah kalau begitu," Meili kemudian menarik tangan Jessy juga Tasya. "Ayo masuk," ajaknya.
Setelah ketiga gadis itu masuk, tinggal lah para cowok dan dua gadis yang masih penasaran dengan cerita Nathan.
"Ayo cepat masuk, apa kalian tidak ingin beristirahat!" Setelah mengatakan itu Raka kemudian masuk kedalam vila. Begitupun Nathan yang juga ikut masuk menyusulnya, ia tidak tau padahal ke empat orang yang sedang menggunakan jawabannya sedang berdecak kesal.
Di dalam vila, Jessy dan Meili juga Tasya berada di dalam satu kamar. Sedangkan Lisa dan Tia menempati kamar di sebelah.
Ketika hari menjelang petang, udara di vila semakin dingin hingga menusuk ke tulang.
Perut lapar Meili membuatnya terbangun, ia melihat Tasya yang masih terlelap di sampingnya. Sedangkan di sisi sebelahnya tempat Jessy tidur sudah tidak ada. Entah kemana perginya sahabatnya itu.
Meili memutuskan untuk ke dapur saja, siapa tau di sana ada makanan.
Tidak susah mencari dapur di vila itu karena terletak di samping tangga.
"Jessy," Meili yang melihat temannya juga berada di dapur dengan segelas air di tangannya.
Jessy menoleh sekilas sebelum menengguk air minum yang baru saja ia ambil.
"Kamu lapar nggak?" Meili membuka kulkas, dan ada beberapa bahan makanan di sana.
"Lumayan," sahut Jessy.
"Kalau begitu, ayo kita buat omlet aja!" Meli mengambil beberapa telur, wortel dan sedikit kubis. "Kamu cincang wortelnya," ia menyerahkan wortel pada Jessy. "Aku yang cincang kubis nya."
Jessy melakukan apa yang di katakan Meili, meskipun ia tidak bisa memasak tapi sekedar memotong rasanya ia bisa melakukannya.
__ADS_1
"Jessy!" panggil Meili di sela-sela kegiatan memasak mereka.
"Hem," Jessy menyahutinya.
Meili mengedarkan pandangannya, dan merasa aman karena hanya ada mereka berdua. Ia kemudian sedikit mendekat ke arah Jessy. "Kamu tadi pagi memang sengaja kan bareng Kak Nathan?" goda Meili sedikit berbisik.
"Kalau sudah tau kenapa tanya?" jawab Jessy datar.
Senyum Meili semakin mengembang karena tebakannya benar. "Kamu dan Kak Nathan sudah pernah?"
Jessy menautkan alisnya. "Sudah pernah apa?"
"Itu," Meili menaruh pisaunya. Kemudian ia mengerucutkan kedua tangannya hingga seperti moncong ayam, dan saling ia tempelkan.
Jessy yang melihat itu, langsung menyentil dahi Meili.
Pletak.
"Ouch," Meili mengusap dahinya.
"Pikiranmu sepertinya harus di kasih pemutih," sembur Jessy. Bagaimana sahabatnya itu menanyakan tentang hal seperti itu. Karena pada kenyataannya ia hanya sebatas tidur bersama dengan Nathan.
"Jessy, apa yang salah dengan pertanyaan ku! Aku bertanya dengan orang yang sudah menikah," Meili tidak mau kalah. "Jangan-jangan, kamu belum?" Ia menutup mulutnya. "Ya ampun!" pekiknya.
Jessy sekali lagi ingin menyentil kening Meili, tapi gadis itu ternyata sudah siap menghindar.
"Jessy, kalau kamu tidak memberikan servis yang terbaik pada Kak Nathan. Nanti bisa-bisa di patok Janda," beritahu nya dengan menggebu-gebu. Bahkan pikiran Meili sekarang hanya di penuhi hal-hal mesum.
Jessy hanya menatap malas ke arah Meili.
"Aku tidak berbohong Jessy," Meili meyakinkan. "Kamu tahu sendiri, janda semakin terdepan karena sudah berpengalaman." imbuhnya.
"Tidak semua Meili," sahut Jessy. "Buktinya, Nenek masih sendiri di rumah!" Yang teringat nenek nya juga seorang janda.
"Kamu gil*," semprot Meili. "Nenek sudah tua, mungkin para lelaki milih yang masih montok," ujarnya.
Meili dan Jessy kemudian saling pandang, dan di detik berikutnya mereka berdua tertawa. Menyadari hal konyol yang mereka bahas.
Tidak jauh dari mereka, Nathan yang memperhatikan kedua gadis itu dari tadi hanya bisa menggelengkan kepala, apalagi mendengar topik pembicaraan mereka yang berbau hal dewasa. Padahal niatnya tadi ingin ke dapur untuk mengambil minum, tapi mendengar kedua gadis itu yang sedang mengobrol lalu ia urungkan.
Di lain tempat, Mariam yang sedang asik menyantap bakso di depan rumah tiba-tiba tersedak. "Sopo maneh iki seng ngerasani?" ( siapa lagi yang membicarakan ku?)
...----------------...
__ADS_1
...Maaf kemarin malam nggak jadi up π, entah kenapa seharian kamrin pengenya tidur aja seharian π. ...