Kecanduan Bercinta

Kecanduan Bercinta
Tindakan


__ADS_3

Rifki dari tadi hanya bisa duduk melamun dalam mobil, ia terus memikirkan keadaan istri dan anak yang di kandungnya, ia tidak bisa terima jika terjadi sesuatu menimpa mereka.


Dari tadi, mobil tidak bisa maju sedikitpun, di belakang juga penuh sehingga tidak memungkinkan mereka putar balik.


Andai saja ia tadi tidak pergi dan memilih menemani istrinya kepasar mungkin ia bisa melindungi istri tercintanya dan mungkin sang istri tidak akan jadi seperti ini.


Rifki terus menyalahkan dirinya, rasanya ada yang mengganjal pada dirinya, ia tidak bisa tenang, pikirannya terus melayang, namun penyesalannya itu tidak ada gunanya sama sekali, karena ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Tak terasa, butiran air mata berjatuhan membasahi pipinya, walaupun ia sudah berusaha tegar, namun ia juga manusia.


Sang ayah hanya bisa diam melihat kesedihan yang melanda anaknya, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia yakin rasa cinta Rifki pada istrinya begitu dalam sampai-sampai ia lihat dari tadi anaknya terus menangis, padahal sebelumnya Rifki ini jarang menangis walaupun dalam suasana sesedih apapun.


Rifki terus mengecek handphone papanya, berharap ada chat dari mamanya mengabarkan kondisi terkini istrinya, ia juga terus melihat jam, jangan sampai ia berada di dalam macet panjang lebih dari 3 jam.


Rasanya ia sudah tidak tahan, andai saja ia bisa terbang, mungkin sekarang ia sudah bisa melewati macet ini, dan bertemu dengan istrinya.

__ADS_1


Ia juga berfikir untuk berjalan, karena cuma itu yang bisa ia lakukan, namu papanya larang, bagaimana mungkin, itu hanya akan memperlambat waktu saja, jarak dari kota ke kampung itu jauh, dan tidak akan mungkin Rifki bisa berjalan kurang dari 3 jam.


***


Di Rumah Sakit, Bu Mira dari tadi panik kebingungan, tindakan apa yang akan ia ambil, bagaimana mungkin ia hanya berdiam saja, ia tidak mau jika terjadi sesuatu pada menantunya itu.


Suster dari tadi bulak-balik menanyakan keputusan dari keluarga Santi, setuju atau tidaknya, karena tindakan harus segera di lakukan.


Kepala Bu Mira benar-benar pening, ia tidak tahu harus bagaimana, ia tidak tahu harus bertindak apa-apa, ia tidak tahu, pikirannya mumet sekali.


Suster keluar dari ruang rawat dengan wajah panik, ia memberitahukan bahwa keadaan Santi tidak baik-baik saja. Keluarga pasien harus segera memutuskan antara di ambil tindakan atau di biarkan. Karena kondisi Santi benar-benar sangat memprihatikan, jika tidak segera di ambil tindakan, maka pihak rumah sakit tidak mau bertanggung jawab jika janin yang berada dalam kandungan Santi keguguran.


Mendengar kemungkinan yang akan terjadi membuat Bu Mira hanya bisa berdiam, ia tidak mau itu semua terjadi, tapi ia juga tidak punya uang untuk membayar administrasi supaya Santi segera di beri tindakan.


Bu Mira sudah memohon-mohon untuk Rumah Sakit memberikan keringanan, setidaknya sampai Pak Guntur datang administrasi akan di lunaskan, ia janji akan bayar ketika suaminya sudah datang, asalkan Santi segera di beri tindakan.

__ADS_1


Namun apa yang terjadi?, lagi-lagi tidak bisa, suster hanya bisa meminta maaf karena itu sudah prosedur dari Rumah Sakit yang tidak bisa ia langgar.


.


.


.


Ayolah Rifki dan Pak Guntur segera pulang, kasihan Santi dan anak yang di kandungnya.


Yu ikuti terus ceritanya 🐾


Mon mff kalo masih banyak typo 🙏


Jangan lupa like semuanya, terimakasih yang sudah baca sampai sejauh ini✨

__ADS_1


__ADS_2