
***
Di rumah Tika, saat itu sedang ada Fachriel, dede bayi dan bapak tua itu. Fachriel yang sedang mengurus dede bayi yang bernama Michael itu terus rewel.
Itulah pekerjaan Fachriel setiap hari, semenjak ia lumpuh akibat kecelakaan itu, ia tidak bisa bekerja lagi, kebutuhan sehari-hari keluarga mereka mengandalkan penghasilan Tika menjadi seorang suster.
Walaupun dalam hatinya ia tidak mau mengurus Michael, anak yang sebenarnya tidak ia inginkan keberadaannya, namun ia tidak bisa apa-apa, mana mungkin Michael di bawa kerja oleh ibunya, bisa-bisa ia di pecat, jika Tika di pecat maka dari mana mereka memenuhi kebutuhan hidupnya.
Seringkali ia kesal jika Michael rewel terus, tidak jarang juga ia membiarkan Michael nangis sendirian jika ia sudah pusing menenangkannya namun nangisnya tak kunjung berhenti.
Perekonomian keluarganya sangat sulit, uang hasil dari Tika kerja tidak mencukupi, apalagi setelah datangnya bapak tua itu yang hanya nambah beban hidup saja.
Bapak tua yang entah siapa dan entah dari mana, bapak tua yang depresi dan tak jelas asal usulnya, bisanya cuma nyusahin dan numpang makan pada mereka.
"Heh kamu mau kemana?"
Tanya Fachriel yang melihat bapak tua itu berjalan hendak pergi, namun seperti biasanya, bapak tua itu tidak berbicara sedikitpun, seolah tidak mendengarkan apa yang Fachriel katakan, melihat itu nafsunya naik, amarahnya membara, kemudian ia memajukan kursi rodanya dan menarik tangan bapak tua itu.
__ADS_1
Mungkin karena refleks bapak tua itu menepak tangan yang menariknya sangat keras dan tangan itu kena ke kursi roda yang membuat kursi roda itu berjalan tanpa arah dan kejeduk pada dinding yang mengakibatkan Fachriel terpental.
"Berani kamu saya hah?"
Teriak Fachriel dengan penuh amarah, kemudian memaki-maki bapak tua itu sampai ia puas.
Bapak tua itu hanya terdiam tanpa merespon sedikitpun, mungkin ia trauma berat atas apa yang terjadi padanya sehingga ia mengalami depresi akut.
Kemudian dengan sekuat tenaga ia berusaha berdiri untuk bisa sampai pada kursi rodanya.
Fachriel sangat bahagia sekali, karena sekarang ia sudah bisa berjalan, tali ia rasa kehidupannya yang setiap hari diam di rumah dan di layani istrinya itu sudah cukup menyenangkan, sampai ia merasa nyaman.
"Ah rasanya biarkan aku pura-pura lumpuh saja, kehidupanku saat ini sudah menyenangkan, aku tidak perlu capek-capek bekerja dan semua yang aku butuhkan di layani oleh istriku"
Ucap Fachriel bahagia dalam hatinya, dengan niat jahatnya, ia tidak ingin capek-capek bekerja lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, biarkan saja istrinya yang bekerja keras untuk memenuhi itu semua.
Ia rasa kehidupan yang selama ini ia alami selama lumpuh itu lebih menyenangkan, bukankah hidup yang serba di layani itu lebih enak, mau apapun di ambilkan, ia tidak harus capek-capek melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Ia rasa juga tidak akan ada yang tahu tentang ia yang sudah bisa berjalan kembali, di rumah itu hanya ada Michael dan bapak tua itu, sudah bisa di pastikan bahwa mereka berdua tidak akan mengadu apapun pada istrinya.
"Mungkin selama Tika tidak ada di rumah, aku tidak perlu menggunakan kursi roda" Ucap Fachriel sambil menyingkirkan kursi roda yang di depannya.
"Apa kamu lihat-lihat?" Bentak Fachriel pada bapak tua itu yang dari tadi terus melihat ke arahnya.
.
.
.
Hallo Reyreader, gimana nih ceritanya? Makasih ya yang udah setia sampai part ini. Gimana-gimana mau gak punya suami tipe si Fachriel?
Yu ikuti terus ceritanya 🐾
Mon mff masih banyak typo 🙏
__ADS_1