
Hingga tengah malam tiba, Jessy tiba-tiba terbangun. Ia merasakan perutnya yang tidak enak, dan di detik berikutnya ia berlari ke kamar mandi karena sesuatu di dalam perutnya ingin keluar.
Nathan yang mendengar seseorang muntah seketika langsung terbangun, dan pandangan pertamanya adalah tempat di mana tadi istrinya terlelap kini sudah kosong.
"Sayang!" Ia menuju ke arah kamar mandi asal sumber suara. Betapa terkejutnya ia melihat istrinya yang susah payah berdiri dengan berpegangan pada wastafel agar tidak terjatuh.
Tidak menunggu lama, Nathan langsung menggendong Jessy dan membawanya ke ranjang. "Kita ke rumah sakit!" khawatirnya.
Tapi Jessy menolak itu. "Aku tidak apa-apa, sekarang hanya kepalaku yang pusing."
"Tapi kamu terlihat pucat."
"Tapi aku nggak mau."
Nathan menghembuskan nafasnya pelan. "Ya sudah, kamu tunggu dulu. Akan ku buatkan teh hangat," yang di angguki oleh Jessy.
Tidak lama Nathan sudah kembali dengan membawa secangkir teh hangat. "Minumlah," yang langsung di turuti oleh Jessy.
Ternyata setelah menghabiskan teh hangat buatan suaminya, membuat Jessy merasa lebih baik.
"Sekarang kamu tidur lagi," kata Nathan. Ia sendiri juga ikut naik ke ranjang kemudian memeluk tubuh istrinya.
Hujan yang turun semakin lama semakin deras.
Mata Nathan baru saja terlelap, tapi Jessy masih saja terjaga.
"Sayang!" panggil Jessy.
"Hmm," sahut Nathan dengan mata yang masih terpejam.
"Di luar hujan semakin deras."
__ADS_1
"Lalu?"
"Dingin"
Sontak saja mata Nathan terbuka kembali mendengar ucapan istrinya, pikiran mes*mnya langsung saja aktif tanpa di perintah. Ia lalu mendekap istrinya lebih erat, dan menelusup kan wajahnya di ceruk leher Jessy. "Iya, bagaimana kalau kita mencari kehangatan saja." Ia seakan lupa jika istrinya sedang tidak enak badan.
Nathan mulai menyapu kulit leher istrinya dengan lidahnya, untuk memulai pemanasan.
"Sa-yang," suara Jessy tercekat. Sentuhan suaminya membuat tubuhnya meremang. "Bu-kan kayak gini." Ternyata yang di inginkan Jessy tidak sepemikiran dengan Nathan.
Tapi Nathan tidak mau mendengarkan kata istrinya, ia tetep melanjutkan aksinya. Tangannya kini sudah berhasil bermain di area kesukaannya, di mana lagi kalau bukan di bulatan kenyal milik istrinya.
Lambat laut akhirnya Jessy terbawa arus permainan suaminya, bahkan sekarang mereka dalam keadaan polos.
"Ahhh," Satu suara indah Jessy mulai terdengar ketika Nathan menghisap salah satu bulatannya dengan rakus.
Hingga di detik berikutnya, ketika Nathan akan memulai permainan utamanya, Jessy tiba-tiba teringat dengan keinginannya tadi. "Tunggu!" ia menghentikan permainannya begitu saja, padahal adik kecil suaminya sudah sampai di gerbang rumahnya.
"Sayang, sebenarnya aku tadi ingin mie instan." ucapannya dengan wajah tanpa dosa.
"Huh!"
"Iya aku ingin mie instan, buatkan ya." Jessy berusaha menyingkirkan suaminya dari atas tubuhnya. Namun Nathan masih bergeming.
"Sayang, nanggung. Kita teruskan dulu, nanti aku buatkan." Tentu saja ini sangat konyol jika harus berhenti sekarang, sedangkan adik kecilnya sudah berdiri kokoh.
Jessy menahan dada bidang Nathan. "Aku maunya sekarang!" rengeknya.
Nathan menghembuskan nafasnya kasar. "Lalu bagaimana dengan nasibnya?" ia melihat arah batang singkong nya yang begitu sengsara.
"Nanti kita lanjutkan lagi, ok." Setelah itu Jessy benar-benar menyingkirkan tubuh Nathan dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
__ADS_1
Kesal!
Tentu saja Nathan merasa kesal, gara-gara mie instan kesenangannya harus terhenti. Ia kemudian memakai kembali pakaiannya dan berniat keluar.
"Sayang!" panggil Jessy ketika Nathan sudah di ambang pintu.
Rasa kesal yang sempat menghinggapi, kini langsung berubah. Mungkin saja istrinya itu berubah pikiran.
"Mie soto saja ya," ujar Jessy dengan tersenyum.
Tanpa menyahuti ucapan istrinya, Nathan langsung keluar kamar.
"Kenapa sih pak suami?" heran Jessy.
Sedangkan di dapur, sebelum memulai acara memasaknya di tengah malam lagi-lagi Nathan menghembuskan nafasnya ke udara. Berharap rasa kesalnya juga ikut terbuang.
Seperti permintaan istri, mie instan rasa soto sudah matang. Nathan menaruhnya di nampan beserta segelas teh hangat.
Namun begitu sampai di kamar, ia di buat kesal lagi oleh istrinya. Di mana istrinya itu sudah terlelap, bahkan terdengar dengkuran halus. "Astaga!"
Kenapa istrinya itu sangat menyebalkan malam ini, akhirnya Nathan membawa kembali makanan itu ke dapur dan membiarkan istrinya terlelap.
Baru saja Nathan menaiki tangga, terdengar bel rumah Mariam yang berbunyi. "Siapa tengah malam yang bertamu?"
Namun ia tetap akan membukakan pintu.
Klek.
"Maaf kak, mengganggu." Ternyata Raka dan Meili yang bertamu, tapi dengan keadaan Meili yang basah kuyup.
...----------------...
__ADS_1
...Untuk Meili dan Raka ini akan di jelaskan di kisah mereka ya gengs 😁...