
❤️❤️❤️
Hari sudah semakin sore, jadi kami memutuskan untuk pulang, dan bertemu kembali besok jam 8 pagi di sebuah cafe yang tak jauh dari sekolahku. Kania pulang bersama pacarnya, sedangkan aku di antarkan oleh Dennis. Oiya, sudah seminggu lebih sejak Dennis memilih untuk tinggal di apartemennya sendiri. Meskipun Dennis sudah tidak tinggal di rumah mertuaku lagi, tapi dia sangat sering berkunjung, bahkan hampir setiap hari.
"Ngga masuk dulu?" Tanyaku, ketika aku sudah turun dari mobil Dennis.
"Ngga bisa gue Ri, udah ada janji sama temen. Titip salam aja ya buat Om, Tante sama kak Juan."
"Ohh, yaudah. Iya, nanti Riri sampein." Ujarku mengerti.
"Yaudah, gue pergi dulu ya?!" Pamitnya, sebelum menyalakan kembali mesin mobilnya.
"Iya, hati-hati."
"Siap!" Sahutnya sambil memberikan hormat sebelum melajukan mobilnya kembali.
Segera setelah kepergian Dennis, aku langsung berjalan dan masuk ke dalam rumah. Ku lihat saat berada di ambang pintu, Ayah dan juga Ibu mertuaku tengah asik menonton tv.
"Assalamualaikum!" Sapa ku.
"Waalaikumsalam!" Sahut keduanya.
"Mana Dennis? Kok ngga masuk?" Tanya Bu Nala.
"Iya, setelah nganter Riri, Dennis langsung pergi Bu, katanya ada janji sama temen. Tadi Dennis titip salam buat Ibu sama Ayah." Ujarku menyampaikan salamnya Dennis pada kedua mertuaku.
"Dasar anak itu, bukannya masuk dulu."
"Yaudah sayang, kamu istirahat gih." Sambung Bu Nala.
"Yaudah, kalau gitu. Riri ke atas dulu Yah, Bu." Pamitku.
-
Memikirkan tentang besok, aku kembali bersemangat. Pasti akan sangat menyenangkan pergi ke beberapa tempat untuk mengambil foto bersama Dennis, Kania dan juga pacarnya.
Kreeekkk
Saat pertama ku buka pintu, aku langsung di perlihatkan dengan pemandangan yang sangat tidak menyenangkan. Pak Juan terlihat sedang duduk bersandar di atas ranjangnya sambil menatap tajam ke arahku.
"Darimana saja kau? Jam segini baru pulang?" Tanya Pak Juan dengan ekspresi dinginnya.
"Habis ketemu sama temen." Sahutku santai sambil berjalan ke arah sova untuk meletakkan tasku.
"Bagus sekali ya, keluar se enaknya tanpa minta izin." Ujarnya menyindir.
Aku langsung berbalik menatapnya sambil mengernyitkan kedua alisku.
"Siapa bilang ngga izin? Riri izin kok tadi sama Ibu dan Ayah."
"Aku ini suamimu, tidak kah salah menurutmu seorang istri keluar se enaknya tanpa minta izin terlebih dahulu dengan suaminya?" Ujarnya yang kini meninggikan nada suaranya.
"Oh, jadi Bapak itu suaminya Riri? Kirain bukan." Gumamku pelan.
"Apa kau bilang?"
"Ngga, ngga bilang apa-apa. Udah ya Pak, Riri capek berdebat mulu. Riri mau mandi." Ujarku yang malas meladeninya, lalu berjalan melewatinya menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Kau itu selalu membalas apa yang ku katakan."
"Di jawab salah, ngga di jawab makin salah." Gerutuku pelan.
"Aku bisa mendengarnya."
"Bagus deh kalau Bapak denger. Udah dulu ya Pak, Riri mau mandi dulu, gerah banget. Nanti di lanjut lagi ngomel-ngomelnya." Ujarku, entah keberanian dari mana aku bisa mengatakannya secara gamblang.
Brak
Segera setelah aku masuk ke dalam kamar mandi, aku langsung mengisi bathtub dengan air hangat dan tidak lupa ku tambahkan aroma terapi ke dalamnya, setelah selesai aku langsung melepas semua pakaian ku dan berendam ke dalam bathtub.
"Enaknyaaa.." Gumamku, sambil terpejam menikmati hangatnya air dan aroma yang membuat pikiranku menjadi lebih tenang.
Tanpa sadar, aku malah tertidur di dalam bathtub. Tiba-tiba aku merasakan ada tangan seseorang menyentuhku yang sontak membuat ku terkejut.
"Apa yang Bapak lakukan?" Pekik ku sambil menutupi dada dengan kedua tanganku, karna tubuhku sekarang dalam keadaan polos. Tapi untung saja aku tadi menambahkan sabun cair berwarna putih, sehingga membuat air menjadi keruh, jadi tubuh polosku tidak akan terlihat olehnya.
"Dari tadi ku panggil-panggil tidak menyahut, ku kira kau pingsan."
"Siapa yang pingsan, orang cuma ketiduran." Gumamku.
"Bodoh, kalau mau tidur di kamar kenapa malah tidur disini. Yang ada kau malah terserang flu, tidur sambil berendam."
"Ya namanya juga ketiduran, bukan sengaja tidur."
"Ck, kau itu terlalu banyak bicara." Ujarnya kemudian kembali mengulurkan tangannya, seolah hendak mengangkat ku.
"Eh, eh.. Bapak mau ngapain?" Tanyaku panik.
"Ngga usah, sekarang Riri ngga pake baju Pak." Ujarku dengan cepat menepis tangannya.
"Memangnya kenapa kalau kau tidak memakai baju?" Tanya Pak Juan dengan santainya.
"Toh, aku sudah pernah melihat semuanya." Ujarnya lagi.
"Pernah melihat semuanya? Maksud Bapak?" Tanyaku bingung.
"Iya, waktu itu aku sudah melihat semuanya. Jadi untuk apa kau malu?" Kata Pak Juan.
"Waktu itu?" Ujarku sambil mengingat.
Aku kembali teringat kejadian beberapa minggu yang lalu, ketika Pak Juan tidak sengaja menginjak handukku sehingga terlepas dan secara otomatis langsung memperlihatkan tubuh polosku.
"Jadi, Pak Juan membohongi Riri?" Pekik ku.
"Apa kau tidak bisa bicara pelan-pelan?" Ujar Pak Juan menutup kedua kupingnya.
"Haishh, keluar!" Pekik ku lagi yang tak memperdulikan perkataannya.
"Ayo, biar ku bantu." Ujarnya lagi yang pura-pura tidak mengerti dengan ucapan ku.
"Maksud Riri, Pak Juan yang keluar."
"Biar ku bantu kau dulu." Ujarnya yang membuatku semakin kesal.
"Haishh, Bapak keluar sekaraaaaangggggg.." Teriak ku.
__ADS_1
"Keluar ngga?"
"Keluar ngga?" Ujarku sambil mencipratkan air padanya.
"Iya, iya. aku keluar sekarang. Tapi jika dalam 5 menit kau belum juga keluar. Aku akan langsung mengangkat mu." Ancamnya sebelum keluar dari kamar mandi.
"Riri bilang keluaarrrrr.." Pekik ku sambil terus mencipratkan air ke arahnya sebelum dia benar-benar keluar dan menutup kembali pintu kamar mandi.
"Haishh, Pak Juan itu benar-benar.."
"Jadi, dia benar-benar sudah melihat semuanya?" 😭
-
Karna ancamannya, aku segera beranjak dari bathtub lalu meraih jubah mandi dan langsung memakainya. Saat hendak membuka pintu, aku kembali jadi ragu-ragu. Rasa malu ku yang sudah ku kubur waktu itu, sekarang muncul kembali.
"5.."
"4.."
"3.."
Teriaknya yang membuatku semakin panik.
"Aduhhhh.. gimana nih." Kaki ku jadi ikut gemetar saking gugupnya.
"2.."
Kreeeekkkk
Dengan sangat hati-hati aku membuka pintu kamar mandi. Dan berjalan menuju lemari dengan menunduk.
Saat sudah mengambil baju tidur, aku berbalik hendak kembali ke kamar mandi untuk mengenakan pakaianku. Namun lagi-lagi Pak Juan menghentikan langkah kaki ku.
"Mau kemana? Ganti saja pakaian mu disini, toh aku sudah melihat semuanya." Ujarnya yang membuatku semakin kesal.
Aku mendelik kesal ke arahnya, lalu tanpa menggubrisnya aku langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk berpakaian.
"Dia itu hobi banget sih bikin orang kesal." Gerutuku sambil mengenakan pakaian.
Sesaat setelah mengenakan pakaian, aku kembali masuk ke dalam kamar dan berjalan menuju lemari untuk mengambil selimut, lalu berjalan menuju ranjang untuk mengambil bantal. Karna seminggu kemarin setelah aku berbaikan dengannya, aku tidur bersamanya. Tapi dia benar-benar membuat ku kesal sekarang, aku tidak mau tidur di sampingnya malam ini.
"Kau mau kemana?" Tanya pak Juan bingung yang melihatku mengambil selimut dan bantal.
"Mau tidur!" Jawabku ketus.
Lalu aku meletakkan bantal ke atas sova, dan tanpa membuang waktu aku langsung berbaring dan menarik selimutku sehingga menutupi seluruh tubuhku.
"Kemarilah, tidur disini!"
"Ogah!" Batinku.
"Kau marah? Hanya gara-gara itu kau marah padaku?"
Sesaat aku mendelik kesal ke arahnya sebelum kembali berbalik memunggunginya.
❤️❤️❤️
__ADS_1