Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Merindukanmu


__ADS_3

Meili melirik makanan yang tadi di bawakan oleh Raka. Meskipun ia masih kesal dengan Raka, namun perutnya lebih mendominasi untuk segera di isi. Ia tidak peduli siapa yang membawakannya, yang penting sekarang ia ingin makan. Setelah tadi isi perutnya terbuang habis, sekarang ia benar-benar merasa lapar.


Suara sendawa Meili terdengar cukup keras, setelah menghabiskan makanannya tanpa sisa.


"Kenyang," ucapnya dengan mengusap perutnya.


Klek.


Terlihat Raka membawa sesuatu di tangannya. Sejenak ia melirik mangkok bubur dan segelas teh hangat yang sudah tandas. "Ini," ia menyodorkan obat yang tadi ia tebus di apotik.


"Apa ini?" tanya Meili. Padahal sudah jelas itu obat untuk dirinya. Tidak mungkin ia tidak meminum obat, sedangkan infus saja harus di berikan untuk menggantikan cairan.


"Tentu saja obat," jawab Raka. "Cepat Minum," ia memberikannya pada Meili.


Setelah itu ia beranjak dari sana, namun ketika ia sampai di pintu, ia teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah Meili yang mulai membuka kemasan obatnya. "Jangan lupa kabarin orang tua lo, nanti mereka khawatir." Setelah itu Raka benar-benar keluar.


Meili menatap pintu di mana Raka yang baru saja menutupnya, ia tersenyum kecut mendengarnya. "Orang tua? Yang ada mereka yang udah ngelupain aku." gumamnya.


Mamanya sibuk dengan keluarga barunya, dan papanya yang terlalu cinta dengan pekerjaannya.


Hingga tengah malam, rupanya Raka masih belum tidur. Matanya masih tetap terjaga, ia duduk di ruang tengah dengan sesekali mongotak atik ponselnya.


Hingga kemudian pandangannya tertuju pada pintu kamar yang di tempati oleh Meili. "Apa dia sudah tidur?" gumamnya.


Akhirnya ia memutuskan untuk melihat keadaan Meili. Ketika ia membuka pintu dengan perlahan, terlihat cahaya temaram di kamar itu.


Raka kemudian mendekat ke arah Meili yang rupanya sudah terlelap. Ia hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan, melihat keadaan Meili yang mulai membaik.


Di detik berikutnya, Raka tersenyum tipis mengingat tindakannya. Baru kali ini ia membawa seorang gadis ke apartemennya, bahkan temannya pun jarang ia perbolehkan main.


Apalagi gadis itu yang selalu menempel padanya.


Setelah di rasa keadaan Meili membaik, ia memutuskan untuk tidur.


*


*


Nathan sedikit terkejut melihat istrinya yang berada di rumahnya pagi-pagi sekali, padahal sebelumnya Jessy tidak mengatakan apa-apa.


Tapi kemudian ia tersenyum, melihat istrinya seperti vitamin baginya.

__ADS_1


Di dalam kamar, Jessy menyiapkan baju yang akan di kenakan suaminya. Sedangkan Nathan sendiri berada di dalam kamar mandi, membersihkan diri setelah tadi tubuhnya di penuhi keringat.


Seperti biasanya, Jessy akan melakukan tugasnya sebagai istri jika sedang bersama.


Klek.


Nathan sudah menyelesaikan ritual mandinya, ia hanya berbalut handuk sebatas pinggang.


Jessy yang sedari tadi duduk di ranjang, matanya tidak bisa lepas mengikuti kemana arah suaminya berjalan. Apalagi ketika Nathan berjalan melewatinya untuk mengambil baju yang berada di samping ia duduk.


Glek.


Betapa sempurnanya pahatan Tuhan itu. Apalagi aroma sabun yang tercium olehnya, menambah kesempurnaan. Mata Jessy seakan tidak mau melepaskan dari bayangan suaminya, menyusuri dari wajah yang terlihat lebih segar, dada bidang yang begitu hangat jika ia peluk, perut berotot nya yang semakin membuatnya seksi, dan mata itu terus turun ke bawah.


Astaga!


Jessy segera menggelengkan kepalanya.


"Masih pagi, jangan berpikiran yang aneh-aneh!" tegur Nathan. Ia sedari tadi sudah mengetahui jika istrinya itu terus memperhatikannya.


"A-apa?" Jessy tergagap. Ia menjadi salah tingkah di buatnya. "Siapa yang aneh-aneh!" elaknya, kemudian ia beranjak dari sana menuju balkon.


Nathan tersenyum tipis melihat tingkah istrinya itu. Terkadang galak, tapi terkadang juga menggemaskan.


"Tidak," jawab Jessy. "Mau sarapan sekarang?" tawarnya.


"Nanti saja," tolaknya. "Kenapa tidak bilang kalau mau ke sini! Tau gitu aku jemput."


"Tadinya aku mau kesini sambil bawa masakan ku, tapi ternyata hasilnya gagal. Untung saja tadi nenek bisa memperbaikinya, padahal aku sudah meniru yang ada di YouTube tapi masih saja tidak bisa. Sepertinya aku memang benar-benar tidak bisa memasak," Jessy terkekeh mengingat kejadian tadi pagi.


"Tidak apa-apa semuanya butuh proses," Nathan membesarkan hati Jessy. "Aku merindukanmu," Nathan semakin mengeratkan pelukannya.


Pipi Jessy seketika memerah mendengar itu, ia sendiri sejujurnya juga merasakan hal yang sama. Tapi apa boleh buat, keadaan yang harus membuatnya sementara berjauhan dengan Nathan.


Memang benar apa yang di katakan orang, menahan rindu itu sangat menyakitkan.


Nathan membalik tubuh Jessy. "Apa kamu tidak merindukanku?" matanya menatap dalam pada mata Jessy.


"Di sekolah sudah setiap hari kita bertemu," Jelas saja Jessy berbohong. Mana bisa ia mengatakan yang sebenarnya jika ia juga rindu, bisa-bisa ia di rasuki rasa malu yang tiada tara meskipun itu dengan suaminya sendiri.


"Benarkah?" Nathan semakin merapatkan tubuhnya.

__ADS_1


Jessy semakin di buat salah tingkah. Ia bahkan tidak berani menatap mata Nathan.


Nathan menakup wajah Jessy. "Tapi aku sangat merindukanmu." Hingga kemudian ia begitu saja mendaratkan bibirnya tepat di bibir Jessy, merasakan manisnya yang beberapa hati ini tidak ia rasakan.


Ia memangutnya dengan lembut, Nathan bahkan sekarang semakin menarik pinggang Jessy merapat ke arahnya.


Jessy yang juga mulai menikmati permainan suaminya, tanpa sadar mengalungkan tangannya di leher suaminya.


Keduanya saling menikmati apa yang mereka lakukan, mencurahkan rasa rindu beberapa hari tidak bisa bersama terkecuali hanya di sekolah.


Eungh.


Jessy melenguh ketika merasakan tangan kokoh itu sudah berada di balik kaosnya, dan bermain di sana.


Beberapa saat kemudian, Nathan mengakhiri kegiatan mereka. Ia tersadar, jika melanjutkannya lebih jauh lagi maka akan berakhir di ranjang dan akan ada kegiatan panas di pagi hari. Lalu ia tidak akan sanggup jika harus melepaskan Jessy.


Keduanya sama-sama mengatur nafas mereka yang masih memburu. Nathan membawa Jessy kedalam pelukannya untuk meredam hasrat yang hampir saja muncul.


Sedangkan Jessy hanya bisa menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Nathan, ia tidak mau suaminya itu melihat jika wajahnya kini pasti juga sudah memerah.


Tak lama setelah itu, Jessy merasakan ponsel yang berada di saku celananya bergetar.


"Sebentar," Jessy melepaskan diri. "Meili," ketika matanya melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Halo!" saat sudah tersambung.


(""')


"Tidak," Jessy melirik ke arah Nathan yang juga sedang memperhatikannya.


(""")


"Jemput? Dimana?"


(""")


"Baiklah, tunggu sebentar." Telepon berakhir.


"Meili minta jemput," Jessy memberitahu Nathan. "Di apartemen xxx"


Nathan menautkan kedua alisnya, ia tau jika Raka juga tinggal di sana.

__ADS_1


...----------------...


...Selamat berlibur 😁...


__ADS_2