
Hari telah berganti, saat ini Santi sudah lumayan sembuh dari sakitnya. Namun, ia tidak bisa berhenti menangis karena tinggal satu hari lagi suaminya akan menikah dengan wanita lain.
Tidak ada seorang istri manapun yang mau berbagi cinta dengan wanita lain. Namun, ia tidak mau egois. Mayang juga membutuhkan suami yang harus mempertanggungjawabkan nya.
Rifki dan Santi saat itu masih berada di kamarnya. Karena waktu masih pagi, sehingga mereka belum beraktivitas seperti biasanya.
Tiba-tiba ponsel Rifki berbunyi, sepertinya ada telpon masuk. Entah siapa yang menelponnya pagi-pagi seperti ini.
Rupanya telpon itu dari ibu Mira. Rifki langsung mengangkat telpon itu.
"Hallo Mah" Ucap Rifki.
"Hallo Ki, apa kabar? Mama kangen banget." Tanya Bu Mira dalam telpon.
"Rifki juga sama Mah kangen banget." Jawab Rifki.
"Mamah ada apa?, tumben telpon Rifki pagi gini." Tanya Rifki yang heran, tidak biasanya sang ibu menelponnya.
"Emang gak boleh gitu mamah telpon?" Tanya Bu Mira dengan nada ngeledek.
"Ganggu kamu ya?" Tanya nya lagi.
"Enggak ko Mah, Rifki heran aja tumben gini pagi-pagi telpon Rifki, biasanya udah sibuk jam segini." Jawab Rifki.
"Mungkin papa kamu belum telpon kamu" Ucap Bu Mira.
"Emangnya ada apa Mah?" Rifki yang heran kembali bertanya.
"Kami berdua disini udah bangkrut. Semua aset dan kekayaan kita udah papa jual untuk membayar pesangon para pegawai. Karena papa kamu tidak sanggup memperkerjakan nya lagi. Semua aset yang tersisa sudah di jual juga untuk menutupi hutang perusahaan papa kamu, dan sisa uangnya mau di pakai untuk bertahan hidup di kampung. Kebetulan Papa punya tanah di dekat situ, jadi rencananya kita mau tinggal di sana biar deket sama kamu juga. Butik Mama juga udah Bangkrut, udah tidak ada lagi yang mau bekerjasama. Karena Mamah gak sanggup bayar sewanya maka mama berhenti." Bu Mira menjelaskan semua nya.
"Ini semua gara-gara Rifki ya Mah, Maaf Ya" Rifki merasa bersalah banget dengan yang telah terjadi.
"Enggak ko gapapa, mungkin ini udah taqdir dari tuhan harus begini." Jawab bu Mira, tidak tega mendengar anaknya melas seperti itu.
"Maaf Ya Mah, Rifki merasa bersalah banget" Rifki kembali meminta maaf.
"Udah ah anak mamah gak boleh cengeng gitu" Bu Mira meledek Rifki, karena sepertinya Rifki sedang menahan kesedihannya.
"Mamah kapan dong pindah kesini?" Tanya Rifki.
__ADS_1
"Ini mamah udah otw kesana" Jawab Bu Mira yang memang sudah di perjalanan menuju kampung.
"Hah? Mamah udah di jalan?" Tanya Rifki yang tidak percaya.
"Iya, ini mamah lagi di jalan" Jawab Bu Mira.
"Rencananya Mamah sama Papa mau ke rumah kamu dulu. Sekalian Mama kan belum ngucapin bela sungkawa sama Santi" Bu Mira menjelaskan tujuannya.
"Ya udah sini, Rifki udah kangen banget banget banget sama mamah" Sambungnya.
"Terus nanti mama mau tinggal dimana untuk sementara?" Tanya Rifki lagi.
"Mama sama Papa mau cari kontrakan dulu deket-deket situ." Jawab bu Mira.
"Udah ya mamah tutup" Sambungnya.
"Iya Mah, Rifki tunggu disini" Ucap Rifki sambil menutup telpon.
Telpon itu pun di tutup.
"Ya alloh maafkan hamba mu ini, akibat dari dosa dan kesalahan hamba, semua orang menjadi kena batunya" Ucap Rifki pelan dengan penuh penyesalan.
Matahari telah bergilir, jam dinding menunjukan jam 2 siang. Tiba-tiba ada gemuruh dari kuar rumah itu. Entah siapa yang datang.
"Assalamualaikum" Ucap Bu Mira sambil mengetuk pintu.
"Mamah" Jawab Santi menyambut kedatangan mertuanya.
"Apa kabar kamu San, Mamah turut berduka cita ya atas apa yang terjadi. Maaf mama gak bisa datang ke sini" Ucap bu Mira.
"Papa juga minta maaf ya" Pak Guntur ikut bicara.
"Iya udah gak papa" Jawab Santi.
Kedatangan orang tua Rifki di sambut hangat oleh Santi. Walaupun Santi benci dengan Rifki namun tidak dengan orang tuanya. Ia harus sopan ketika bertemu dengan orang yang lebih tua, apalagi orang ini ia anggap sebagai orang tuanya sendiri.
"Ayo silahkan masuk Mah, Pah"
"Duduk dulu ya, Santi buatin minum dulu"
__ADS_1
Mendengar dari tadi gemuruh tamu, Rifki oun keluar dari kamarnya. Dari tadi ia mendengar suara yang sepertinya ia tidak asing lagi.
"Mamah" Teriak Rifki sambil mendekati dan mencium tangan Bu Mira.
"Rifkiii...., Mamah kangen banget" Ucap bu Mira.
"Rifki juga sama" Jawab Rifki.
"Papa Maafin Rifki ya" Rifki meminta maaf sambil mencium tangan papanya.
"Udah udah gak usah di inget-inget lagi" Jawab Pak Guntur.
Setelah meteka semua melepas rasa rindu dan kangennya, setelah mereka semua saling bercerita apa yang terjadi. Akhirnya Pak Agus menawarkan untuk Bu Mira dan Pak Guntur ngontrak di rumah sebelah yang kosong karena pemiliknya pergi merantau ke luar kota.
Setelah Pak Guntur dan Pak Agus melihat-lihat rumahnya, akhirnya mereka setuju untuk menyewa rumah itu.
Rumah itu tidak besar, bahkan tidak bagus, namun sepertinya masih kayak di tempati untuk sementara. Sambil menunggu rumah yang akan di bangun selesai.
.
.
.
.
.
.
.
Rifki sekarang bukan anak orang kaya lagi.
Bagaimana kisah selanjutnya?
Yu ikuti terus cerita nya 🐾
Jan lupa follow ig author @reeyanraa
__ADS_1
Mon mff kalo masih banyak typo 🙏