
❤️❤️❤️
Karna hari ini libur aku bangun lebih siang dari biasanya. Setelah aku sadar sepenuhnya, aku beranjak dari kamarku menuruni anak tangga satu persatu menuju dapur yang ada di lantai bawah.
Beberapa hari terakhir rumah ku ini memang terasa sangat sepi sekali, karna semenjak ayahku di rawat dirumah sakit serta ibuku yang selalu menemaninya, aku hanya sendirian dirumah yang megah dan besar ini. Ya meskipun ada beberapa asisten rumah tangga di rumah ini, tapi tetap saja tanpa kehadiran kedua orangtuaku, rumah ini terasa sangat sepi bagiku.
Ku ambil air dingin yang ada di dalam kulkas, lalu ku tenggak minuman itu sampai hanya tersisa setengahnya saja.
Drt drt
Ku rogoh ponsel genggam ku yang ada dalam saku celana ku. Ku lihat nama "Reina" yang sedang menghubungiku. Tanpa menunggu lama ku tekan tombol hijau untuk mengangkat telpon darinya.
"Oiya, aku lupa menghubunginya." Batinku, karna tadi malam aku terlalu lelah sehingga aku tidur lebih awal dan tidak mengangkat telpon darinya.
"Halo, Rey. Sorry gue ketiduran tadi malam." Ucapku mengawali pembicaraan.
"Iya ngga apa-apa, gimana keadaan ayah lo?"
"Ya, sudah sedikit membaik. Tapi masih harus banyak istirahat setelah operasi." Jelasku.
"So, lo bakalan tetap terus gantiin ayah lo jadi kepsek atau cuma sementara sampai ayah lo sembuh?" Tanya nya lagi.
"Gue juga belum tau, tapi keadaan ayah gue masih belum stabil. Dan meskipun sudah membaik, kata dokter kecil kemungkinan keadaannya akan kembali sehat seperti semula."
"Gue turut prihatin ya atas keadaan ayah lo. Gue harap beliau bisa sembuh seperti semula. Dan gue juga harap lo bisa kembali ngajar disini. Anak-anak pada khawatir dan kangen sama lo."
"Apa cuma anak-anak ajanih yang khawatir dan kangen sama gue? Emang lo ngga?" Godaku.
"Hahaha dasar lo. Denger lo udah bisa becanda gini, sekarang gue udah lebih tenang." Ujarnya, ku tebak pasti dia mengembangkan senyumnya sekarang.
"Gue serius, gimana dong?!" Ujarku yang kembali menggodanya.
"Hahaha, udah ah. Ngomong sama lo itu ngga ada habisnya. Gue mau balik ngajar dulu. Kalau ada apa-apa kasih kabar ke gue. Bye.." Ucapnya sebelum memutuskan sambungan telpon.
"Ok, bye"
Tut tut
Reina Anindya, dia adalah sahabat ku sejak kecil sekaligus cinta pertamaku. Kami sama-sama mengenyam pendidikan di salah satu universitas yang ada di negara L. Dan kami juga sama-sama mengajar sebagai dosen disana tetapi dengan jurusan yang berbeda.
Karna kesehatan ayahku dan aku disuruh menggantikannya sebagai kepala sekolah, aku terpaksa berhenti dari pekerjaan ku sebelumnya.
Aku sudah beberapa kali mengutarakan perasaan ku pada Reina tetapi dia selalu beralasan tidak ingin kehilangan sahabat terbaik nya jika aku dan dia berpacaran karna kemungkinan putus dalam suatu hubungan. Meskipun aku sudah meyakinkan nya bahwa aku tidak akan pernah memutuskannya jika kami berpacaran, namun tetap saja Reina berpegang teguh pada pendiriannya.
__ADS_1
~
"Tuan mau sarapan apa? Biar saya masakkan?" Sebuah suara mengejutkan ku. Dia adalah Sita, salah satu asisten rumah tanggaku.
"Tidak perlu, saya akan sarapan di luar hari ini." Tolak ku, lalu berlalu meninggalkannya yang masih berdiri di sana.
Aku selalu risi jika berdekatan dengannya, aku merasa dia tertarik dengan ku dan mencoba menggodaku. Terlihat dari pakaiannya yang sedikit terbuka menurutku. Tapi aku sama sekali tidak tertarik dengannya, karna aku sungguh membenci wanita yang seperti itu.
Aku kembali naik menuju kamarku untuk mandi dan bersiap-siap, karna hari ini aku berniat untuk mengunjungi orangtuaku yang ada dirumah sakit.
Segera setelah siap aku langsung turun kebawah. Saat aku hendak melangkahkan kaki ku keluar dari rumah. Sebuah suara mengehentikan langkah kaki ku.
"Tuan muda tidak sarapan dulu?" Ujar sebuah suara yang tak asing di telingaku.
"Bi Ningrum?! Ya ampun bikin saya kaget aja." Ucapku yang merasa terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
"Nanti bi, saya beli sarapan di jalan aja. Soalnya sekarang saya buru-buru sebelum jalanan semakin macet" Tambahku lagi, lalu aku melanjutkan langkahku menuju garasi sebelum mendengar jawaban dari bi Ningrum.
Ku lajukan mobilku keluar dari garasi mobil, pak Amat yang merupakan penjaga dirumah ku segera membukakan pagar untukku.
"Terimakasih pak" Ujarku yang melewatinya.
"Hati-hati Tuan!" Teriaknya.
Aku hanya memberikan jempol padanya, sebelum menghilang dari hadapannya sepenuhnya.
~
~
Setelah 1 jam lebih 30 menit akhirnya aku tiba dirumah sakit tempat ayahku dirawat. Sebelumnya aku sudah membelikan buah-buahan dan makanan yang di pesan oleh ibuku.
Ku tapaki setiap lorong rumah sakit itu untuk menuju ruangan ayahku. Kurang lebih 10 menit aku sampai di depan pintu ruangan ayahku dirawat.
Tok tok
Krek
"Assalamualaikum" Sapa ku.
"Waalaikumsalam" Sahut ayahku.
"Loh, ibu kemana yah?" Tanya ku ketika tak mendapati sosok ibuku di sampingnya.
__ADS_1
"Ibu keluar ambil air minum sebentar"
"Oh begitu. Oiya, gimana keadaan ayah?" Ujarku yang kini sudah berdiri di sampingnya.
"Ya, masih seperti sebelumnya nak, tapi alhamdulilah ayah sudah bisa makan lebih banyak dari sebelumnya." Jawab ayahku.
"Syukurlah kalau begitu." Jawabku sambil memegang pundaknya.
"Ayah sama ibu belum sarapan kan? Ini aku bawain makanan kesukaan kalian." Ujarku meletakkan beberapa bungkus makanan ke atas meja.
"Wah, mendengar makanan kesukaan ayah jadi tambah lapar" Ujar ayahku sambil mengusap perutnya.
Krek
"Eh anak ibu sudah datang." Ujar ibuku dengan nada hebohnya.
"Pesanan ibu mana?" Tanya ibuku yang mendekat ke arahku setelah meletakkan minum di samping ranjang ayahku.
"Tuh" Sahutku, menunjuk setumpuk bungkusan yang ada di atas meja.
"Thank you" Ujar ibuku gembira, lalu langsung mendekat pada tumpukan makanan yang ada di meja itu.
"Ketemu anaknya biasa aja, giliran ketemu makanan aja girang banget" Celetuk ku.
"Cie, bayik gede ngambek. Kalo liat kamu itu udah sering ibu udah bosen, nah ini kan ibu pengen banget karna udah lama ngga makan" Sahut ibuku meledek, sambil sibuk membuka-buka bungkusan yang ada di atas meja itu.
"Yah, kenapa aku bisa memiliki ibu yang seperti itu?" Ujarku menatap pada ayahku.
"Ayah juga tidak habis pikir, kenapa ayah bisa menikah dengan ibumu"
"Seharusnya kalian itu bersyukur karna memiliki ibu dan istri yang cantik" Ujar ibuku bangga.
"Bu, tolong hentikan?! Coba lihat, ayah ingin muntah"
"Huek" Ujar ayahku berpura-pura seolah-olah ingin muntah.
Ibuku menyipitkan matanya dan menatap intens ke arah kami dengan ekspresi datarnya.
"Hahaha" Kelakar tawaku.
Aku sungguh rindu suasana ini, dan aku bersyukur ayahku sudah bisa bercanda kembali seperti dulu :')
❤️❤️❤️
__ADS_1
Jangan lupa like komen vote dan juga jadikan favorit ya biar kalian dapat notifikasi setiap kali novel ini di update. Cinta kalian banyak-banyak 😘
Xiexie 😚