Kecanduan Bercinta

Kecanduan Bercinta
Tak bisa Memaafkan


__ADS_3

Rifki kemudian berjalan ke dapur dengan gembira. Ia tidak sabar ingin memberitahukan kamar baik ini kepada istrinya. Di susul dengan Pak Guntur dan Bu Mira.


"Yang, aku ada kabar baik" Ucap Rifki dengan penuh bahagia.


Santi menatap malas, pasti ia membawa kabar bahwa sebentar lagi ia akan berbahagia karena menikah dengan Mayang.


"Kabar baik apa?. Kamu mau menikah dengan Mayang?" Tanya Santi ketus.


Hati Santi saat itu benar-benar sakit, tinggal menunggu satu malam lagi sang suami akan menikah dengan wanita lain. Ia tidak pernah menyangka akan bernasib di madu seperti ini. Sungguh sakit hati yang di rasakan itu begitu dalam.


"Jangan asal menyimpulkan gitu dong." Jawab Rifki.


"Terus kabar bahagia apa?" Tanya Santi masih dengan nada ketus sambil meneteskan air mata.


"Aku dan Mayang gak jadi menikah" Jawab Rifki bahagia. Wajahnya berseri-seri.


"Ko bisa?" Tanya Santi singkat yang masih tidak percaya.


"Mayang telah mengakui semuanya San, Anak yang di kandung Mayang itu bukan anak Rifki." Jelas Rifki.


"Rencana apalagi yang Mayang perbuat?" Sahut Pak Agus di tengah obrolan pasutri itu.


"Maksud Pak Agus?" Tanya bu Mira heran


"Sudah banyak remaja dari keturunan pejabat di kampung ini yang di jebak oleh Mayang untuk menikahinya" Jelas Pak Agus sesuai dengan apa yang ia dengar tentang Mayang.


"Mungkin karena Mayang udah tahu kalau kita sudah bangkrut mungkin ya Mah" Tembal Pak Guntur sambil menoleh ke Bu Mira.

__ADS_1


"Mungkin, Mamah gak peduli. Yang penting sekarang Rifki tidak jadi menikah dengan Mayang. Dan kamu Jadi wanita satu-satunya Rifki" Jawab Bu Mira.


"Aku tidak tahu harus bagaimana Mah, aku terlanjur benci dengan Rifki atas apa yang telah terjadi." Ucap Santi sambil terus meneteskan air matanya.


"Aku mohon maafin aku Yang, Mungkin waktu itu aku di kelabui nafsu sampai aku tidak sadar dengan apa yang aku perbuat" Rifki sekarang lebih sering mengucapkan kata maaf dari mulutnya. Ia sangat sabar sekali menghadapi sikap Santi, walaupun terkadang ia juga merasakan kesedihan. Namun, ia akui Santi seperti itu karena sikapnya.


"Tolong maafin Rifki ya San" Pinta Bu Mira.


"Biarlah itu semua jadi masa lalu buat kita semua. Kita mulai lagi kehidupan yang baru" Sambungnya.


"Kalau hanya karena Rifki pernah melakukan dengan Mayang, mungkin masih bisa aku terima. Tapi masalahnya ada yang lain yang membuat hati aku sangat sakit dan sulit di sembuhkan." Jawab Santi dengan air mata yang terus mengalir tiada henti.


"Masalah apalagi?" Tanya Pak Guntur.


"Ibu, ibu meninggal karena Rifki. Kalau saja Rifki dulu tidak membuat aku jadi seperti ini, mungkin ibu masih ada disini" Jawab Santi sambil menangis, nafasnya berat, sepertinya rasa sakit yang ia rasakan sangat dalam.


"Sungguh karena nafsu Rifki, hidupku jadi hancur seperti ini." Sambungnya lagi.


"Santi sudah. Jangan kamu ungkit-ungkit itu lagi. Ibu kamu sudah tenang di alam sana. Memang itu semua benar bahwa ibu kamu meninggal karena dia syok mendengar kabar bahwa masa depan mu hancur karena jamu hamil di luar nikah sehingga penyakit jantungnya kumat. Tapi kamu ingat, ini semua sudah kehendak alloh" Pak Agus memotong Santi yang terus berbicara mengungkit-ungkit semua yang telah terjadi.


"Yang namanya ajal manusia itu sudah di tetapkan oleh sang Kholiq dari jaman azali. Jadi kamu tidak perlu menyalahkan siapapun di sini" Sambung Pak Agus menasihati.


"Enggak Yah, aku tidak bisa terima itu. Yang jelas Rifki telah membuat ibu meninggal." Jawab Santi sambil beranjak pergi dari tempat duduknya karena ia sudah tidak sanggup lagi. Bahkan Santi rasa disana tidak ada yang mendukungnya. Ayahnya sendiri bahkan lebih mendukung orang yang ia benci.


"Santi tunggu, jangan pergi kamu!" Teriak Pak Agus.


"Sudah Yah. Mungkin memang benar, kesalahan Rifki sudah fatal sehingga akan sulit untuk di maafkan." Ucap Rifki menghentikan teriakan Pak Agus.

__ADS_1


"Yang Sabar ya Ki, suatu saat Santi akan kembali seperti dulu lagi" Ucap Pak Agus menyemangati.


"Udah anak mamah gak usah melas gitu. Mungkin saat ini Santi masih butuh waktu. Aaaa sini mama peyuk..." Bu Mira berusaha menghibur Rifki yang terlihat begitu sedih.


Yang namanya orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menderita. Mungkin saat ini belum dapat di mengerti. Namun percayalah suatu saat nanti kamu akan mengerti dengan nasihat-nasihat orang tua yang mereka berikan untuk kita.


.


.


.


.


.


.


Untung aja si Rifki ini sabar dan mau mengakui kesalahannya, kalau aja cowok lain udah di ceraikan tuh si Santi. Eh tunggu, ko kaya nya jadi suami takut istri ya🤣


Akankah Santi ini memaafkan Rifki?.


Yu ikuti terus cerita nya 🐾


Jan lupa follow ig author @reeyanraa


Mon mff kalo masih banyak typo 🙏

__ADS_1


__ADS_2