
Di rumah ini Pak Guntur saat ini sudah banyak orang, mereka semua hadir dengan tujuan untuk melayad Santi yang meninggal dunia. Mereka sudah sedari tadi menunggu kedatangan jenazah Santi.
Dari atas kepala sampai sepatu semuanya hitam, itulah yang mereka pakai untuk bertakziah, bukan tuntutan dari agama melainkan tradisi yang ada di masyarakat seperti itu.
Di kampung itu, jika melayad orang yang meninggal mereka membawa beras, bukan seperti di kota yang memberikan amplop, tapi di sini tradisinya seperti itu, mereka menyebutnya "Beras Pangjurung".
Berita tentang meninggalnya Santi sudah menyebar luas hingga ke kampung sebelah, berita itu sudah di terima oleh ibu-ibu sejak pagi tadi, sehingga para warga kampung sudah berkerumun di depan rumah Pak Guntur.
Tak terkecuali Mayang dan Aryo, walaupun mereka masih merasakan lelah, tapi mereka menyempatkan untuk datang kesana, bukan ikut berbela sungkawa, melainkan untuk tertawa bahagia.
Bagaimana tidak, rencana mereka berdua telah berhasil, orang yang mereka benci sekarang sudah mati, jika seperti bukankah mereka tidak masalah jika merasa bahagia.
Selain ibu-ibu yang sudah berkumpul, bapak-bapak juga sama, bahkan ada beberapa bapak-bapak yang sudah pergi ke pemakaman untuk menggali kuburan, memang di kampung itu semuanya serba gotong royong.
"Bu ko jenazahnya gak datang-datang ya?"
__ADS_1
"Iya ni kita udah lama loh nunggu di sini"
"Ini benar gak sih berita nya?"
Ibu-ibu yang sedari tadi menunggu di sana tak kunjung datang jenazah Santi, dari pagi mereka di sana hingga matahari sudah di atas kepala mereka, jenazahnya belum juga datang.
"Pak Rt gimana ini bener gak nih berita nya?" Tanya salah seorang ibu-ibu yang sudah kesal menunggu dari tadi.
"Ya saya juga gak tahu, kan yang bawa kabar ibu-ibu semua" Jawab Pak Rt.
Mayang yang mendengar itu ia sedikit kesal, karena ibu itu bilang ada kemungkinan bahwa berita Santi meninggal itu hoax.
"Gak mungkin ini hoax, harusnya memang Santi ini udah lenyap dari muka bumi ini" Gerutu Mayang dalam hatinya.
Aryo juga menggerutu hal yang sama dalam hatinya, ia akan sangat kesal sekali jika berita ini cuma hoax, padahal ia sudah bahagia sangat ketika mendengar bahwa Santi meninggal, ia tidak sabar melihat si Rifki yang merebut Santi dari nya itu nangis-nangis kejer.
__ADS_1
"Ah mana mungkin ini hoax, harus nya Santi itu beneran udah meninggal, nggak, gak boleh ini berita hoax, Santi harus beneran meninggal, biar Si Rifki itu laki-laki yang udah merebutnya dari gue bisa merasakan sakit yang sama seperti dulu gue merasakan sakit waktu Santi meninggalkan gue untuk pergi ke kota, dan lebih sakit lagi ketika dia pulang langsung menikah dengan laki-laki itu."
.
.
.
Hallo Reyreader gimana nih ceritanya? Makasih ya yang udah setia sampe ke part ini, semangat terus bacanya ya para Reyreader semua.
Emang gitu ya ibu-ibu kalo ada gosip langsung gampang banget nyebarnya. Kasian mana bapak-bapak udah ada yang gali kuburan lagi, udah ibu yang bawa berita aja yang di kubur noh.
Yu ikuti terus ceritanya 🐾
Mon mff kalo masih banyak typo 🙏
__ADS_1