
Di tempat yang begitu indah juga sejuk terlihat seorang gadis sedang bermain ayunan yang di temani sang Ibu.
Senyum gadis itu tak pernah luntur dari bibirnya, dan sedari tadi yang terus berceloteh. Mengenang masa lalu bersama sang Ibu adalah salah satu kebahagiaannya.
"Sayang kamu sudah waktunya kembali!" Kasih berhenti mengayun ayunan yang di duduki Jessy. Ia kemudian berjalan hingga di berada di hadapan putrinya.
Senyum di wajah gadis itu sontak saja seketika luntur. "Ma, tidak bisakah Jessy tinggal bersama Mama?" Ia menatap penuh harap kepada Kasih agar mengizinkannya.
Kasih tersenyum lembut, kemudian mengusap pipi Jessy penuh sayang. "Belum waktunya kamu ikut bersama Mama sayang," tuturnya. "Meskipun dunia kita sudah berbeda, tapi Mama selalu ada di dekat kamu." imbuhnya.
"Tapi Ma, Jessy sudah lelah." ucapnya lirih dengan menundukkan pandangannya. Lelah dalam menjalani hidupnya tanpa orang tua yang seharusnya berada dekat dengan anak-anak nya.
Kasih membawa Jessy kedalam pelukannya. "Sayang, Mama tau apa yang kamu rasakan." ujarnya dengan membelai kepala Jessy. "Bertahanlah, dan berjuanglah untuk bahagia. Mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu," Kasih mencoba menguatkan hati putrinya yang sekarang sedang rapuh. "Ada banyak orang yang menyayangi kamu, contohnya suami kamu."
Jessy mengurai pelukannya dan menatap ke arah Kasih. "Nathan?"
Kasih menganggukkan kepalanya. "Iya, dia seseorang yang tulus menyayangi kamu."
__ADS_1
Jessy berdecak kesal mendengar itu. "Mama belum tau saja, dia itu selalu menghukum Jessy jika di sekolah." adu nya.
Kasih tertawa mendengar penuturan putrinya. "Itu hanya sebagai tanggung jawabnya saja sayang." Kasih mencubit hidung mancung Jessy. "Tapi percayalah, dia benar-benar menyayangi kamu."
Meskipun dunia Kasih sudah berbeda, tapi ia bisa merasakan jika suami putrinya kelak akan bisa menjaga dan membahagiakan putrinya.
Hingga tak lama terdengar suara seseorang yang memanggil.
"Jessy."
"Dengarkan! Suami kamu sudah memanggilmu. Kamu sudah terlalu lama di sini." Kasih menatap ke dalam bola mata Jessy. "Suatu saat kita pasti akan bisa bersama, tapi bukan sekarang sayang." tutur Kasih. Ia kemudian memberikan kecupan sayang di kening Jessy, hingga kemudian perlahan ia pergi menjauh.
"Nggak!" Jessy yang mulai menyadari kepergian Kasih, rasanya ia tidak rela. "Ma!" teriaknya dan mengejar kepergian Kasih, tapi sayangnya Kasih sudah tidak lagi berada di sana. "Ma!"
*
*
__ADS_1
Hingga matahari mulai menampakkan sinarnya, Nathan masih terjaga untuk menemani Jessy. Istrinya masih saja belum mau membuka matanya.
Pandangannya tak pernah lepas dari wajah ayu istrinya, berharap mata indah itu sebentar lagi terbuka. Bahkan wajah Nathan sendiri sedikit memucat, karena ia terus terjaga. Tapi hal itu tidak membuatnya untuk menutup mata.
Beberapa saat kemudian ia merasakan genggaman tangannya pada tangan istrinya ada pergerakan.
Meskipun mata Jessy masih terpejam, namun terlihat beberapa kali berkedut. "Ma!" lirih nya.
Nathan yang melihat itu mencoba mendekati Jessy. "Jessy," panggilnya. Ia melihat Jessy yang sedikit gelisah.
"Ma!" Hanya itu yang terucap dari bibir pucat Jessy. Sedangkan matanya masih setia tertutup.
Nathan kemudian naik ke ranjang Jessy, dengan hati-hati ia membaringkan diri di samping istrinya. Perlahan ia menarik Jessy ke dalam dekapannya, dan memberikan tepukan lembut di punggung Jessy. "Tenanglah," bisik nya.
Dan benar saja, tak lama Jessy mulai tenang kembali. Nathan yang semalam tidak beristirahat pun lambat laut juga merasakan matanya yang perlahan terpejam.
...----------------...
__ADS_1