
Dengan sekuat tenaga Rifki menggendong Santi menuju Puskesmas, jarak yang harus di tempuh masih sangat jauh. Rifki harus melewati hutan dan pesawahan yang ada di sana. Untung saja ia sudah tahu jalan menuju Puskesmas, jadi ia tidak akan nyasar.
Rasanya sudah lelah, keringat sudah mengucur di seluruh tubuh Rifki. Beban yang saat ini ia gendong sangat berat, padahal sebelumnya tidak pernah ia menggendong beban berat seperti ini. Namun, ia berusaha kuat untuk istri dan anaknya yang nasih dalam kandungan itu.
Ia terus berlari kencang bagai kuda, tidak pernah ia berhenti sejenak pun. Walaupun ia capek tapi ia berusaha kuat demi orang yang ia sayang itu.
"Ya Alloh, kuatkan hamba mu ini."
"Kuatkan hamba mu ini untuk membawa istri dan anak yang ada di kandungannya ke Puskesmas"
"Dan semoga mereka dalam keadaan baik-baik saja".
Setelah berusaha sekuat tenaga ia akhirnya sampai juga di Puskesmas, segera ia memanggil dokter untuk menangani istrinya itu.
"Dokter, dokter, dok, tolong istri saya" Pinta Rifki dengan panik.
"Baik pak, kami akan berusaha untuk menangani istri bapak" jawab dokter.
"Bapak tunggu di sini dulu ya" Sambungnya.
"Tolong dok berikan yang terbaik untuk istri saya" Pinta Rifki.
"Baik pak"
Kemudian tidak lama setelah dokter memeriksa Santi, salah seorang suster keluar.
__ADS_1
"Dengan keluarga ibu Santi?" Tanya Suster.
"Iya saya suaminya" Jawab Rifki.
"Bagaimana keadaan istri saya sus?" Tanya Rifki panik.
"Jadi gini pak, dari pemeriksaan yang telah kami lakukan sepertinya ini sangat berbahaya bagi ibu dan anak yang dalam kandungannya pak, karena ibu Santi ini mengalami pendarahan yang banyak" Suster menjelaskan sebenarnya yang terjadi.
"Tapi itu semua belum pasti Pak, kami belum bisa menyimpulkan apa-apa, karena peralatan disini yang terbatas sehingga kami kesulitan untuk menyimpulkan apa yang terjadi pada mereka berdua, tapi perkiraan kami seperti itu pak" Sambungnya.
"Terus ini gimana sus?" Tanya Rifki bingung sekaligus cemas dengan keadaan istrinya itu.
"Apakah istri saya harus di bawa ke rumah sakit di kota?" Tanya nya lagi.
"Sepertinya tidak perlu pak" Jawab Suster.
"Lakukan yang terbaik ya sus bagi istri saya." Pinta Rifki.
"Baik pak, Tapi tindakan USG tidak bisa di lakukan jika bapak belum melunasi biaya administrasi dulu" Perintah Suster sesuai dengan peraturan yang berlaku di Puskesmas itu.
"Tapi Sus untuk saat ini saya tidak bawa uang, jadi kalau melakukan tindakan dulu bagaimana?." Tanya Rifki yang bingung karena ia tidak membawa uang sedikitpun.
"Maaf Pak, ini sudah peraturan." Jawab Suster
"Tolong di bayar secepat nya ya Pak. Jika tidak, kami tidak bisa bertindak. Dan istri bapak tidak bisa di tangani" Sambung Suster memberi tahu.
__ADS_1
"Tapi Sus.." Ucap Rifki.
"Maaf Pak."
Rifki kemudian ia tidak tahu harus bagaimana, karena ia tidak punya uang sedikitpun, untuk menghubungi orang tuannya handphone nya tertinggal di rumah. Mungkin karena ia tadi panik sehingga ia kupa tidak membawa handphone. Ia sama sekali tidak tahu hal apa yang harus di perbuat. Ia saat ini sedang di landa kebingungan.
Air matanya mengalir. Ia tidak bisa membayangkan jika akan terjadi sesuatu pada istri dan anak yang di kandungnya. Pasti ia akan dihantui rasa bersalah terus menerus. Jika ia pulang, maka ia harus berjalan kaki dan waktunya sangat lama sekali. Jika meminjam handphone orang lain, ia tidak ingat nomor handphone keluarganya. "Ya Alloh, tolong beri hamba petunjuk, beri hamba kemudahan, dan beri istri hamba kekuatan. Hamba tidak tahu hamba harus bagaimana".
.
.
.
.
.
.
Kalo udah panik apapun bisa lupa.
Bagaimana keadaan Santi?
Yu ikuti terus cerita nya 🐾
__ADS_1
Mon mff kalo masih banyak typo 🙏