Kawin Gantung Dengan Ketos

Kawin Gantung Dengan Ketos
Terima Kasih


__ADS_3

Senyuman tampan jelas saja terlihat di wajah Nathan, meskipun belum ada ungkapan cinta di antara mereka setidaknya itu akan tumbuh dengan seiring waktu. Bukankah ada yang mengatakan cinta tumbuh karena terbiasa!


Nathan segera menarik Jessy dalam pelukannya, tidak ada yang bisa ia ungkapkan untuk menggambarkan apa yang ia rasakan.


Sontak saja itu membuat Jessy terkejut mendapat perlakuan seperti itu secara tiba-tiba, tapi ia juga tidak menolak. Karena dia sudah menyetujui untuk membawa hubungan mereka agar lebih baik lagi.


Hingga beberapa saat, pelukan hangat itu terlepas. Tanpa sengaja tatapan mereka berdua bertemu. "Terima kasih," ucap Nathan tulus. Karena istrinya juga ingin hubungan mereka berubah lebih baik lagi.


Seperti sebelumnya, bibir Jessy hanya terkunci rapat. Hanya bibirnya yang melengkung membentuk senyuman sebagai balasan kata suaminya, dan rona pipi yang semakin terlihat jelas.


Entah karena perkembangan baru dalam hubungannya atau apa yang membuat Nathan tiba-tiba semakin mengikis jarak di antara mereka. Bahkan pandangannya hanya tertuju pada satu tujuan, yaitu bibir pink Jessy yang begitu menggodanya.

__ADS_1


Jessy yang melihat pergerakan suaminya ingin sekali menghindar, karena rasa malu akibat kejadian tadi pagi tiba-tiba merasukinya kembali. Sayangnya tubuhnya tak sejalan dengan apa yang ada di pikirannya, Jessy justru memejamkan mata ketika suaminya itu semakin mendekat.


Seperti mendapat persetujuan dari istrinya, Nathan tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Hingga di detik berikutnya, dua bibir itu sekarang sudah bertemu untuk bersilahturahmi.


Cup.


Jessy pikir kali ini ciumannya akan sama seperti sebelumnya, hanya saling menempel. Tapi ia salah, tangan Nathan justru sekarang sudah berada di tengkuknya, menahannya seolah tak membiarkannya untuk melepaskannya.


Jessy merasakan jantungnya semakin berdetak kencang, padahal ia hanya diam saja menikmati apa yang suaminya lakukan. Tentu saja karena tiba-tiba otaknya yang melemah dengan sendirinya mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya. Bahkan tangannya tanpa sadar meremas kuat seram Nathan, menyalurkan rasa baru yang ia rasakan. Jika bisa di jelaskan, mungkin rasanya jantungnya akan meledak karena tidak mampu menahan debarannya.


Hingga beberapa saat, tautan bibir itu terlepas karen Nathan mengakhirinya. Ia melihat mata indah istrinya yang masih terpejam, dengan nafas yang tidak beraturan seperti dirinya. Tangannya yang tadi berada di tengkuk Jessy kini beralih pada bibir istrinya yang terlihat basah dan sedikit membengkak karena ulahnya. "Maaf, dan Terima kasih." Sembari mengusapnya.

__ADS_1


Mata Jessy seketika terbuka, dan pertama yang kali ia lihat adalah wajah tampan suaminya yang sekarang tersenyum tampan padanya. Sontak saja ia langsung menurunkan pandangannya, mengingat kejadian beberapa saat lalu yang ia lakukan dengan suaminya. Jika saja ia bisa bercermin sekarang, sudah di pastikan jika bukan hanya pipinya yang memerah, pasti sekarang seluruh wajahnya juga ikut memerah.


"Hei!" Nathan mencoba mempertemukan pandangan mereka. "Ada apa?" Ia sepertinya ingin menggoda istrinya yang tidak berani menatapnya. Jelas saja Jessy masih tidak berani untuk menatapnya. "Kenapa? Apa masih kurang?"


Perkataan Nathan langsung membuat mencebikkan bibirnya. Bisa-bisanya suaminya itu berkata seperti itu.


"Bibirnya jangan begitu!" kata Nathan. "Nanti kalau gue mau lagi gimana?" ucapnya dengan senyum menggoda.


"Ish," Jessy memukul pelan tangan suaminya. "Ya udah, kalau begitu gue keluar aja!" sungutnya. Ia tidak mau semakin di goda oleh suaminya. Tapi ternyata suaminya itu masih saja menahannya di dalam mobil.


Cup.

__ADS_1


Kali ini Nathan mencium kening Jessy. "Terima kasih."


__ADS_2