
Sudah beberapa hari berlalu, sedikit demi sedikit Santi sudah mulai dapat membuka hatinya untuk Rifki. Memang itu sulit namun Santi akan mengusahakan nya.
Pagi ini mereka semua akan pergi ke kampung halaman Santi. Mereka membawa semua barang-barang yang kira nya akan di butuh mereka untuk pernikahan Rifki dan Santi nanti.
Sengaja memang orang tua Santi tidak di beritahu bahwa mereka akan kesana, Santi pikir nanti jika di telpon sekarang pasti orang tua Santi akan meminta penjelasan yang panjang lebar. Jadi nanti saja ketika sudah sampai Santi menjelaskan nya.
Mobil berwarna hitam yang mereka tumpangi melaju menyusuri jalan pedesaan, Pak Guntur memilih untuk di satu mobil kan, mengingat Rifki dan Santi nantinya tidak ikut pulang, mereka berdua akan tinggal di sana.
Untuk sampai ke rumah Santi mereka harus melewati pegunungan yang jalannya banyak tanjakan curam, yang membuat hati mereka was-was. Untungnya mereka membawa supir yang sudah handal dan berpengalaman dalam keadaan apapun.
Setelah melewati pegunungan, mereka juga harus melewati pesawahan yang jalannya sempit. Walaupun mereka masih was-was, tapi mereka di sana pikirannya mulai berpindah ketika melihat di sebelah kanan jalan sana ada pemandangan yang indah.
Pesawahan yang hijau, di tambah dengan saung-saung kecil, sungai yang mengalir dari atas gunung di atas sana yang juga terlihat indah. Burung-burung dan capung berwarna-warni berterbangan, yang membuat suasana semakin indah.
Santi di sana sambil memberitahu nama-nama tempat di kampung itu. Ia begitu kenal dengan tempat ini karena rumahnya sudah dekat dari sana.
Mereka pikir saat ini mereka sedang berwisata, karena pemandangan yang ada di kampung ini juga tidak kalah dengan tempat-tempat rekreasi lain. Mereka pikir kenapa tidak di jadikan wisata saja disini?. Mungkin karena tidak ada yang memberi dana.
Setelah menyusuri jalanan sempit di tengah sawah itu sekarang untuk sampai ke rumah Santi mereka harus berjalan kaki, karena akses jalan kesana tidak masuk mobil.
__ADS_1
Saat ini mereka harus melewati jembatan gantung yang alas nya hanya dari bambu. Jembatan itu hanya boleh di lewati oleh 2 orang bareng. Jadi mereka harus ngantri dulu.
Di sana Pak Guntur dan Bu Mira mulai berjalan, dengan susah payah Pak Guntur membantu Bu Mira untuk sampai ke sana.
Saat ini giliran Rifki dan Santi, mereka mulai berjalan pelan-pelan di jembatan itu. Tiba-tiba jembatan itu bergoyang oleng. Santi memang sudah terbiasa dengan keadaan itu, ia sudah tidak takut.
Namun Rifki saat ini ia ketakutan, jantungnya berdebar-debar, bukan karena dekat dengan Santi tapi karena takut jembatannya roboh.
"Santi, tolong aku!, ini gimana?, Aku takut." Teriak Rifki.
"Halah gitu aja takut, lemah banget ya kamu itu. Badan aja kekar, eh tahu nya gak punya nyali" jawab Santi mengejek di keadaan ketar-ketir itu.
"Nanggung ih, ini udah di tengah-tengah" jawab Santi memberitahu.
"Sini aku bantu" Santi merasa kasihan, jarang-jarang Rifki meminta tolong padanya.
Santi pun menggandeng tangan Rifki dengan kuat akar Rifki tidak terbawa oleng. Rifki makin berdebar-debar jantungnya, yang pertama karena ia takut yang kedua karena ia tidak menyangka di balik kebencian Santi ada rasa peduli oadanya. Keadaan seperti itu ingin rasanya terjadi ketika tidak dalam keadaan seperti itu. Tapi yak sudahlah. Mereka akhirnya berhasil menyebrangi sungai tersebut.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Apakah akan tumbuh benih cinta dalam hati Santi?
Yu ikuti terus cerita nya 🐾
Jan lupa follow ig author @reeyanraa
Mon mff kalo masih banyak typo 🙏
__ADS_1