
Hari telah berganti malam. Udara malam itu sejuk sekali. Namun sayangnya, badan Rifki hanya dihangatkan oleh selimut. Padahal Rifki sangat membutuhkan kehangatan yang lain.
Di kamar itu mereka tertidur pulas. Walaupun mereka tidak tidur satu kasur. Rifki tidur di lantai dengan beralaskan karpet. Karena sesudah kejadian kemarin Santi tidak mau tidur bareng lagi.
Pagi hari telah tiba. Berbeda dari sebelumnya dimana setelah sholat subuh, biasanya Santi langsung bersih-bersih rumah. Pagi itu setelah sholat Santi tidur lagi. Sepertinya Santi sedang sakit karena wajahnya juga pucat.
Menang akhir-akhir ini Santi selalu telat makan. Setiap Rifki mengingatkan ia selalu tidak memperdulikan nya. Mungkin itu sebabnya Santi sakit.
Rifki mendekati Santi, ia memegang kening Santi. Terasa hangat di tangan. Sepertinya memang Santi benar-benar sakit. Biasanya setiap Rifki menyentuh atau bahkan mendekati saja, Santi selalu marah-marah. Tapi kali ini ia hanya diam saja, sepertinya ia benar-benar lelah tidak memounyai energi untuk emosi.
Melihat itu Rifki kemudian berinisiatif untuk memasak di dapur. Karena Santi harus segera makan dan minum obat. Sebisa mungkin Rifki memasak di sana dengan susah payah. Walaupun hanya masak nasi goreng dengan telur dadar tapi menurut Rifki itu sangat sulit karena ia tidak pernah belajar sebelumnya.
Setelah selesai masak kemudian Rifki membawa makanannya ke kamar dengan segelas air minum. Tanpa tahu bagaimana rasa masakannya. Entah enak atau tidak, atau mungkin makanan itu asin.
Rifki lalu membangunkan Santi.
"Yang, bangun Yu. Makan dulu aku sudah masak buat kamu" Ucap Rifki sambil mengelus rambut Santi.
Sudah lama sekali ia tidak menyentuh tubuh Santi. Boro-boro mau nyentuh, dekat aja Santi tidak mau. Ia kemudian teringat masa-masa dimana ia pernah romantis dengan Santi. Andai saja waktu itu bisa terulang kembali.
Sepertinya Santi tidak kuat untuk bicara. Rasa sakit di kepalanya membuat ia susah untuk mengucapkan kata-kata. Ia hanya diam saja tanpa gerak dengan mimik muka yang jutek tanda ia tidak mau Rifki mendekati tubuhnya.
"Sudah lah Yang, lupakan rasa benci mu kepadaku sejenak saja. Ini bukan waktu yang tepat. Jika kamu telat makan terus kamu gak bakalan sembuh." Ucap Rifki merayu Santi untuk makan.
Mendengar ucapan Rifki seperti itu hatinya tersentuh, ia tidak menyangka ada orang yang perhatian sama seperti ibunya. Ia terharu ternyata sosok ibunya itu kembali hadir di jiwa suaminya.
"Ayo Yang aku bantu." Ucap Rifki.
Rifki membantu Santi untuk duduk menyender di bantal yang sudah di tumpuk tinggi.
"Aku suapin ya" Tawar Rifki sambil mengambil piring yang di simpan di meja dekat kasur
"Aaa buka mulutnya dong" Sambungnya sambil menyodorkan sesendok nasi ke mulut Santi.
"Kalo makan tuh yang benar ngunyah ya harus sampai lembut, gak boleh gitu" Sambungnya lagi melihat Santi yang mengunyah makanannya tidak benar.
__ADS_1
Benar-benar tidak menyangka, Rifki perlakuannya sama persis dengan ibunya. Dari perhatiannya, cara bicaranya, bahkan cara menasihati Santi juga benar-benar sama.
"Gimana enak gak?" Tanya Rifki mengingat ia tidak tahu bagaimana rasa makanan yang ia masak itu.
Santi hanya terdiam. Walaupun ia kagum dengan sikap Rifki saat ini namun ia masih belum terima atas apa yang sudah Rifki perbuat selama ini. Ia tidak terima atas apa yang telah terjadi.
"Udah gak papa kok kalo kamu masih gak mau bicara, aku ngerti." Ucap Rifki.
"Udah ayo makan lagi yang banyak." Sambungnya.
"Kalo gak enak gak usah di makan lagi yang penting udah ada nasi yang masuk" Sambungnya lagi.
Tapi sepertinya makanan itu enak, buktinya Santi masih terus melahap nadi goreng itu sampai habis satu piring.
"Yeah habis, langsung minum nih" Rifki menyodorkan segelas air minum kepada Santi
"Aku ambilkan obat dulu ya" Sambungnya sambil berjalan ke tempat obat.
"Nanti kalo gak mendingan juga siang kita ke dokter" Ucapnya begitu perhatian.
Santi terharu dengan sikap Rifki seperti itu, begitu perhatiannya ia kepadanya. Tapi rasa bencinya itu selalu menyelimuti dirinya. Bahkan sebentar lagi mungkin Rifki akan lebih perhatian kepada wanita lain.
"Sini aku bantu" Tawar Rifki sambil membantu Santi meminum obat itu.
"Pelan-pelan takutnya keselek" Sambungnya.
"Udah tidur lagi aja, biar nanti aku yang coba bersih-bersih rumah." Perintah Rifki.
Kemudian Santi membaringkan lagi badannya di kasur itu karena rasa sakit di kepalanya di tambah badannya yang panas dingin itu tidak bisa bersahabat lagi.
Sementara Rifki ia pergi ke luar kamar untuk beres-beres rumah. Walaupun yak tidak sebersih dan serapi yang di kerjakan Santi tapi setidaknya rumah itu tidak terlalu berantakan. Rifki sebenarnya hari ini harus kerja di kebun bantu-bantu ayah Santi. Namun karena Santi lagi sakit, ia memilih diam di rumah untuk menemani Santi.
Saat ini Santi matanya terbangun dengan rasa sakit yang juga belum membaik. Ia terbangun karena ia kebelet pipis. Ia kemudian berusaha bangun sendiri karena gengsi untuk teriak minta tolong sama Rifki.
Ketika hendak berdiri tiba-tiba kepalanya pusing, nyaris saja terjatuh. Untung ada Rifki yang ke kamar sehingga Rifki dengan sigap menangkap badan Santi.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana?" Tanya Rifki.
"Aku mau ke kamar mandi" Jawab Santi yang berusaha membuang gengsinya, karena ia sudah tidak kuat kebelet.
"Ya udah aku antar sini" Ucap Rifki sambil menggendong Santi menuju kamar Mandi.
"Pintunya gak usah di tutup takutnya kamu jatuh nanti gak ada yang nolongin" Perintah Rifki, padahal itu hanya modus.
*Dikamar mandinya gak usah di perjelas lagi Wkwkw.
Setelah selesai dari kamar mandi. Rifki membawa Santi kembali untuk tidur di kamar.
Hati Santi mulai terkagum-kagum dengan Rifki di tengah kebenciannya itu. Pasalnya karena Rifki saat ini begitu perhatian kepadanya.
.
.
.
.
.
.
.
Tipe-tipe suami sabar ni si Rifki kek author banget🤣
Tinggal dua hari lagi guys si Rifki sama Mayang married. Pokoknya Plis jangan sampe si Rifki jadi nikah sama si Mayang. Gak pantes suami sabar gitu nikah sama cewek matre.
Bagaimana kisah selanjutnya?
Yu ikuti terus cerita nya 🐾
__ADS_1
Jan lupa follow ig author @reeyanraa
Mon mff kalo masih banyak typo 🙏