
Part Sebelumnya
Sementara Santi dati tadi ia hanya terdiam, ia tidak bicara sedikit pun. Ketika ia mendengar rencana Pak Guntur langsung terlintas dalam pikiran Santi
"Bagaimana ini? Fasilitas untuk laki-laki di tarik? Laki-laki itu akan tinggal di rumah orang tuaku di kampung, apa dia tidak akan membebani orang tua ku?. Hidup di kampung itu tidak semudah yang di bayangkan."
. . . .
Santi ini bukanlah wanita matre yang memandang pria dari segi harta, namun Santi hanya tidak mau kehadiran Rifki di keluarga nya nanti dapat membebani orang tua nya.
"Santi, bagaimana kamu setuju dengan rencana om?" Tanya Pak Guntur.
"Santi tidak tahu, biar nanti om bicarakan saja sama orang tua Santi, Santi hanya takut saja kehadiran anak om nanti menjadi beban bagi orang tua Santi mengingat perekonomian keluarga Santi sangat sulit." Jawab Santi jujur.
"Baik, Om mengerti, om juga bukan nya mau meremehkan anak om soal bekerja, tapi om juga sejujurnya tidak yakin, mengingat selama ini Rifki tidak pernah bekerja sama sekali. Yang di lakukan nya hanya bermain." Jawab Pak Guntur.
"Nanti sesampai om di rumah keluarga kamu, om akan bicarakan" sambungnya.
"Pah, Plis jangan meragukan gitu dong. Demi Santi aku akan melakukan apa pun, apalagi aku udah berjanji mau menebus kesalahanku." Rifki ikut bicara dengan nada menggoda dan mengedipkan matanya kepada Santi.
"Halah gombal, dasar buaya." Jawab Santi pelan berharap tidak ada yang mendengar.
"Laki emang gitu San, Noh anak ini sama kek bapak nya" tembal bu Mura, rupanya Bu Mira mendengar perkataan Santi.
"Eh papa bukan buayaa" jawab Pak Guntur memasang muka melas.
__ADS_1
Percakapan tersebut berujung dengan tertawa.
Santi sekarang sudah berada di kamar nya. Ia sedang melamun memikirkan perkataan dari Pak Guntur. Ia terus berpikir dengan kondisi ekonomi keluarganya sekarang yang sangat sulit. Bagaimana jika nanti di tambah lagi dengan Rifki di sana yang mungkin akan jadi benalu karena tidak bisa bekerja. Masih mending jika fasilitas dari Pak Guntur tidak di ambil, setidaknya ada untuk modal usaha.
Tiba-tiba pintu kamar Santi ada yang mengetuk, kemudian Santi bangun dan membuka nya. Terlihat di depan pintu ada Rifki yang membawa makanan dan minuman.
"Boleh aku masuk?" Tanya Rifki.
"Gak boleh" jawab Santi ketus.
"Ini kan rumah aku" jawab Rifki dengan nada menggoda.
"Oh iya, iya, silahkan" ucap Santi dengan tersenyum terpaksa.
Kemudian mereka berdua berjalan masuk ke kamar itu.
"Heh kamu jangan macam-macam" ancam Santi dengan mengepalkan tangannya.
"Ampun mbak" Rifki terus menggoda.
"Udah tuh makan, aku udah bawain makanan, tapi gak tahu suka apa enggak nya kamu" sambung Rifki sambil mempersilahkan.
"Kenapa masih diam? Mau di suapin?" Goda nya lagi.
"Aku bisa sendiri. Udah kan? Silahkan keluar" Santi mempersilahkan.
__ADS_1
"Nanti kangen nangis" Goda Rifki sambil berjalan keluar.
Setelah Rifki keluar, Santi kemudian menutup pintu dan mulai makan.
"Laki-laki itu perhatian sama aku, mmmm" ucap Santi pelan yang mulai tergoda dengan Rifki.
"Santi, kamu tidak boleh tergoda. Kamu harus ingat dia yang menyebabkan masa depan mu hancur." Sambungnya berubah pikiran.
.
.
.
.
.
.
Bagaimana kisah cinta mereka berdua?
Yu ikuti terus cerita nya 🐾
Jan lupa follow ig author @reeyanraa
__ADS_1
Mon mff kalo masih banyak typo.