Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Kondangan Mendadak II


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Ri..Riri..!"


"Eh, i..iya Pak?" Aku terperanjat mendengar panggilannya.


"Apa yang kau lamunkan?" Tanya Pak Juan menelisik.


"Ngga ada kok Pak." Sahutku cepat.


Sesaat ku lihat dia mengerutkan kedua alisnya menatap ku heran.


"Cepatlah, kita sudah di tunggu!" Ujar Pak Juan kembali menarik tanganku.


Tanpa menjawab ucapannya, aku berjalan mengikutinya seirama dengan tarikan tangannya pada tanganku. Saat kami lewat, ku rasakan ada beberapa tatapan mata yang terus memperhatikan kami dan juga berbisik.


"Itu Juan Kan? Anaknya Adi dan Nala. Siapa wanita yang di gandengnya itu?"


"Iya, dia sangat cantik."


"Padahal aku ingin menjodohkan anakku dengan anaknya Bu Nala, tapi ternyata dia sudah punya kekasih."


Begitu lah kira-kira pembicaraan ibu-ibu yang berkerumun ketika kami melewati mereka, ada rasa senang di hatiku ketika mereka menyebutku sebagai kekasihnya Pak Juan.


"Sebelah sini sayang?!" Teriak sebuah suara di tengah-tengah kerumunan orang yang berlalu lalang di acara ini.


"Ibu!" Batinku, yang mengenali teriakan suaranya.


Pak Juan yang mengenalinya pun, langsung menarik tanganku ke arah sumber suara itu.


"Aduh!" Pekik ku.


"Ada apa?" Tanya Pak Juan terkejut mendengar pekik kan ku.


"Kaki Riri Pak." Sahutku sembari mengurut-urut kakiku yang sakit akibat memakai sepatu hak tinggi, karna ini adalah pertama kalinya aku mengenakan high heels.


"Coba ku lihat!" Ujarnya yang langsung berjongkok.


"Wah, mereka romantis sekali! Bisik seseorang ketika melewati ku dan Pak Juan.


"Seperti jaman kita masih muda ya mah, hihiii.."


"Halah, mana pernah papah berjongkok ketika kaki mamah sakit gara-gara pakai high heels."


"Eh, pernah tau."


Aku tersenyum mendengar ucapan mereka. Aku juga merasa sangat senang karna perlakuan Pak Juan beberapa hari ini sangat manis padaku, meskipun terkadang ucapannya masih terdengar dingin dan cuek. Tapi ucapannya sering kali berbanding terbalik dengan tindakannya. Aku kembali mengembangkan senyumku ketika memandanginya yang masih sibuk dengan kakiku di bawah sana.


"Bagaimana? Masih sakit?" Tanya Pak Juan sambil mendongakkan kepalanya menatapku.


"Udah mendingan Pak." Sahutku tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Bisa jalan? Coba pelan-pelan!" Ujarnya sambil membantuku berjalan.


Aku mencoba berjalan beberapa langkah, meskipun masih terasa sedikit sakit tapi aku terus mencobanya.


"Jalannya pelan-pelan saja." Ujar Pak Juan sambil membantuku berjalan dengan melingkarkan tangannya pada pinggulku.


"Loh, kamu kenapa sayang?" Tanya Bu Nala cemas, ketika melihatku yang berjalan di bantu oleh Pak Juan.


"Kakinya keseleo Bu, gara-gara pakai heels." Jawab Pak Juan.


"Yaudah, duduk dulu disini yuk." Ucap Bu Nala yang juga ikut memegangi tanganku dan membantuku duduk di kursi yang tak jauh dari tempatku berdiri.


"Yaudah, Ibu cariin balsem dulu ya." Kata Bu Nala.


"Ngga usah Bu, Juan punya kok salep pereda nyeri di mobil. Biar Juan ambil sebentar." Ucap Pak Juan langsung berlari kecil meninggalkan ku dan Bu Nala.


Aku tersenyum memandangi punggungnya dari belakang.


"Aduh, kok bisa gini sih sayang? Pasti sakit banget ya?" Ujar Bu Nala lagi, yang terlihat cemas padaku.


"Hehhe, ngga papa kok Bu. Ini juga gara-gara Riri yang ceroboh." Ucapku malu sambil menggaruk-garuk tengkuk ku yang sebenarnya tidak gatal.


"Oiya, ayah mana Bu?" Tanyaku, yang baru menyadari bahwa ayah mertuaku tidak terlihat dari tadi.


"Itu... lagi ngobrol sama saudara-saudara Ibu." Jawab Bu Nala sembari menunjuk ke arah suaminya berada.


Semua saudara mertuaku tampak elegan dan bermartabat. Jujur, ada rasa minder dalam hatiku ketika melihat mereka. Tiba-tiba aku merasa tidak pantas bersanding dengan Pak Juan, seharusnya Pak Juan bisa mendapatkan istri yang pantas bersanding dengannya, tetapi sekarang dia malah terjebak dengan gadis biasa seperti ku.


"Apa lagi yang kau lamunkan?" Tanya sebuah suara tiba-tiba.


"Eng.. ngga ada." Sahutku kemudian.


Ku lihat Pak Juan mengolesi kaki ku dengan salep pereda nyeri lalu di pijatnya dengan perlahan.


"Makanya lain kali kalo tidak bisa menggunakan heels itu bilang, jangan sok bisa." Celetuknya tiba-tiba yang membuatku kesal.


"Cih, mulai lagi." Gumamku.


"Apa katamu?" Ujar Pak Juan menatap intens pada netra pekatku.


"Ngga!" Sahutku yang langsung membuang muka.


"Juaaaannn..." Ujar Bu Nala menatap tak suka pada anaknya itu.


"Kakaaaaakkk..." Teriak sebuah suara, sontak mengalihkan perhatian kami.


Dari kejauhan nampak seorang wanita paruh baya sedang menggandeng seorang laki-laki yang sudah berumur namun masih tampak gagah berjalan ke arah kami. Bisa ku tebak, mereka pasti pasangan suami-istri.


"Indah?" Ucap Bu Nala tersenyum gembira.


Lalu mereka saling menghambur peluk.

__ADS_1


"Aduuhhh, kangen bangeeettt.. udah lama kita ngga ketemu ya kak?" Ucap wanita paruh baya bernama Indah itu sembari melepaskan pelukannya dari Ibu mertuaku.


"Iya, kamu tambah cantik aja. Awet muda sekali." Ujar Bu Nala tak kalah hebohnya.


"Juan, gimana kabarnya?" Tanya laki-laki paruh baya itu menyalami tangan Pak Juan.


"Alhamdulillah, baik Om." Sahut Pak Juan yang menyambut uluran tangannya.


"Ini siapa kak?" Tanya wanita bernama Indah, menunjuk ke arahku.


"Oh iya, kenalkan. Ini Riri, istrinya Juan." Ujar Bu Nala memperkenalkan ku.


"Riri, Om.. Tante.." Ujarku menyalami kedua tangan mereka bergantian sambil tersenyum ramah.


"Wah Juan, kamu sudah menikah? Kok ngga bilang-bilang, hah?" Ujar suami dari Bu Indah menepuk bahu Pak Juan tiba-tiba.


"Iya, kok ngga bilang-bilang." Timpal Bu Indah.


"Iya Tante, Om.. Kemarin semuanya serba mendadak. Jadi cuma keluarga inti yang hadir." Sahut Pak Juan.


"Mendadak? Ngga lagi..." Ucap Bu Nala menggantung.


"Ngga dong ndah." Jawab Bu Nala cepat.


"Hehhe, siapa tau kan? Soalnya kakak ngga bilang apa-apa sih, soal Juan yang menikah." Ujarnya lagi.


" Oiya, Riri. Kamu kerja apa?" Tanya Bu Indah padaku.


"Eh, eng.. itu..."


"Kenapa harus bekerja, lagian kan ada Juan yang bisa memenuhi setiap kebutuhannya." Lagi-lagi Bu Nala yang menyahut pertanyaan dari Bu Indah.


Aku hanya bisa tersenyum kikuk ke arahnya. Jujur, aku mulai merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang di lontarkannya.


"Orangtua kamu bekerja di bidang apa? Di bidang pendidikan juga? Atau mereka punya perusahaan sendiri?"


Deg


Yang ku takutkan akhirnya terjadi, sebuah pertanyaan yang sebenarnya memiliki jawaban tapi entah kenapa bibirku kelu untuk menjawabnya.


"Buuuu..." Ujar suami dari Bu Indah.


Ada rasa sesak ku rasakan di ulu hatiku ketika mendengar pertanyaannya. Bukan pertanyaannya yang salah, tapi aku. Bibirku tiba-tiba kelu tidak bisa menjawabnya. Padahal aku tau jawabannya, tapi aku tidak sanggup untuk mengatakannya. Karna aku tidak mau kedua mertuaku dan juga suamiku menanggung malu karna aku.


"Ternyata Tante masih belum berubah?!" Ujar Pak Juan tiba-tiba.


"Eh, eng.. anu. Tante kan cuma mau yang terbaik untuk kamu Juan. Tante ngga mau pasangan kamu dari keluarga yang sembarangan."


"Terimakasih Tante, tapi Juan tau mana yang terbaik untuk Juan."


"P.. Pak Juan? Di..dia membelaku?"

__ADS_1


"Sayang, kita kesana yuk. Aku udah laper." Ucap Pak Juan tersenyum manis padaku.


❤️❤️❤️


__ADS_2