
"Sayang itu salah!" Mira tidak menyangka putrinya bisa mengatakan itu.
Tadi ia niat hati ingin melihat keadaan Tasya yang seharian mengurung diri di kamar. Tumben sekali di hari libur sekolah setelah ujian putrinya itu justru hanya berdiam diri di kamarnya.
Tapi yang ia lihat, keadaan Tasya yang cukup mengkhawatirkan. Dengan wajah yang sedikit pucat dan mata yang begitu sembab, setelah ia memaksanya untuk bercerita, ternyata ia begitu terkejut mendengar perkataan Tasya. Di mana gadis itu mengakui jika ia menyukai suami dari kakak tirinya.
Jelas saja Mira tidak bisa menerima itu, meskipun Jessy bukan anak yang terlahir dari rahimnya namun ia tidak pernah membedakan kasih sayangnya dengan Tasya.
Meskipun Tasya hanya tau jika Nathan tunangan Jessy, tapi setidaknya ia tahu jika laki-laki itu sudah mempunyai ikatan dengan kakaknya.
Tasya semakin menangis sesenggukan melihat tanggapan dari ibunya. Ia sendiri tidak menyangka jika cintanya kepada Nathan semakin berkembang di dalam hatinya. "Tapi Tasya sangat menyukai Kak Nathan Ma," di sela isak tangisnya. "Tasya tidak tau lagi bagaimana caranya menghilangkan perasaan itu."
Melihat setiap hari laki-laki yang di cintai nya mengantarkan kakaknya pergi sekolah, membuat ia semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya.
"Mama tau menyukai seseorang itu tidak salah, tapi tempat kamu memberikan hati itu yang salah." jelas Mira mencoba menasehati. "Mama harap kamu bisa melakukannya."
Hingga tak lama Danu datang menghampiri mereka, ia tadi penasaran obrolan apa yang di bahas oleh istri dan anaknya karena terlihat begitu serius. "Sayang!" panggil nya pada Mira.
Tasya seketika memalingkan wajahnya dan mengusap air matanya.
Sedangkan Mira mencoba untuk bersikap tenang, tentu saja ia tidak mau suaminya tau tentang apa yang sebenarnya terjadi. "Iya Pa!"
"Kalian sedang mengobrol kan apa? Sepertinya sangat seru!" Ia melihat Mira dan Tasya bergantian.
"Tasya hanya bertanya tempat untuk liburan."
"Kenapa tidak di vila saja?" Danu memberikan saran. "Bagaimana Nak?"
__ADS_1
Tasya hanya tersenyum tipis kemudian menganggukkan kepalanya. Mungkin dengan berlibur hatinya akan sedikit lebih tenang.
*
*
Hari berlalu begitu saja, dan hari ini adalah hari di mana Jessy akan wisuda.
"Terima kasih," ucapnya pada MUA yang sudah merias wajahnya hingga cantik seperti ini. Setelah perias itu keluar, ia menatap pantulan dirinya pada cermin.
Kebaya modern melekat sempurna pada tubuhnya, bahkan kebaya warna putih itu membuat dirinya seperti pengantin yang akan melangsungkan ijab qobul. "Jadi inget dulu," gumamnya sambil tersenyum.
Ia menakupkan kedua tangannya pada pipinya, tiba-tiba saja rona merah muda itu terlihat.
Ketika berniat untuk pergi, ternyata Nathan lebih dulu masuk ke dalam kamar.
"Kenapa sih?" Jessy menjadi salah tingkah karena Nathan yang terus menatap nya.
Nathan menggelengkan kepala, ia semakin mendekat ke arah istrinya. "Tidak bisakah waktu wisudahnya di undur?" ia semakin menghapus jarak di antara mereka.
Sedangkan Jessy menautkan kedua alisnya karena tidak mengerti.
"Aku ingin," kata Nathan hingga kedua bibir mereka sudah saling bertemu.
"Eungh," lenguhan Jessy begitu saja keluar di sela-sela aktivitas mereka ketika ia merasakan tangan suaminya yang sudah berada di salah satu bulatannya. Namun kemudian ia menarik kesadarannya kembali sebelum mereka semakin jauh, apalagi mengingat mereka sebentar lagi akan berangkat ke sekolah.
"Sayang!" Jessy berhasil melepas tautan bibir mereka, tentu saja menyisakan nafas yang tak beraturan. Dan lihatlah sekarang lipstik yang tadi sudah terlukis indah di bibirnya, sekarang terbagi di bibir suaminya. Seketika saja ia merasa kesal. "Lipstiknya jadi berantakan!" sungutnya.
__ADS_1
"Huh!"
"Gara-gara kamu, lipstiknya jadi berantakan!" Jessy memutar tubuhnya ke arah meja rias dan melihat riasanya kembali.
Sedangkan Nathan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia hanya bisa diam melihat istrinya yang masih menggerutu sambil memoleskan lip ice.
"Ya sudah ayo," ajak Jessy setelah merasa riasannya sudah cukup rapi. Sebenarnya ia sendiri juga tidak nyaman memakai riasan seperti itu, kalau saja bukan hari wisuda mana mungkin ia mau berdandan seperti itu.
Nathan hanya mengekori langkah istrinya.
Hingga kemudian langkah Jessy terhenti di anak tangga terakhir, lantas senyumnya mengembang sempurna. Melihat keluarga suaminya yang sudah tiba di rumah neneknya, dan mereka semua ternyata sudah siap untuk menemaninya hadir di acara wisudanya.
Perjalanan yang sebenarnya tidak begitu lama untuk menuju ke sekolah, kini harus terasa begitu lama. Dan penyebabnya itu adalah Jessy.
Sedari tadi ada saja ulah Jessy untuk memberhentikan mobil, mulai ada yang terlupa hingga kembali ke rumah. Ingin buang air kecil hingga berhenti di pom bensin, dan yang sekarang ia memberhentikannya lagi.
"Sayang!" panggil nya pada Nathan yang mengemudi mobil. Mereka menggunakan mobil Papi Nathan karena bisa muat untuk semuanya.
"Apalagi sekarang?" Bukan Nathan yang menyahuti, melainkan Nenek Mariam yang mulai kesal dengan ulah cucunya.
"Mau bubur ayam," tunjuk jessy pada pedagang bubur ayam.
"Gustiiii," kesal Mariam.
...----------------...
...Jangan lupa dukungannya gengs 🥰...
__ADS_1