Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Masa Lalu


__ADS_3

Mira yang menunggu di depan pintu kamar Tasya semakin merasakan gelisah melihat tidak ada tanda-tanda pintu kamar itu terbuka.


"Ma," Danu yang baru datang. "Ada apa?"


"Tasya dari tadi tidak mau buka pintu." jelas Mira. "Mama takut terjadi apa-apa."


Danu kemudian mencoba membuka pintu, tapi ternyata memang terkunci. Ia lalu menyuruh salah satu bibi untuk membawakan kunci cadangan.


Setelah pintu terbuka, keadaan di dalam kemar begitu berantakan.


"Tasya!" panggil Mira setelah mengetahui di dalam kamar itu kosong dengan keadaan berantakan. Dan ia segera menuju kamar mandi.


Klek.


Deg.


Jantungnya seakan berhenti berdetak melihat pemandangan di depannya, di mana gadis cantik itu dalam ke adaan mata terpejam di bathub yang berisi air namun sudah bewarna merah.


"Tasya!" histerisnya.


Ia langsung mendekat ke arah putrinya yang tidak bereaksi, dengan tangan bergetar ia membawa Tasya ke dalam pelukannya. "Nak kenapa kamu lakukan ini?"


"Tasya!" Danu yang tidak kalah terkejutnya segera mengambil alih Tasya, kemudian mengangkat tubuh putrinya untuk segera di bawa ke rumah sakit.


Di dalam mobil, tangis Mira tak kunjung berhenti. Tangannya memegang kuat pergelangan Tasya yang masih terus mengeluarkan darah untuk memperlambat.


Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai di rumah sakit dan Tasya langsung mendapat tindakan medis.


Di depan UGD, Mira dan Danu hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi hal buruk pada putri mereka.


Di saat pintu UGD baru terbuka, Mira dan Danu langsung saja menghampiri Dokter yang menangani putri mereka. "Bagaimana keadaannya?"


Dokter itu menatap ke arah Mira dan Danu bergantian. "Untung saja lukanya tidak begitu dalam, jadi tidak begitu fatal." jelasnya yang seketika membuat pasangan suami istri itu bisa bernafas lega. "Setelah ini pasien bisa di pindah ke ruang rawat inap," imbuhnya.


"Terima kasih Dokter," ucap Danu dan Mira bersamaan.


Namun Dokter itu seperti ingin menyampaikan sesuatu, karena iya yakin jika luka yang di tangani tadi karena memang di sengaja. "Selain mendapat perawatan dari Dokter, sebaiknya anda juga berkonsultasi ke psikolog tentang kondisi putri kalian, itu akan membantu."

__ADS_1


Meskipun Danu masih tidak mengerti tentang kejadian yang sebenarnya, tapi ia tetap mengiyakan perkataan Dokter.


Tapi tidak dengan Mira, wanita itu semakin tersayat hatinya mendengar itu. Karena secara tidak langsung putrinya dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Setelah beberapa saat, Tasya sudah berada di kamar rawat inap nya untuk beberapa hari ke depan. Mata gadis itu masih terpejam karena pengaruh obat, dan wajahnya yang terlihat pucat.


"Ma, sebenarnya ada apa?" Danu merasa ada sesuatu yang di sembunyikan darinya.


Mira yang sedari menggenggam tangan putrinya kini menoleh ke arah suaminya. Mungkin sebaiknya suaminya harus tau masalah yang sedang di alami oleh Tasya.


"Maafkan aku Mas," lirih Mira. "Aku sudah berusaha untuk menjadi ibu bagi Jessy dan Tasya, namun kenyatannya aku gagal."


Danu semakin bingung dengan pernyataan istrinya.


"Tasya menyukai Nathan, dan dia menginginkannya." ucapan Mira seketika membuat Danu membeku.


"Aku sudah bilang jika itu semua tidak mungkin, karena Nathan sudah menjadi suami kakaknya. Tapi dia masih saja tidak mau mengerti, bahkan dia merasa kalau aku telah pilih kasih dengan kakaknya." Mira sudah tidak lagi dapat membendung kesedihannya, air matanya mengalir begitu saja menandakan bahwa ia juga terluka dengan keadaan ini.


"Aku juga ibu dari Jessy Mas, meskipun dia bukan putri kandungku. Aku tidak bisa menghancurkan kehidupan salah satu putriku, tapi aku juga tidak tau harus bagaimana lagi."


Melihat istrinya yang menangis, ia sekarang tersadar jika ia selama ini sama sekali tidak tau perkembangan kedua putrinya. Hingga masalah besar seperti ini, ia orang terakhir yang baru mengetahuinya.


FLASHBACK ON.


"Bu," Danu yang menghampiri Mariam ketika baru saja tersadar. Perempuan tua itu tersenyum ke arahnya.


"Nak ... Ibu sudah tua, tidak tau harus bertahan sampai kapan." Lirih Mariam, bahkan nyaris tidak terdengar.


Danu menggelengkan kepala mendengar itu. "Jangan bicara seperti itu Bu."


"Lupakan masa lalu yang membuat jarak antara kamu dan Jessy," pesan Mariam.


Danu menegang, ingatannya seketika kembali ke beberapa tahun yang lalu.


"Kasih meninggal karena memang penyakit yang di deritanya, hanya cara Tuhan mengambil nya saja membuat kamu terus menyalahkan Jessy."


"Bukan seperti itu Bu," sanggah Danu.

__ADS_1


Di mana Kasih memang sudah mengidap penyakit jantung sejak lama dan kondisinya pun sudah memburuk, tapi naas di hari itu ia harus tenggelam karena menyelamatkan Jessy kecil yang tenggelam di kolam renang.


Padahal sebelumnya mereka bertiga bersantai di pinggir kolam renang, sampai kemudian Danu beranjak untuk menerima panggilan telepon yang sepertinya dari rekan bisnisnya. "Jessy jangan main di kolam renang!" pesan Danu sebelum pergi. Meskipun ia tau jika Jessy sudah bisa berenang, namun ia tidak mau terjadi hal yang tidak-tidak jika tidak ada yang mengawasinya. Kebetulan pengasuhnya yang sedang libur, ia tahu jika Kasih tidak dapat berenang karena penyakit jantung yang ia derita.


"Ok Papa," sahut Jessy kecil.


Tapi anak kecil tetaplah anak kecil, ia bermain berlarian ke sana ke sini. Hingga tidak di sengaja kakinya yang terpeleset membuatnya jatuh ke kolam renang.


"Jessy!" teriak Kasih.


"Ma, kaki Jessy sakit." Jessy mencoba menggapai pinggir kolam namun tidak bisa.


Kasih mencoba menggapai tangan putrinya dari pinggir kolam, tapi tetap tidak sampai.


"Mas!" teriak Kasih memanggil Danu. Tapi suaminya itu tidak kunjung datang.


Sebagai seorang ibu tentu saja Kasih tidak memperdulikan kondisinya, hingga ia langsung menceburkan diri ke kolam. Kasih mencoba menggapai tubuh putrinya, dan memeluknya. Ia membiarkan tubuh Jessy lebih tinggi darinya, walaupun ia sudah cukup banyak menelan air kolam.


Beberapa saat kemudian, Danu yang baru saja kembali terkejut melihat istrinya yang bersusah payah menaikkan tubuh Jessy. "Ma!" ia segera menarik tubuh putrinya, dan kemudian istrinya.


Tapi sayang kondisi Kasih setelah itu seketika langsung drop, ia lalu di larikan ke rumah sakit. Kasih hanya mampu bertahan beberapa hari, hingga akhirnya ia harus pulang kepada sang Pencipta.


Sejak saat itulah tanpa sadar sikap Danu mulai berubah pada Jessy, ia seolah melimpahkan kesalahan pada putri kecilnya. Hingga Jessy sendiri kemudian mengalami trauma, dan memblokir kejadian yang menyakitkan itu dalam ingatannya. Jadi yang ia ingat sampai hari ini adalah Mamanya meninggal karena penyakit jantung.


"Nak," Mariam membuyarkan lamunan Danu. "Jika kamu tidak bisa membahagiakannya, setidaknya jangan menyakitinya. Kasih pasti sedih jika melihatnya."


Danu melihat mata Mariam yang mulai mengembun.


"Biarkan Jessy bahagia bersama suami dan keluarga barunya."


FLASHBACK OFF.


Mira kembali menatap ke arah putrinya. Seharusnya di usia Tasya sekarang ia masih senang bermain dengan teman sebayanya, namun putrinya itu lebih memilih untuk melabuhkan hatinya untuk seseorang yang tidak mungkin bisa di miliki. "Mas, bagaimana jika aku dan Tasya pergi saja."


Untuk saat ini Danu benar-benar tidak bisa berpikir.


"Mungkin suasana baru akan membuat Tasya bisa melupakan semuanya." Mungkin ini keputusan yang terbaik bagi Mira. Ia tidak mungkin meninggalkan putrinya, meskipun tau putrinya itu bersalah.

__ADS_1


...----------------...


...Nah kan terungkap sudah, tinggal nunggu endingnya nih 🤭...


__ADS_2