
Mobil warna hitam itu melaju cepat, namun karena jalan di desa itu masih bebatuan jadi mobil itu melaju cepat di waktu-waktu tertentu saja.
Santi dalam mobil terus menangis tak terbendung, ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Karena urusan rumah tangganya sang ibu sekarang harus jadi korban. Baru saja ia beberapa hari ini melihat sang ibu sudah lumayan sehat, tapi sekarang ia sudah terbaring lagi.
Mobil itu sekarang sudah terparkir di depan puskesmas. Sudah hampir dua jam memang perjalanan. Walaupun berusaha melaju cepat namun karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan jadinya mereka sampai ke puskesmas sangat lambat.
"Suster, tolong ibu saya cepat!" Teriak Santi yang sangat khawatir dengan ibunya.
"Cepat suster" Teriak Santi lagi tidak sabar.
Suster pun dengan cepat membawa bu Ida ke dalam untuk di tangani.
"Awas ya kamu Ki, kalau misal ibu kenapa-kenapa aku akan sangat benci sama kamu." Ancam Santi.
"Aku minta maaf jika kehadiranku di sini membuat semua orang terbebani" Ucap Rifki yang terus dihantui rasa bersalahnya dengan semua orang.
"Sudah sudah. Tidak ada gunanya kalian bertengkar. Kita tunggu saja bagaimana hasilnya dari dokter" Ucap Pak Agus.
Mereka akhirnya memilih menunggu di kursi yang ada di sana, sudah beberapa menit namun dokter belum juga keluar dari ruang rawat itu. Sedangkan Pak Agus dari tadi seperti sedang melamun kebingungan.
"Yah, ayah kenapa?" Tanya Rifki karena melihat Pak Agus yang sepertinya banyak pikiran.
"Gak papa ko" Ucap Pak Agis menutupi semuanya.
"Ayah jangan bohong, dari muka ayah juga sudah kelihatan bahwa ayah ini sedang banyak pikiran" Ucap Rifki mengatakan sejujurnya apa yang ia lihat.
"Ayah bingung Ki" Jawab Pak Agus.
__ADS_1
"Bingung kenapa?" Tanya Rifki.
"Biaya di puskesmas pasti mahal, sedangkan ayah tidak punya uang sedikitpun" Jawab Pak Agus dengan wajahnya yang terlihat banyak pikiran.
"Ayah sudah tenang dulu aja, Sepertinya Rifki masih punya tabungan sedikit. Tapi kalau hanya untuk biaya puskesmas sepertinya cukup" Ucap Rifki menawarkan.
Santi yang mendengar itu kemudian ikut bicara. Ia teringat dengan kejadian waktu itu. Dimana Rifki memberikan uang untuk pengobatan sang ibu, namun kehormatannya yang jadi imbalannya. Sungguh masa lalu yang tadinya ingin Santi kubur dalam-dalam namun sekarang itu semua selalu terbayang-bayang lagi. Mungkin karena kebenciannya kepada Rifki amat dalam.
"Jangan terima uang itu!" Santi ikut bicara.
"Tapi kenapa San?" Tanya Pak Agus yang heran dengan Santi.
"Sudahlah Yang, ibu kamu ibuku juga jadi tidak ada salahnya aku bantu pengobatan ibu" Ucap Rifki.
"Pokoknya aku bilang jangan terima uang itu! Biar nanti aku usahain saja cari pinjaman" Santi bersikeras melarang.
"Tapi Yah..." Ucapan Santi terhenti karena apa yang di bilang Pak Agus itu benar adanya.
"Sudah lah Yang, aku ikhlas bantu kamu." Ucap Rifki.
"Kamu itu laki-laki licik!. Aku tahu kamu bantu aku karena ada maunya kan? Rencana apalagi yang kamu buat?. Belum puas kamu sakiti aku?. Pasti kamu memanfaatkan situasi seperti ini lagi kan?" Ucap Santi mengeluarkan semua rasa ketakutannya.
"Maksud kamu apa?" Tanya Rifki yang tidak mengerti.
"Sudahlah gak usah berlaga bego. Kamu lupa, dulu kamu memanfaatkan situasi seperti ini untuk merebut kehormatan ku kan? Dan kamu lihat sampai sekarang masalahnya jadi rumit gini" Santi menjelaskan semuanya.
"Santi sudah!, Ini jalan satu-satunya supaya ibumu bisa di tangani." Ucap Pak Agus.
__ADS_1
"Kamu mau ibumu di telantarkan begitu saja karena gak sanggup bayar biaya administrasi?" Sambungnya.
Mendengar itu Santi pun langsung terdiam. Biar bagaimanapun ia tidak mau ibunya kenapa-napa.
Kemudian Rifki pergi ke resepsionis untuk mengurus biaya administrasi tersebut. Hingga Rifki selesai dokter belum juga keluar untuk memberikan informasi. Sepertinya sakit bu Ida parah sampai dokter sangat lama menanganinya.
.
.
.
.
.
.
.
Bu Ida nambah masalah aja dah🤣
Yu ikuti terus cerita nya 🐾
Jan lupa follow ig author @reeyanraa
Mon mff kalo masih banyak typo 🙏
__ADS_1