Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Firasat


__ADS_3

"Kalian mau pergi sekarang?" Mariam menatap pasutri muda itu yang sudah rapi.


"Iya," sahut Jessy.


Ia dan Nathan akan menghadiri acara prom night hanya berdua, karena Meili masih merasakan pusing akibat demam. Hingga terpaksa Meili melewatkan acara itu.


"Ya sudah kalau begitu, kalian hati-hati di jalan. Jangan pulang terlalu malam." pesan Mariam.


"Iya Nek, kalau begitu kami pergi sekarang." Nathan dan Jessy berpamitan.


Di jalan menuju sekolah, Jessy hanya diam saja. Ia seperti merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Tapi entah itu apa! Ia tidak tau.


"Kenapa?" Pertanyaan Nathan membuyarkan lamunan Jessy.


"Nggak tahu, tapi aku ngerasa ada yang nggak enak."


"Kamu nggak enak badan?"


"Bukan nggak enak badan," sahut Jessy. Kemudian ia menyentuh dadanya. "Perasaanku yang tiba-tiba nggak enak, ada rasa takut yang nggak aku ketahui penyebabnya."


Nathan kemudian menggenggam tangan istrinya yang sedang gelisah. "Berdoa saja, semoga semuanya baik-baik saja."


Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai Nathan sudah memasuki pekarangan sekolah. Di sana rupanya sudah terlihat ramai, sepertinya semua murid begitu antusias dengan acara prom night.


Dan kehadiran pasutri itu sontak saja menyita perhatian semua murid.


Bagaimana tidak, Nathan dan Jessy malam ini terlihat begitu memukau. Banyak yang iri melihat mereka begitu serasi, mereka tidak menyangka jika hubungan sang mantan ketos masih langgeng setelah setahun berlalu.


"Mereka cocok banget sih!"

__ADS_1


"Iya, jadi iri aja ngelihatnya."


"Nggak nyangka hubungan mereka masih awet."


"Kak Nathan memang benar-benar setia."


Semua murid berkasak kusuk setelah pasangan fenomenal itu berjalan melewati mereka.


Setengah jam sudah Jessy berada di sana, namun ia masih saja merasakan perasaan yang sama. Bahkan dentuman musik tidak mampu membuatnya lupa tentang itu.


"Sayang!" panggilnya pada Nathan.


Nathan yang sedang berbicara pada salah satu temannya dulu yang juga ikut hadir segera menoleh pada istrinya. "Kenapa?"


"Aku ingin pulang." Jessy benar-benar merasa tidak tenang, mungkin dengan pulang ke rumah akan membuatnya sedikit lebih baik.


Nathan menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan istrinya. "Sebentar." Setelah itu ia berpamitan kepada temannya. "Ya sudah ayo."


Mau tidak mau mereka akhirnya menghampiri.


Jessy yang melihat itu merasa sungkan jika harus mengajak suaminya pulang, hingga ia akhirnya diam-diam ia memesan taksi online.


Beberapa saat kemudian, Jessy mendapat pesan jika taksi yang ia pesan sudah sampai di depan gerbang sekolah.


"Nathan, aku ke kamar kecil dulu!" yang di angguki suaminya.


Jessy bergegas berjalan menuju taksinya menunggu.


Di dalam taksi, ia baru mengirimkan pesan kepada suaminya jika harus pulang terlebih dahulu.

__ADS_1


*


*


"Sayang, kamu di rumah saja ya. Lagi pula Mama tidak ada yang menemani di rumah, papa kan belum pulang." Mira melihat Tasya yang sepertinya akan bersiap pergi ke acara sekolahnya.


Tasya menoleh ke arah ibunya, ia tersenyum tipis. "Mama sebenarnya memang tidak mau Tasya pergi kan!" tebaknya.


Semenjak Mira memberi pengertian terhadapnya beberapa hari lalu, hubungannya dengan sang ibu memang sedikit merenggang. Apalagi kalau bukan ia yang merasa bahwa sang ibu lebih menyayangi kakak tirinya.


Mira mencoba setenang mungkin menghadapi sikap anaknya yang tidak stabil beberapa hari ini. "Bukan seperti itu, Mama memang ingin kamu temani di rumah."


"Mama tidak perlu berbohong! Mama takut aku bertemu dengan Kak Jessy dan Kak Nathan kan?"


"Tidak sayang."


"Kenapa sih, Mama selalu belain Kak Jessy? Padahal yang anak kandung Mama itu aku."


"Tasya, kamu dan kakak kamu itu sama-sama anak Mama. Tidak ada yang namanya membeda bedakan."


Mata Tasya memanas mendengar itu, karena ia menyakini jika ibunya lebih menyayangi kakaknya. Ia pergi begitu saja meninggalkan ibunya.


"Tasya!" Mira mencoba mengejar kepergian putrinya yang sekarang masuk ke dalam mobil. "Kamu mau kemana sayang?" Ia mulai khawatir. Apalagi melihat mobil itu perlahan melaju pergi, ia takut terjadi sesuatu karena putrinya dalam keadaan emosi.


"Cepat siapkan mobil" teriak Mira, ia akan menyusul Tasya pergi.


Di dalam mobil, air mata Tasya tidak pernah berhenti mengalir. Hatinya begitu sakit, mengingat semua orang berpihak kepada kakaknya. Ia terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, tujuannya sekarang ke suatu tempat yang mungkin saja bisa mengubah semuanya.


Beberapa saat kemudian mobil Tasya sudah sampai di halaman rumah yang di dominasi tanaman bunga anggrek. Ia segera turun untuk menemui pemilik rumah.

__ADS_1


...----------------...


...Siapkan hati dan mental kalian gengs 🤭...


__ADS_2