
Nathan rupanya langsung meninggalkan sang guru ketika mendapat pesan dari istrinya, ia tidak menyangka jika istrinya akan pulang terlebih dahulu.
Di jalan ia tidak bisa berpikir positif, apalagi teringat ucapan istrinya yang selalu merasa tidak enak. Seolah olah akan mendapat firasat buruk.
Ternyata ketika mobilnya sudah sampai di rumah Mariam, bertepatan juga dengan ibu mertuanya yang baru sampai. Ketika baru turun dari mobil, ia di kejutkan dengan istrinya yang menampar Tasya yang notabene nya adik tirinya.
Tidak sampai di situ, ia juga melihat Meili yang tidak sadarkan diri. Dan Nenek yang sepertinya sedang kesakitan.
"Sayang!" Nathan langsung memeluk sang istri agar bisa meredam emosinya. "Tenanglah." Meskipun ia tidak tau apa yang terjadi, namun ia yakin jika istrinya tidak akan bertindak kalau tidak ada sebabnya. "Ayo kita bawa Nenek dan Meili ke rumah sakit saja."
Sedangkan Mira juga langsung memeluk Tasya, ia begitu takut dengan keadaan saat ini.
Di dalam perjalanan, Jessy sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari sang Nenek. Ternyata benar firasat yang sedari tadi terus mengusik hatinya, sekarang kejadian buruk itu benar-benar menimpanya. Rasa takut kembali mendera, membayangkan jika sesuatu yang tidak di inginkan nya benar-benar terjadi. Apalagi melihat mata Mariam sekarang perlahan mulai terpejam.
"Sayang, semuanya pasti baik-baik saja." Dari kaca spion Natan bisa melihat kekalutan istrinya. Di mana istrinya itu di apit oleh kedua orang terdekatnya dalam keadaan yang tidak sadar.
Jessy hanya diam, pikirannya melayang jauh. Tapi dari semua itu hanya rasa takut yang terus ada di pikirannya.
*
*
__ADS_1
Semua orang sedang menunggu di kursi tunggu depan UGD, di mana Mariam dan Meili sedang mendapat perawatan.
Nathan hanya bisa menggenggam tangan istrinya untuk memberi kekuatan agar bisa kuat menghadapi semua ini.
Tidak jauh dari mereka juga ada Mira dan Tasya yang rupanya juga ikut ke rumah sakit, namun Mira tidak membiarkan Tasya untuk mendekati Jessy. Meskipun ia juga masih belum tau kejadian yang sebenarnya, tapi ia yakin jika ini semua ada sangkut paut dengan putrinya. Karena ia juga sempat melihat ketika Jessy menampar Tasya.
"Sayang!" Mami Nilam begitu saja memeluk Jessy. Ia langsung berangkat begitu Nathan memberi tahu keadaan Nenek Mariam. Untuk sekarang ia hanya bisa memberikan pelukan untuk menantunya tanpa berniat untuk menanyakan kejadian yang sebenarnya. "Nenek pasti baik-baik saja," setelah pelukan mereka terlepas.
Namun lagi-lagi Jessy hanya diam, pandangannya hanya tertuju pada pintu UGD berharap akan segera terbuka. Yang ia inginkan saat ini hanya ingin mendengar kabar baik tentang keadaan neneknya juga sahabatnya.
Papa Nathan menepuk bahu putranya. "Kamu harus kuat, untuk bisa menjadi sandaran istrimu."
Tidak berselang lama pintu UGD terbuka, langsung saja Jessy beranjak dari duduknya di susul yang lainya termasuk Mira.
"Keluarga pasien atas nama Meili," kata dokter perempuan yang baru keluar.
"Saya saudaranya," sahut Jessy. "Bagaimana keadaanya?"
"Pasien terkena tifus, untuk sementara harus menjalani rawat inap."
"Lakukan saja Dokter," Jessy menyerahkan keputusan yang terbaik menurut Dokter. "Kalau Nenek saya bagaimana keadaanya?" sejujurnya ada ketakutan ketika ia menanyakan hal itu, ia tidak sanggup jika hasilnya tidak seperti yang di harapkan nya.
__ADS_1
Dokter perempuan diam sejenak. "Kalau untuk nenek, mari ikut keruangan saya." Ia berjalan lebih dulu menuju ruangannya.
Jessy menoleh kepada Mami Nilam. "Mi titip Meili sebentar ya." yang di sanggupi oleh Mami Nilam. Kemudian ia berjalan mengikuti Dokter bersama suaminya.
Mira sendiri juga memutuskan untuk ikut ke ruangan Dokter, ia ingin tahu bagaimana keadaan perempuan yang juga sudah ia anggap ibunya sendiri.
Dokter perempuan itu menghembuskan nafasnya pelan sebelum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dan mungkin ini akan berat bagi keluarga pasiennya.
"Apapun yang nantinya saya jelaskan, semoga kalian bisa tetap percaya kalau beliau bisa sembuh seperti sedia kala. Dan untuk saat ini keadaan Nenek Mariam sedang dalam keadaan kritis, karena serangan jantung yang beliau alami sepertinya bukan untuk yang pertama kalinya. Dan mungkin kalian juga tau jika orang yang mengalami serangan jantung, jika untuk yang kedua kalinya itu akan berakibat fatal. Tapi masih ada kemungkinan untuk beliau sehat seperti sedia kala, dan tentunya itu juga dari doa kalian."
Hingga beberapa saat kemudian Jessy keluar dari ruang Dokter bersama Nathan juga Mariam. Di detik itu juga Jessy hampir saja limbung jika Nathan tidak cepat-cepat mendekapnya.
Disaat itulah air mata Jessy keluar dengan derasnya. "Sayang kenapa harus Nenek?" ucapnya di sela tangisnya. Ia sudah tidak mampu lagi menahan sesak di dadanya.
Kenyataan yang baru saja ia dengar benar-benar menghancurkan hatinya, bahkan bukan hanya hati namun juga seluruh dunianya.
Mira yang melihat itu juga merasakan hatinya hancur, tapi ia tidak berani untuk mendekat.
...----------------...
...Gengs, novel ini BELUM tamat ya. Masih kurang beberapa episode, tapi itu memang sudah aku kasih pernyataan Tamat karena memang kurang beberapa episode saja. Ok. ...
__ADS_1