
Air mata Rifki saat itu tidak berhenti mengalir. Ia sudah tidak tahan untuk menahan rasa sedihnya. Ia merasa sebagai seorang suami ia tidak berguna, bahkan saat dimana sang istri butuh pengobatan ia tidak ounya uang sepeser pun.
"Ya Allah, hamba harus bagaimana?"
Kemudian ia berfikir sejenak, jika terus menunggu orang tua nya sampai. Mungkin harus menunggu berapa lama lagi. Maka ia memilih pulang dengan cara jalan kaki. Jika naik ojek ia tidak punya uang untuk membayar nya.
Kemudian Rifki pergi dari Puskesmas itu, ia berjalan terburu-buru untuk sampai ke rumah orang tua nya. Rifku pikir, jalan saat ini masih di tutup jadi orang tuanya putar balik pulang ke rumah.
Cuaca saat ini sudah mendung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Namun, Rifki tidak menghiraukannya ia terus berlari dengan sekuat tenaganya.
"Bang kenapa buru-buru?" Tanya salah satu tukang ojek yang sedang
"Saya harus cepat-cepat pulang" Jawab Rifki.
"Naik ojek aja bang" Tawar tukang ojek yang tadi.
"Saya gak punya uang" Ucap Rifki apa adanya.
"Kan bisa bayar kalo udah sampai bang" Jelas tukang ojek itu.
__ADS_1
Bisa-bisanya Rifki tidak ingat bahwa ojek itu bisa di bayar di rumah jika sudah sampai. Mungkin karena terlalu panik sampai-sampai ia lupa.
Kemudian Rifki dan tukang ojek itu melaju pergi menyusuri jalan sempit di desa itu, hutan, sungai dan pesawahan telah mereka lewati. Memang jika naik motor bisa pake jalan pintas jadi cepat sampai.
Mereka saat ini tidak melewati pohon tumbang tadi, meteka nerobos ke pinggir sungai supaya cepat sampai. Mereka tujuannya akan pergi ke rumah orang tua nya Rifki dulu. Karena Rifki mengira mereka telah puter balik lagi karena mungkin sudak lama menunggu.
Selang beberapa menit mereka pun sampai di rumah itu, Rifki memanggil-manggil dan menggedor rumah orang tuanya, namun tidak ada yang nyaut. Apa mungkin mereka masih di jalan tadi menunggu pohon tumbang itu selesai di benarkan.
Kemudian Rifki meminta tukang ojek untuk mengantarnya kembali ke jalan tadi. Andai saja tadi mereka lewat jalan sana mungkin sudah bertemu.
Dengan kecepatan tinggi motor itu melaju cepat hingga akhirnya mereka sampai di dekat pohon tumbang tadi, tapi mobil Pak Guntur tidak kelihatan di sana, atau mungkin sudah pergi karena jalannya sudah bisa di lewati.
"Ah mungkin saja mereka semua telah menyusul ke Puskesmas" Pikir Rifki.
Kemudian mereka melaju kembali menuju Puskesmas, berharap orang tua dan mertua Rifki juga sedang menuju ke sana.
Beberapa menit berlalu, karena motor itu melaju dengan kecepatan tinggi jadi mereka sampai dengan waktu yang cepat.
Sesudahnya sampai, Rifki buru-buru berjalan menuju ke dalam Puskesmas. Ia berharap ada orang tuannya di sana.
__ADS_1
"Bang tunggu, ini bayaran saya gimana?. Ongkos bang ongkos" Seru tukang ojek itu kepada Rifki yang buru-buru pergi.
"Nanti saja, saya kan udah bilang gak punya uang" Jawab Rifki.
Terus saya udah muter-muter ini gak di bayar?" Gerutu tukang ojek itu.
"Gini aja ya, nanti saya kembali lagi ke tempat tadi dimana abang mangkal, jika tidak percaya Abang nanti boleh susul aja tagih ke rumah saya yang tadi" Pinta Rifki.
"Ya sudah lah"
.
.
.
.
Mungkin akan jarang Up ya karena mau merevisi kesalahan penulisan/typo part-part sebelumnya.
__ADS_1
Yu ikuti terus cerita nya 🐾
Mon mff kalo masih banyak typo 🙏