Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Juan POV XIV


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Apa-apaan ini?" Teriakku, dengan segala kemarahan ku yang sudah membuncah.


Mereka semua yang ada di hadapanku saat ini terlihat ketakutan melihatku.


"Berani sekali kau mengakui cintamu pada istriku?" Aku berjalan dengan langkah yang pasti, dan menatap matanya dengan penuh kemarahan.


"I..istri?" Ucapnya yang terlihat ketakutan.


"Iya, Arianti Permata adalah istri ku!" Aku menjawabnya dengan lantang.


"Mas?" Terlihat ke khawatiran pada bola matanya. Tapi aku juga tidak ingin terus menutupi kebenarannya, sungguh rasanya kesabaran ku benar-benar habis.


"Ayo kita pulang!" Aku menarik tangannya paksa, keluar dari kelas.


👿


"Pak? Pak Juan?" Panggil seseorang yang tiba-tiba membuatku tersadar.


"I..iya ada apa?"


"Ada perlu apa ya Pak?" Tanya salah satu dari mereka. Tampak dari mereka menatapku dengan penuh kebingungan, tak terkecuali istriku, Riri.


"Ada apa ini, berantakan sekali?" Tanyaku.


"Haishhh, kenapa aku tidak bisa menarik tangannya sekarang? Padahal untuk mengatakan bahwa dia istriku adalah hal yang mudah, tapi kenapa aku tidak bisa. Haishh sial!" Rutukku dalam hati.


"Ah, maaf Pak. Kami sedang merayakan ulang tahunnya Riri. Tapi kami janji, setelah semuanya selesai kami akan membereskannya." Ucap salah satu dari mereka.


"Iya, benar Pak. Kami akan bersihkan semuanya." Timpal yang lainnya.


"Ehm, baiklah kalau begitu." Ucapku, kemudian aku berbalik. Namun sebelum melanjutkan langkahku, aku tiba-tiba memiliki sebuah ide untuk bisa membuat Riri keluar dari kelas ini sekarang.


"Ah, iya saya lupa. Riri, ikut ke ruangan saya sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan mengenai audisi gadis sampul berikutnya." Ujarku sebelum benar-benar melangkahkan kaki keluar dari kelasnya.


"Iya Pak!"


Tak berselang lama, kini dia berjalan mengikutiku di belakang. Segera setelah masuk ke dalam ruanganku, aku langsung menutup pintu dan menguncinya.


"Mas, Riri harap mas ngga salah paham. Tadi.."


Grep


Aku memeluknya.


"Mas?"

__ADS_1


"Heh, kenapa sainganku ada dimana-mana?" Gumamku, aku semakin mengeratkan pelukanku.


"Ingin sekali rasanya tadi aku mengumumkan pada semuanya, bahwa kamu adalah istriku." Ujarku, yang kemudian melepaskan pelukanku.


Ku lihat dia hanya tersenyum menanggapi ucapanku.


"Kamu tersenyum? Waaahhhh.. Aku yang hampir mati berdiri karna hatiku yang terbakar, sekarang kamu malah tersenyum?"


"Hehhe, sayaaaaangggg!" Ujarnya yang mulai menggelayut manja di lenganku.


"Jangan tersenyum, aku benar-benar marah sekarang!"


"Sayaaaaangggg, ayolah.. Dia kan hanya ingin mengungkapkan isi hatinya, semua orang berhak untuk mengungkapkan rasa sukanya pada siapa saja. Biar hatinya juga lega."


"Apa? Jadi, kamu senang dia mengungkapkan perasaannya untukmu? Dan apa tadi, dia akan mendatangimu setelah dia sukses nanti? Heh, yang benar saja." Balasku, seraya melepaskan tautan tangannya pada lenganku.


"Bukan begitu, Riri cuma pengen dia lega karna bisa mengungkapkan apa yang dia pendam selama ini. Dan lagi, Riri juga ngga ada maksud buat nerima dia kok. Kan Riri udah punya suami." Ujarnya yang kembali menggelayut manja di tanganku.


"Terus, kenapa tadi kamu diem aja waktu dia bilang suka sama kamu? Kenapa kamu ngga langsung tolak aja, toh pada akhirnya kamu juga pasti bakalan nolak dia."


"Iya, kan seperti yang Riri bilang tadi. Riri cuma mau memberi dia ruang untuk mengungkapkan apa yang dia pendam. Riri cuma mau kasih waktu buat dia, lagian ngga mungkin kan Riri nolak dia dihadapan temen-temen Riri. Kasian, dia pasti bakalan terluka dan malu banget."


"Tapi, dengan sikap kamu yang seperti itu. Kamu malah membuatnya semakin berharap. Ngga ada yang berubah, mau kamu bilangnya sekarang atau nanti. Pada akhirnya dia akan tetap terluka."


"Iya mas, Riri juga sadar akan hal itu kok. Tapi mas, mas bisa kan kasih Riri waktu untuk ngejelasin semuanya ke dia, Riri ngga mau nyakitin dia mas. Gimanapun juga, dia salah satu teman terbaiknya Riri."


"Terserah kamu saja lah!" Ujarku yang mulai malas.


Sesaat aku hampir saja tergoda dengan rayuannya.


"Ngga, ngga boleh. Jangan jadi laki-laki yang gampangan Ju. Ingat! Kamu adalah laki-laki sejati yang keren, kamu tidak boleh goyah hanya karna itu. Tunjukkan padanya, bahwa kamu bukanlah laki-laki gampangan yang mudah dirayu." Monologku dalam hati.


"Apa kamu pikir aku akan luluh begitu saja? Heh, jangan harap!" Seringaiku. Lalu aku segera berbalik untuk mengambil tas kerjaku lalu kemudian berjalan keluar dari ruanganku


"Mas, tunggu!"


______________


"Pagi sayang!" Ucapnya pelan seraya mengecup lembut pipi kananku.


"Ehm!" Sahutku sekenanya.


"Pfhttt.." Kulihat dia mengulum senyum di bibirnya.


"Jangan ketawa!"


"Ngga kok, siapa bilang Riri mau ketawa."

__ADS_1


"Itu tadi apa?"


"Apa? Ngga ada apa-apa kok. Pfhttt.."


"Nah itu apa?"


"Apa? Ngga ada kok!" Elaknya.


"Aku melakukannya, karna kamu terus menggodaku. Karna kamu terus memaksaku, bukan atas kemauanku sendiri. Jadi jangan harap kemarahan ku sudah reda gara-gara apa yang kita lakukan tadi malam. Yang jelas, aku masih marah. Aku belum luluh sama sekali."


"Pfhttt.. Iya-iya suami kuuuuu... Lagian Riri ngga ada bilang apa-apa kok. Akan Riri ingat, mas Juan sekarang masih marah dan belum luluh."


"Ehm.. baguslah!"


"Tapi, ada apa dengan pakaian mu? Kenapa memakai baju seperti itu? Bukannya kamu harus kesekolah?" Ujarku yang heran melihatnya mengenakan baju santai.


"Mas ngga tau? Hari ini Riri izin karna ada pemotretan untuk keperluan audisi, ditambah mau bikin videografi nanti yang akan di upload di YouTube."


"Hah? Kenapa ngga ada yang ngasih tau?"


"Mas kan kepseknya, kok ngga tau sih? Mungkin mas lupa kali. Yaudah pokoknya Riri ngga kesekolah hari ini. Riri berangkat dulu ya, udah ditungguin soalnya." Balasnya, seraya mengambil tas kecilnya.


"Eh, tunggu-tunggu. Kamu perginya sama siapa?"


"Sama Dennis, yaudah Riri berangkat dulu ya mas?" Ujarnya yang kemudian mencium punggung tanganku lalu segera berlari keluar dari kamar.


"Apa? Dennis?"


____________


Waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi. Kini aku sedang duduk di meja kerjaku dengan perasaan yang gelisah.


Setelah diliputi dengan perasaan yang tidak tenang, akhirnya aku memantapkan pilihanku. Iya, aku akan mendatangi Riri sekarang.


Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera mengambil kunci mobilku.


Tok tok tok


"Pak, untuk anggaran.."


"Kita bicarakan nanti saja!" Jawabku yang melengos begitu saja di hadapannya.


Dengan sedikit mengebut, aku melajukan mobilku menuju studio yang biasanya digunakan oleh Dennis. Setelah kurang lebih 40 menit, aku akhirnya tiba di depan studio.


Setelah turun dari mobil, aku langsung segera masuk kedalam studio. Aku terus mencari sosoknya, hingga ku temukan dia sekarang yang berdiri dibawah sorotan lampu.


"Pak Juan? Bapak ngapain disini?" Tanya sebuah suara mengejutkan ku.

__ADS_1


❤️❤️❤️


Maaf ya guys, karna ngga double up. Utur lagi sibuk akhir-akhir ini 😁. Tapi kalau ada kesempatan, pasti akan up kok 😊 terimakasih untuk para readers yang masih setia nungguin update an dari utur receh 😘😚 see u tomorrow dear 😚 selamat malam semuanya, mimpi indah 😚😚😚


__ADS_2