
Rifki terus berjalan menuju ruangan puskesmas, dalam hatinya ia berharap bahwa sudah ada orang tuanya disana. Ia berjalan dengan tergesa-gesa supaya cepat sampai di ruangan dimana Santi di sana. Dan syukurnya Pak Guntur dan Bu Mira juga Pak Agus memang sudah ada di sana. Mereka sudah menunggu Rifki dari tadi. Mungkin ketika Rifki pergi tafi mereka sudah ada di depan Puskesmas sana. Mungkin karena panik jadi Rifki tidak melihatnya.
"Kamu itu kemana saja Ki?" Tanya Pak Guntur yang dari tadi menunggu Rifki di sana.
"Aku tadi cari kalian muter-muter" Jawab Rifki dengan nafas beratnya karena capek ia berjalan dengan secepat kilat.
"Santi itu gimana sekarang?" Tanya Rifki yang mulai panik dengan keadaan Santi yang ia tinggalkan cukup lama.
"Tadi pas kami ke sini, dokter sedang mencari kamu katanya keadaan Santi memburuk" Jawab Pak Guntur.
Mendengar perkataan Pak Guntur itu Rifki kaget, ia takut sekali terjadi sesuatu pada istri dan anak yang di kandungnya. "Hah?, Terus sekarang bagaimana?"
"Untungnya kami cepat kesini, jika tidak maka kita gak tahu keadaan Santi sekarang bagaimana" Jawab Bu Mira sambil menenangkan Rifki.
"Papa udah lunasi semua biaya administrasinya, dan sekarang Santi masih di tangani oleh dokter. Dan katanya keadaannya sudah membaik." Pak Guntur ikut menambahkan.
Dalam hati Rifki ia merasa sangat bersalah, karena sebagai suami ia tidak mampu menjaga istrinya. Apalagi soal ekonomi, sampai sekarang ia masih numpang dengan mertuanya. "Maafin aku ya"
"Kenapa kamu minta maaf?" Tanya Pak Agus.
__ADS_1
"Aku belum bisa jadi suami yang baik bagi Santi" Jawab Rifki dengan nada bersalahnya itu.
"Aku belum bisa menafkahi istri aku, bahkan ketika kepepet uang seperti ini aku masih bergantung pada kalian." Sambungnya.
"Sudah Ki, tidak ada gunanya kamu menyalahkan diri kamu sendiri." Ucap Pak Agus.
"Iya Ki, uang terpenting sekarang keadaan Santi sudah baik-baik saja." Bu Mira ikut menambahkan takutnya Rifki terus menyalahkan dirinya sendiri.
Di tengah percakapan itu dokter berjalan dari dalam ruangan, kemudian berhenti di hadapan mereka.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Rifki dengan muka paniknya itu.
"Iya dok, bagaimana anak saya?" Pak Agus yang juga cemas dengan keadaan Santi.
"Kalo mau jenguk silahkan, tapi cuma boleh satu orang ya, takutnya mengganggu istirahat ibu nya" Ucap dokter itu.
"Ya udah dok terima kasih" Rifki menjawab.
"Baik Saya pergi dulu ya" Ucap Dokter itu lagi
__ADS_1
"Mau ayah?" Tanya Rifki menawarkan barangkali Pak Agus yang ingin lebih dahulu menjenguk Santi.
"Udah kamu aja, kamu kan suaminya, mungkin dia lebih merindukan kamu" Jawab Pak Agus dengan nada menggoda itu. Mungkin itu cara Pak Agus mencairkan suasana di tengah kecemasan yang ada.
"Di suasana gini juga masih sempat-sempatnya bercanda" Jawab Rifki yang mulai kesal.
Percakapan itu berakhir dengan tertawa dan Rifki berjalan menuju ruangan dimana di dalamnya ada Santi yang masih di rawat.
.
.
.
.
.
Untung saja mertuamu baik Ki, jaman sekarang cari orang tua yang menerima apa adanya itu susah. Apalagi menerima menantu yang gak punya duit lagi, beuh sekalinya di terima auto di maki-maki dulu. Pas baru ketemu juga udah di tanya "Punya apa kamu sampai berani deketin anak saya?". Buat cowok yang gak punya apa-apa langsung kena mental gak tuh🤣
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya?
Yu ikuti terus cerita nya 🐾