Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Aku Mau Pulang!


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Ahhh, pusing banget!" Ucapku lemah sembari memegangi kepalaku yang terasa sangat pusing.


Dengan sedikit tenaga yang tersisa aku mencoba membuka mataku perlahan. Ketika pertama kali aku membuka mata, aku bingung sekaligus terkejut. Suasana saat ini benar-benar sangat asing di mataku.


"Ini dimana? Hshhh.." Ujarku sambil menahan sakit.


Tempat ini benar-benar asing di mataku, sebuah kamar berukuran sedang, yang terlihat cantik sekaligus menakutkan di mataku karna terdapat begitu banyaknya lampu tumblr.


"Ini bukan kamarku!" Sambungku.



Ketika aku mengedarkan pandanganku, untuk menelusuri tiap sudut yang ada di kamar ini, mataku terhenti pada beberapa foto yang tergantung di dinding. Aku merasa mengenali foto-foto itu, saat aku semakin mendekat, aku benar-benar terkejut dan seolah tak percaya.


"Apa ini aku?" Ujarku ketika melihat foto-foto tersebut.


"Tapiiii, aku ngga pernah pergi ke luar negeri sebelumnya. Kenapa fotoku ini, seolah aku ada di sana? Apa ini editan?" Aku memperhatikan setiap foto-foto itu dengan saksama.


"Tapi ngga ada tanda-tanda editan sama sekali." Sambungku, kala tak melihat satupun foto yang tergantung itu seperti editan.


"Dan lagi, aku ngga pernah memotong rambutku sependek ini." Ujarku yang semakin bingung.


Guk.. guk.. guk..


Aku terperanjat, kala mendengar bunyi lolongan anjing yang begitu keras dari luar. Karna penasaran, aku segera berjalan menuju jendela. Saat ku singkap, betapa terkejutnya aku, melihat suasana di luar sana.


"Di..dimana aku?" Ujarku terkejut melihat suasana seram di luar sana, yang bisa ku lihat hanyalah gelap, dan kegelapan yang benar-benar gelap diluar sana, Aku semakin bingung dan ketakutan setelah melihatnya.


Setelah berpikir sejenak, aku dengan segera berjalan ke arah pintu.


Tok tok tok..


Aku mengetuknya keras beberapa kali, tapi tak ada jawaban sama sekali. Bahkan ketika aku berusaha untuk membukanya, pintu ini sama sekali tidak bisa dibuka, seolah dikunci rapat-rapat dari luar.


"Apa ada orang di luar? Teriak ku.


"Tolong buka pintunya! Ada seseorang yang terkunci di dalam sini!" Teriak ku yang sudah gemetaran.


"Buka pintunya!"


Bug bug bug..

__ADS_1


Aku memukulnya keras-keras berulang kali, tapi tetap usahaku tidak membuahkan hasil. Tidak ada yang mendengar maupun menjawabku. Aku semakin takut dan cemas, tanpa ku sadari nyatanya air mataku sudah terjun dengan bebas sekarang, aku benar-benar takut. Lalu aku berpikir untuk kabur melalui jendela, tapi betapa nahasnya nasibku, jendela ini di lapisi dengan tralis besi yang sangat kuat. Dan tak terlihat apapun atau seseorang di bawah sana, karna benar-benar gelap.


"Ibu, Ayah, Pak Juan.. tolong Riri, Riri takuuutt.." Ujarku terduduk lemas ke lantai dengan air mata yang berderai dengan derasnya.


Karna terlalu lelah menangis, akhirnya aku tertidur sampai pagi menjelang.


____________


"Ah, lapar!" Ujarku lemas sembari memegangi perutku yang sudah sangat lapar.


Kreeeekkkk..


Saat ku dengar suara pintu terbuka, aku langsung memusatkan perhatianku ke sana.


"Kamu sudah bangun?"


"De.. Dennis?" Ujarku terkejut. Dengan sisa tenaga yang ada, aku berusaha untuk bangun dari tempatku, dengan tertatih aku terus berusaha berjalan mendatanginya.


"Duduklah disini!" Ujarnya yang membantuku untuk duduk di atas tempat tidur.


"Ini dimana Den?" Tanyaku dengan suara yang semakin melemah.


"Makan dulu, kamu pasti sangat lapar!" Ujarnya yang menghindari pertanyaan ku.


"Kenapa Dennis sangat aneh?" Batinku.


"Atau mau ku suapi?" Ujarnya, lalu menyendok kan nasi dan menyodorkannya ke hadapanku.


Aku masih berusaha untuk tenang dan berpikiran positif.


"Kita dimana Den?" Tanyaku menatap matanya intens.


"Dirumah kita sayang!" Sahutnya, yang membuatku membelalak kaget.


"Apa?" Pekik ku, yang masih terdengar lemah.


"Den, aku lagi ngga pengen becanda. Aku pengen pulang sekarang, hiks hiks.."


"Kenapa kamu berpikir aku bercanda sayang? Ini benar-benar rumah kita!" Ujarnya sambil mengusap air mataku.


"Aku mau pulang!" Ujarku meninggikan suara, sambil menepis kasar tangannya pada wajahku.


"Sudah ku bilang ini rumah kita!" Ujarnya membentak. Aku terkejut, amat sangat terkejut, Dennis yang ku kenal lemah lembut dan penyayang, kini dia meninggikan suaranya padaku. Ini adalah pertama kalinya, aku takut melihatnya.

__ADS_1


"Ah, maaf. Aku ngga bermaksud membentak mu sama sekali sayang!" Kata Dennis, lalu kembali menghapus air mataku.


"Sudah, jangan menangis lagi ya. Sekarang kamu makan dulu, nanti kita jalan-jalan berdua ya sayang." Ujarnya yang kembali menyodorkan sesuap nasi ke hadapanku.


Pranggg..


Seketika piring pecah, sehingga membuat semua lauk dan nasi yang ada di atasnya terjatuh berhamburan, karna ulahku yang menepisnya kasar.


"Riri bilang, Riri mau pulang!" Teriakku dengan derai air mata.


Plakkk


Aku merasakan sakit yang teramat pada pipi kiriku karna tamparannya yang sangat keras.


"Ah, maaf sayang. Aku ngga sengaja, seharusnya kamu menuruti perkataan ku dan jangan membuatku marah seperti ini." Ujarnya yang seolah tanpa dosa membelai pipi ku yang memerah akibat tamparannya.


Kini tangisku seketika berubah menjadi amarah. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat, aku sangat ingin menghajarnya saat ini. Namun saat aku ingin melayangkan tinjuku, dia berhasil menghentikan ku.


Grep


Dia memegang kedua tanganku kebelakang kuat-kuat.


"Ah, sakit!" Rintihku, karna pegangannya yang terlalu kuat.


"Aku tidak ingin menyakitimu, tapi kenapa kamu selalu saja membuatku ingin menyakitimu?"


"Aku menghargai mu selayaknya nyawaku, tapi kenapa kamu selalu membuatku marah, hah? Kenapa?" Teriaknya, sambil memegangi mulutku cukup kuat, sehingga membuatku merasakan nyeri sekaligus sakit pada tulang pipiku karna ulahnya.


Kini aku kembali menguraikan air mataku, air mata ketakutan sekaligus amarah pada sorot mataku.


"Wajah kalian sangat mirip, bahkan kelakuan kalian pun sama!" Ujarnya, lalu mendorongku ku ke belakang dengan kuat hingga aku terbaring dan kepalaku membentur tembok.


"Ahhh hshhh.." Ringisku kesakitan, sembari memegangi kepalaku yang sakit akibat terbentur.


"Renungi kesalahanmu! Sebelum kamu menyadari apa salahmu, jangan harap kamu akan mendapatkan makanan!" Ujarnya sebelum keluar.


Aku segera berlari ke arah pintu dan menggedor-gedornya, tapi nihil. Dia tidak mendengarkan ku sama sekali.


"Den, aku mohon Den. Buka pintunya, aku mau pulang!" Ujarku terisak.


"Aku mau pulang!" Aku kembali teringsut ke lantai dengan derai air mata yang terus menerus mengalir tiada hentinya.


Sesaat tatapan ku kosong, merenungi setiap perkataannya. Tapi aku sama sekali tidak mendapatkan jawaban atas renunganku. Apa salahku? Aku merasa hubunganku selama ini dengannya baik-baik saja. Aku tidak pernah memperlakukannya kasar, begitu juga sebaliknya. Aku selalu memperlakukannya tulus sebagai seorang sahabat dan juga saudara. Aku tidak tau, dimana letak kesalahan ku. Lalu kemudian aku teringat dengan perkataannya.

__ADS_1


"Wajah kalian sangat mirip, bahkan kelakuan kalian pun sama!?"


❤️❤️❤️


__ADS_2