
Part sebelumnya
Setelah tidur beberapa puluh menit Santi terbangun, Sekarang keadaan Santi sudah mulai tenang. Santi melanjutkan bersih-bersih ke kamar mandi. Sementara Rifki duduk di sofa sambil memesan baju ganti untuk Santi.
Mereka saat ini sudah rapi, mereka akan pulang.
"Mulai saat ini hutang aku sudah lunas, jadi lupakan apa yang telah terjadi, anggap saja kita tidak pernah kenal dan tidak pernah melakukan apa-apa, karena menurutku kenal denganmu adalah suatu hal yang sangat aku benci" ucap Santi sambil air matanya bercucuran membasahi pipinya yang mulus itu.
"Taapi" jawab Rifki terhenti karena Santi pergi meninggalkan Rifki begitu saja, tanda begitu dalam sakit yang di rasakan Santi.
. . . .
Setelah kejadian itu Santi selalu menghindar jika bertemu dengan Rifki, bahkan jika di kampus pun ia seolah-olah tidak kenal dan tidak pernah terjadi apa-apa, hal itu membuat Rifki sedikit sakit hati, entah kenapa selalu ada rasa gimana gitu dalam hati Rifki, mungkin Rifki sudah benar-benar jatuh cinta padanya, bukan sekedar hanya untuk melampiaskan nafsu nya itu.
Satu bulan telah berlalu. Setiap bertemu Santi selalu dan selalu menghindar, ia sudah tidak mau ada urusan apa-apa dengan Rifki. Padahal ingin rasanya Rifki selalu dekat dengan Santi, dan ia mempertanggungjawabkan apa yang telah ia perbuat. Namun, jika memang Santi inginnya seperti itu Rifki tidak bisa apa-apa, ia tidak ingin Santi bersedih lagi.
Suatu ketika pada saat Santi sedang bekerja di toko, kepalanya terasa pusing, dan ia mual-mual. Namun ia harus tetap bekerja karena ia tidak mau mengecewakan bos nya, apalagi ia sudah kasbon untuk bulan ini karena ibu nya butuh uang untuk kontrol, walaupun sudah di operasi tapi sang ibu belum bisa sembuh total dan harus rajin kontrol setiap beberapa minggu sekali.
Ia terus bekerja, rasa tidak enak badan tidak ia hiraukan karena ya sang ibu yang membuat nya kuat.
Walaupun ia sudah berusaha kuat namun yang nama nya manusia ada titik kelemahannya juga. Pada saat itu karena rasa pusing yang semakin menjadi-jadi sehingga Santi pingsan di toko itu kemudian ia di bawa pulang dan di istirahat kan di kost nya.
__ADS_1
Setelah siuman orang-orang di sana menawarkan untuk membawanya ke dokter. Namun, Santi bersikukuh tidak mau, ia pikir ia hanya masuk angin biasa, dengan minum obat warung pun ia bisa kembali sehat.
Keesokan harinya walaupun ia masih mual-mual dan pusing ia tetap bekerja karena ya ia tidak enak dengan bos nya.
"Kamu sudah kerja San?" Tanya bis nya itu.
"Sudah pak, saya sudah mendingan" jawab santi walaupun dalam hatinya ia sudah tidak kuat namun ia berusaha kuat.
"Udah ke dokter? Gimana hasilnya?" Tanya pak bos nya lagi.
"Aku udah mendingan kok jadi gak ke dokter pak, palingan ini cuma masuk angin biasa, yaudah aku lanjut kerja dulu" jawab Santi, padahal ia tidak pergi ke dokter karena tidak punya uang.
"Oh iya yaudah silahkan"
Tiba-tiba kepala nya pusing, tubuh nya lemas dan mual-mual, terus tanpa ia sadari ia kembali pingsan di toko itu.
Semua orang yang ada di sana beramai-ramai menolong nya, kemudian bos nya membawa nya ke Rumah Sakit karena takut terjadi apa-apa.
Santi di bawa ke Rumah Sakit di antar oleh bos nya tadi menggunakan mobilnya. Bos nya Santi ini memang orang baik, ia tidak mau karyawannya kenapa-kenapa. Apalagi Santi ini orang baik, selama kerja di sana ia tidak pernah bikin ulah.
Mobil itu sudah terparkir di Rumah Sakit, dan Santi sudah di bawa, sekarang dokter sedang menanganinya di dalam.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Kira-kira Santi ini sakit apa?
Jika masuk angin biasa ko separah itu?
Atau jangan-jangan?
Yu ikuti terus cerita nya 🐾
Jan lupa tinggalkan like dan pencet tombol favorit nya🐾
Follow ig author @reeyanraa
__ADS_1
Mon mff kalo masih banyak typo 🙏