
Setelah selesai melakukan adegan panas itu kemudian mereka tertidur pulas malam itu.
Hari telah berganti, pagi hari pun tiba, setelah selesai sholat berjamaah kemudian meteka berdua beres-beres rumah. Santi menyapu halaman sedangkan Rifki menyapu lantai rumah. Entah dari kapan Rifki bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi sepertinya semenjak ia menikah dengan Santi sudah banyak perubahan yang lebih baik yang terjadi pada diri Rifki.
Tiba-tiba by dari arah depan rumah terdengar suara jeritan yang sangat keras. "Awwww aduh tolong".
Mendengar itu Rifki yang sedang menyapu di dapur ia buru-buru pergi ke halaman depan karena ia takut istrinya kenapa-kenapa. Ia yakin suara itu adalah suara Santi.
Begitupun dengan Pak Agus, ia buru-buru keluar dari kamarnya untuk melihat kejadian yang terjadi.
"Ya alloh Yang kamu kenapa?." Ucap Rifki panik yang melihat Santi terdampar di tanah. Sepertinya ia terpeleset dan terjatuh ketika menyapu tadi.
"Cepat bawa dia ke Rumah Sakit takut bayi yang dalam kandungannya kenapa-napa." Teriak pak Agus yang sedang berdiri di pintu rumah dan syok melihat kejadian itu.
Pak Guntur dan Bu Mira yang mendengar ada suara gemuruh panik itu kemudian keluar rumah dan ketika ia keluar ia juga syok melihat menantunya yang terdampar di tanah dengan darah yang mengalir menuju betisnya.
"Kita harus cepat-cepat bawa dia ke Rumah Sakit." Ucap Bu Mira.
"Ki ayo cepat, kita pake mobil papa aja, mobilnya ada di sana di seberang jembatan jadi kamu harus menggendong nya dulu dari sini" Kata Pak Guntur sambil membantu mengangkat badan Santi.
Dengan sekuat tenaga dan sebisa mungkin mereka berusaha membawa Santi secepatnya ke Rumah Sakit. Namun, karena jarak antara Rumah dan Rumah Sakit umum itu jauh jadi mereka lebih memilih untuk membawanya ke Rumah Sakit karena jika Santi tidak cepat di tangani oleh tenaga medis mereka takut kenapa-kenapa pada Santi dan bayi yang di kandungnya.
__ADS_1
Rifki yang menyetir mobil itu ia berusaha membawa mobil secepat mungkin, walaupun terkadang ia juga harus pelan-pelan mengingat jalan di sana yang tidak baik.
"Itu di depan ada apa pah?" Tanya bu Mira yang melihat ada kerumunan di depan Sana.
Banyak bapak-bapak ibu-ibu yang berkerumun di saba, sepertinya di tengah jalan itu terjadi sesuatu.
Mobil melaju cepat hingga mereka harus berhenti karena terhalang oleh kerumunan itu.
"Ini ada apa pah?" Tanya Rifki yang sudah mulai panik karena terhalang oleh kerumunan itu, bagaimana dengan nasib anak dan istrinya jika kerumunan itu tidak cepat bubar.
"Papa turun dulu, mau lihat ada apa yang terjadi di sana" Kata pak Guntur sambil turun dan melihat yang terjadi. Sepertinya ada sesuatu di kerumunan itu, walupun pak Guntur sudah berbincang-bincang kelihatannya namun kerumunan itu tidak kunjung bubar.
"Ki, kita tidak bisa lewat sini" Ucap Pak Guntur sambil kembali naik ke dalam mobil.
"Jalannya terhalang oleh pohon tumbang jadi mau tidak mau kita tidak bisa lewat sini." Ucap Pak Guntur menjelaskan sesuai dengan yang terjadi.
"Lah terus kita ini gimana pah? Ini Santi gimana? Mamah takut dia kenapa-kenapa kalo kita harus muter muter terus" Sahut Bu Mira panik.
"Mau gak mau kita harus cari jalan lain." Jawab Pak Guntur sambil berusaha menenangkan kepanikan Bu Mira.
"Di sini tidak ada jalan lagi menuju puskesmas. Hanya jalur ini satu-satunya, jadi mau gak mau kita harus berjalan kaki" Ucap Pak Agus.
__ADS_1
"Ya udah biar Santi aku yang gendong aja ke puskesmas." Jawab Rifki sambil keluar dari mobil dan menuju tempat duduk Santi.
"Biar kalian semua nanti nyusul saja" Sambungnya.
"Tapi Ki...." Ucap Bu Mira yang tidak tega.
"Sudah, ini jalan satu-satunya" Jawab Rifki sambil menggendong Santi.
.
.
.
.
Bagaimana kandungan keadaan mereka berdua?
Apa yang terjadi?
Apa benar cuma kepleset?
__ADS_1
Yu ikuti terus cerita nya 🐾
Mon mff kalo masih banyak typo 🙏