
Part ini mengandung adegan 18+, untuk yang tidak suka boleh di skip.
Part Sebelumnya:
Kemudian ia terus berjalan dengan di bantu oleh Santi. Sesampainya di kasur ia kemudian merebahkan dirinya, sambil terus meringis kesakitan.
"Argggh ini masa depan kita bagaimana?" Tanya Rifki menggoda Santi.
"Bisa-bisanya dalam kesakitan seperti itu ia menggoda ku" ucap hati Santi.
"Bagaimana jika juniorku tidak bisa berdiri lagi?" Tanya Rifki sambil terus menggoda Santi.
"Jan keras-keras ngomong nya, malu sama bapak Ki" Pinta Santi yang juga jijik mendengar apa yang di ucapkan Santi.
"Pasti ayah kamu juga jika terjadi hal yang sama akan sepertiku, Ayo bantu aku menyembuhkan sakit ini" Ucap Rifki.
"Aku minta maaf" Ucap Santi.
"Minta maaf tak akan menyembuhkan sakit ini". Ucap Rifki.
"Terus aku harus bagaimana?" Tanya Santi.
"Bantu juniorku berdiri!" Perintah Rifki.
"Hah"
Santi terkejut, bagaimana mungkin, jangan sampai ia harus melakukan yang aneh Tapi ia juga tidak mau masa depannya terancam gara-gara si junior Rifki itu tidak bisa berdiri.
. . . .
"Kenapa diam?" Tanya Rifki.
"Flis ya Ki, jangan yang aneh-aneh deh" Pinta Santi dengan nada memohon.
"Kalo ke suami tuh yang sopan!" Gerutu Rifki dengan muka kesalnya.
"Ini udah sopan, kurang sopan gimana lagi?" Tanya Santi yang merasa ia tidak punya kesalahan.
"Sopan kah ke suami memanggil nama?" Tanya Rifki yang tidak suka dengan perkataan Santi yang di anggap tidak sopan itu.
"Ya maaf Mas, kan aku butuh adaptasi." Jawab Santi sambil menunjukan senyum tipis terpaksa nya itu.
__ADS_1
"Terus gimana ini juniorku?" Tanya Rifki kembali pada topik awal.
"Ya Gimana-gimana aku gak tahu" Jawab Santi dengan wajah bingungnya itu.
"Kamu harus tanggung jawab pokoknya!" Ucap Rifki memperingatkan.
"Terus aku harus gimana?" Tanya Santi yang masih bingung.
"Bikin dia berdiri lagi. Ini masa depan kita" Pinta Rifki dengan nada menggoda kepada Santi.
"Gimana caranya?" Tanya Santi lagi dengan wajah pura-pura polos. Padahal ia tahu hal apa yang ingin di lakukan suaminya itu.
"Gak usah sok polos gitu, bikin aku tambah gemes aja, sama-sama otak mesum juga" Rifki mulai menggoda Santi lagi.
"Eh jangan sembarangan kamu tuh ya, kamu aja tuh yang mesum" Jawab Santi yang tidak terima di kata-katain.
"Alah pake ngeles lagi" Rifki terus menggoda Santi dengan nada lembutnya itu.
"Palingan ini modus kan? Pura-pura sakit doang kan?" Tanya Santi yang mulai tidak percaya dengan kesakitan yang di rasakan oleh Rifki.
Memang rasa sakit yang di rasakan oleh Rifki tidak separah itu. Namun, ini cuma akal-akalan Rifki untuk menggantikan malam pertamanya tadi malam.
"Ya sudah lah kalo gak percaya. Mungkin dia sudah tidak peduli dengan masa depannya" Jawab Rifki memasang muka kesal dengan bibir manyunnya.
"Bodo amat, cepet nih gimana juniorku?" Tanya Rifki kembali ke topik paling awal.
"Aku harus bagaimana Rifkianda?, aku gak tahu" Jawab Santi dengan pura-pura polosnya itu.
"Pijat dia!" Perintah Rifki dengan memasang muka liciknya. Sepertinya rencananya akan segera berhasil.
"Hah?" Tanya Santi kaget.
"Iya pijat ayo!" Perintah Rifki mempertegas.
"Ah enggak ah" Ucap Santi.
"Gak mau tanggung jawab nih, atas apa yang telah di perbuat?" Ucap Rifki dengan nada khasnya itu.
"Tanggung jawab sih tanggung jawab tapi gak gini Rifkianda." Jawab Santi yang heran.
"Tolong ambilkan kain sarung agar kamu leluasa memijatnya!" Perintah Rifki.
__ADS_1
Kemudian Santi mengambilkannya dan membantu mengganti celana yang di pakai Rifki dengan kain sarung itu. Semoga saja dengan ia ia lupa bahwa aku harus memijat juniornya, doa santi dalam hati.
"Argggh pelan-pelan sayang, juniorku masih sakit." Ucap Rifki.
"Sekarang silahkan mempertanggungjawabkan perbuatannya" sambung Rifki.
Kemudian dengan terpaksa Santi mendekati tubuh Rifki, tangannya mulai memijat betis Rifki. Entah kenapa kalau memijat itu Santi tidak berani. Emang modus si Rifki tuh ada-ada aja.
"Yang sakit apa, yang di pijat apa." Gerutu Rifki.
"Tunggu maka nya" Jawab Santi.
"Ayo yang atasnya dong" Pinta Rifki yang ke sekian kalinya.
"Yang atas?" Tanya Santi dengan memasang muka polosnya itu.
"Iya ini" jawab Rifki sambil menunjuk pada benda pusaka miliknya itu.
Dengan ragu-ragu kemudian Santi tangannya sekarang bergerak ke atas menyusuri kaki laki-laki itu. Sekarang tangan Santi sudah memegang paha Rifki yang tertutupi oleh kain sarung itu.
Hati Rifki dag dig dug, apakah ini akan terjadi?. Pagi itu hasrat Rifki begitu memuncak. Tangan halus yang sedang menyusuri isi dalam sarungnya itu membuat ia tidak tahan lagi rasanya.
"Tok, tok, tok" suara ketukan pintu kamar yang seketika membuat Santi terkejut dan mengeluarkan tangannya dari dalam sarung Rifki yang baru saja menyentuh pahanya.
.
.
.
.
.
.
Yang ngetuk pintu siapa sih ganggu aja?
Yu ikuti terus cerita nya 🐾
Jan lupa follow ig author @reeyanraa
__ADS_1
Mon mff kalo masih banyak typo 🙏.