
Part ini mengandung adegan 18+ untuk yang tidak suka boleh di skip!
Part Sebelumnya
Dengan ragu-ragu kemudian Santi tangannya sekarang bergerak ke atas menyusuri kaki laki-laki itu. Sekarang tangan Santi sudah memegang paha Rifki yang tertutupi oleh kain sarung itu.
Hati Rifki dag dig dug, apakah ini akan terjadi?. Pagi itu hasrat Rifki begitu memuncak. Tangan halus yang sedang menyusuri isi dalam sarungnya itu membuat ia tidak tahan lagi rasanya.
"Tok, tok, tok" suara ketukan pintu kamar yang seketika membuat Santi terkejut dan mengeluarkan tangannya dari dalam sarung Rifki yang baru saja menyentuh pahanya.
. . . .
Kemudian Santi berjalan menuju pintu kamar.
"Alhamdulillah aku jadi ada alesan gak mau pijat juniornya si cowok mesum itu" Ucap bahagia Santi dalam hati.
"Siapa sih itu?, Ganggu aja" Gerutu Rifki dalam hati.
Kemudian Santi membuka pintu kamar itu. Terlihat ayahnya yang sedang berdiri di depan pintu.
"Ya alloh ayah, kaya gak pernah muda aja, pake mengganggu orang, padahal kan sebentar lagi bisa ..." Ucap Rifki dalam hati penuh dengan kekecewaan.
"Ayah ada apa?" Tanya Santi.
"Tadi nya ayah mau titip ibumu, tapi gak jadi" Jawab Pak Agus.
"Loh kenapa yah?" Tanya Santi lagi.
"Takut ganggu kalian berdua." Jawab Pak Agus dengan nada menggoda sambil senyum tipis.
__ADS_1
Padahal dalam hati Santi ia sudah senang karena mungkin ini kesempatannya supaya tidak melakukannya dengan Rifki. Karena jika ia terus berada di kamar itu bisa-bisa Rifki terus menggoda nya.
"Enggak ko yah, gak ngeganggu sama sekali" Jawab Santi.
"Alah jangan bohong, Suami kamu tuh masih pake kain sarung sambil menunggu kamu. Sebelum mandi lanjut lagi yang semalam." Goda Pak Agus dengan senyum-senyum.
"Ini aku udah mandi yah, jadi aku mau rawat ibu" Jawab Santi.
"Rambutnya juga masih kering. Gak usah malu-malu ayah juga pernah muda. Udah lanjut sana!" Pak Agus terus menggoda Santi.
*Menggoda disini punya arti lain. Bukan menggoda layak nya seorang kekasih.
Pak Agus kemudian pergi meninggalkan kamar itu. Dan Santi pun kemudian pergi ke kamarnya lagi.
"Emang ayah kamu tuh pengertian banget ya" Ucap Rifki kepada Santi.
"Arggggggh ini kenapa sakitnya gak hilang-hilang" Rifki memasang muka kesakitan nya untuk memancing simpati Santi.
"Jangan keras-keras ngomongnya malu sama orang lain" Ucap Santi.
"Bodoamat, kamu gak ngerasain sih gimana sakitnya" Jawab Rifki.
"Terus aku harus bagaimana?" Pertanyaan itu keluar lagi dari mulut Santi.
"Pijit lagi" Jawab Rifki dengan suara halusnya itu.
"Ngomongnya gak usah gitu bisa gak sih? Jijik gue dengernya" Ucap Santi kesal.
"Yang sopan kalo ngomong sama suami tuh" Kata Rifki dengan muka datarnya.
__ADS_1
"Ya Maaf" jawab Santi.
Rifki terus meminta Santi untuk memijat pusaka miliknya itu, dan dengan terpaksa Santi pun berusaha memijitnya walaupun Santi hanya memijit paha Rifki. Ia belum berani menggeser tangannya ke yang lebih atas.
"Semoga aja nanti dia bisa terangsang dan mau melakukannya" Kata Rifki dalam hati dengan penuh harapan.
Karena Rifki terus meminta ia memijit ke atas akhirnya Santi pun memberanikan dirinya untuk menggeser sedikit demi sedikit tangannya itu. Ia pikir mereka juga sudah suami istri jadi mungkin jika seandainya ia memegangnya tidak akan jadi masalah.
Sentuhan dan elusan dari lembutnya tangan Santi membuat Rifki tidak tahan menahan hasratnya itu. Juniornya di bawah sudah berdiri. Memang dari tadi rasa sakit itu sudah hilang, semua yang di katakan Rifki hanya akal-akalannya saja.
Santi tangannya terus bergeser ke atas, hingga ia mengepal bagian tubuh yang mengeras itu. Dan itu membuat pikiran Santi tidak karuan, tidak bisa di pungkiri memang Santi berusaha tidak melakukannya namun tidak bisa di pungkiri ia juga wanita normal yang membutuhkannya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.
.
.
.
.
.
Bagaimana kisah mereka?
Yu ikuti terus cerita nya 🐾
Jan lupa follow ig author @reeyanraa
Mon mff kalo masih banyak typo 🙏
__ADS_1