Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Bodoh Sekali!


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Woah woah woah, kayaknya ada yang kangen gue nih." Ujar Dennis.


"Iyalah, Riri kangen tau." Ujarku girang, aku langsung duduk di sebelahnya, bahkan dengan sengaja ku pepetkan jarak kami agar terlihat sangat dekat, tanpa menghiraukan sosok suami yang sedari tadi berdiri mengamati ku dan Dennis.


"Oiya, kalian sudah makan belum? Kebetulan tadi di jalan pulang gue beli lontong sayur, enak banget loh!" Kata Dennis meyakinkan.


"Woah, kebetulan Riri pengen banget lontong sayur." Ucapku dengan mata yang berbinar.


"Udah kenyang gue Den!" Ujar Pak Juan datar, lalu tanpa permisi dia langsung naik ke atas meninggalkan ku dan Dennis.


Saat ku rasa Pak Juan sudah masuk ke kamarnya, dengan cepat aku menarik tangan Dennis menuju taman belakang.


"Loh, Ri? Mau kemana?" Tanyanya saat ku tarik paksa tangannya agar mengikuti ku.


"Udah, ikut aja" Sahutku, yang masih terus menarik tangannya sambil berlari kecil.


"Ok, sekarang Lo udah bisa kasih tau gue kan? Ada apa sih?" Tanya Dennis lagi ketika kami sudah tiba di bangku taman belakang.


"Bentar, bentar." Ujarku sambil mengatur napas yang tersengal.


"Ok, Riri to the point aja ya. Aku perlu bantuan kamu Den?!" Kataku, to the point.


"Bantuan? Bantuan apa?" Tanya Dennis yang terlihat bingung.


"Bisa ngga kita bersikap manis di hadapan Pak Juan, seperti seseorang yang saling menyukai?" Pintaku.


"Hah, Lo jangan gila deh Ri. Kemaren aja kak Juan marah sama gue beberapa hari gara-gara gendong Lo karna gue cuman mau bantuin Lo. Sekarang Lo minta gue buat akting saling suka di depan dia? Ngga, Ngga. Gue ngga mau mati muda Ri." Tolak Dennis cepat.


"Ayodong Den, bantuin Riri, Please!" Ujarku memelas.


"Ngga, ngga. Lagian Lo kenapa si mau akting begitu di depan kak Juan? Ada-ada aja si." Ujarnya yang heran dengan ide gilaku ini.


"Riri cuma pengen tau isi hati Pak Juan Den."


"Bukannya udah bisa di liat ya, dengan reaksi marahnya ketika gue gendong Lo hari itu menandakan dia punya perasaan sama Lo? Kalo ngga mana mungkin dia marah?" Ujar Dennis.


"Iya sih, tapi aku masih ragu Den. Melihat sikap Pak Juan yang terkadang baik, perhatian, tapi kadang cuek dan dingin. Malahan lebih banyak cueknya. Ditambah kamu dulu juga pernah bilang kan, kalau Pak Juan sudah memiliki wanita yang di cintainya sebelum menikah denganku. Aku takut Pak Juan masih mencintainya. Sebelum semuanya terlambat dan rasa cintaku ini semakin dalam, aku ingin mengakhirinya Den. Aku tidak ingin menjadi luka di antara kebahagiaan mereka. Aku ingin dia mengakui perasaannya sendiri, sehingga aku juga bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan ku selama ini, sebelum terlambat dan kami sama-sama terluka."


"Apa Lo bisa menghadapi konsekuensinya? Kalau benar mereka saling mencintai, dan kak Juan ninggalin Lo?" Tanya Dennis, menatap intens pada netra pekatku.


"Kenapa ngga bisa?" Ujarku tersenyum ketir membalas tatapan Dennis. Jujur aku juga takut akan akhir cerita antara aku dan Pak Juan, seketika aku merasakan perih di ulu hatiku, memikirkan kemungkinan hubungan kami akan berakhir. Dan usaha kedua orangtua untuk mendekatkan kami selama ini akan berakhir sia-sia yang pada akhirnya hanya akan meninggalkan bekas luka mendalam bagi mereka.

__ADS_1


______________


Setelah selesai berbicara dengan Dennis, aku segera berjalan masuk kedalam rumah dan menaiki anak tangga menuju kamar.


Sebelum masuk, aku mengatur kembali napas serta ekspresi wajahku yang sebelumnya terlihat muram. Setelah kurasa semuanya terlihat baik-baik saja, dengan pelan tapi pasti aku memegang gagang pintu dan..


Krek


"Pak Juan kemana?" Gumamku, kala tak melihat sosoknya di dalam kamar.


"Apa di kamar mandi?" Pikirku, lalu aku berjalan menuju kamar mandi, namun lagi-lagi sosoknya tak terlihat sama sekali di dalam sana.


"Kemana ya?" Gumamku pelan.


Aku mencoba mencarinya di ruangan kerja yang terletak persis di sebelah kamar.


Tok tok tok


Krek


"Pak?" Panggilku pelan, namun hasilnya nihil. Saat ku telusuri di setiap sudut ruangan dengan mataku, lagi-lagi sosoknya sama sekali tak terlihat.


"Kemana ya dia?" Ujarku bertanya-tanya dalam hati.


"Apa aku telpon aja ya?" Pikirku kemudian.


Sekarang aku duduk di ruang tengah sambil menonton tv, tapi tentu saja itu bukan niatku. Aku sengaja duduk disini untuk menunggunya.


Krek


Saat suara pintu yang terbuka, menandakan ada seseorang yang datang. Dengan antusias aku membalikkan badanku untuk melihat siapa yang datang.


"Assalamualaikum" Ucap sebuah suara.


"Waalaikumsalam Bu, Yah" Sahutku.


Ada sedikit rasa kecewa di hatiku, ternyata bukan sosok orang yang sedang ku tunggu saat ini.


"Aduh, jalanan macet banget loh di luar sayang. Gara-gara ada orang kecelakaan." Ujar Bu Nala, lalu duduk di sampingku bersama Ayah Adi.


"Kecelakaan?" Pekik ku kaget.


"Iiiya" Angguk Bu Nala, menatap bingung dengan responku.

__ADS_1


"Gimana kalo Pak Juan? Gimana kalo saking marahnya, dia nyetirnya ngebut, dan..." Batinku, pikiran-pikiran buruk mulai mendatangi isi kepalaku.


"Ri... Riri?" Panggil Bu Nala cukup keras, sehingga membuyarkan lamunanku.


"Eh, i..iya Bu" Sahutku tergagap.


"Ada apa sayang?" Tanya Bu Nala lagi.


"Eh, eng.. ngga papa kok Bu. Riri ke atas dulu sebentar ya?" Pamitku, tanpa menunggu jawaban dari kedua mertuaku.


Dengan tergesa-gesa aku berlari menaiki anak tangga menuju kamar, saat sudah berada di dalam kamar, aku segera mencari telpon genggam ku yang sebelumnya ku lempar asal ke atas ranjang. Tanpa menunggu lagi, segera ku cari nama "Ubin dingin" di kontak ponselku.


Drt drt


Sudah 2 kali ku hubungi, tapi belum juga mendapat jawaban dari orang yang ku hubungi di seberang telpon.


"Kenapa ngga di angkat, padahal tersambung?" Batinku.


Lalu saat ketiga kalinya aku mencoba menghubunginya, dia mengangkat telpon dari ku.


"Halo Pak?" Ujarku dengan nada yang terdengar khawatir.


"Halo pak, halo" Ujarku lagi, karna dia tidak menjawab ucapanku.


"Ada apa sih, berisik sekali!" Pekiknya.


"Bapak dimana? Baik-baik aja kan?" Tanyaku, tanpa menghiraukan ucapannya.


"Hm" Jawabnya singkat.


"Syukurlah, Riri kira Bapak marah gara-gara melihat Riri bersama Dennis tadi terus Bapak jadi pergi bawa mobil kebut-kebutan terus kecelakaan" Cerocosku tanpa sadar dengan ucapanku sendiri.


"Hah? Kau itu bicara apa? Mimpi? Dan 1 lagi, aku tidak akan melakukan hal gila karna kau. Karna apa? Karna kau bukan siapa-siapa bagiku. Apa peduli ku jika kalian semakin dekat?"


Tut tut tut


Mendengar ucapannya barusan, bak tertampar kenyataan, air mataku lolos tanpa di perintah.


"Heh? Apa yang kamu pikirkan Ri? Bisa-bisanya kamu pikir Pak Juan cemburu hanya karna melihat kedekatan mu dengan Dennis, lalu dengan bodohnya dia mengebut lalu kecelakaan seperti adegan-adegan yang ada di tv. Bodoh sekali!"


❤️❤️❤️


Tolong bantu like, komen, vote, favorit serta kritik dan saran yang membangunnya juga ya untuk novel retjeh ini 🤗😁

__ADS_1


Karna dukungan, kritik serta saran dari kalian para readers sangat membantu Author dalam menghasilkan karya yang lebih baik lagi 😘


Terimakasih untuk kalian yang sudah membantu dan meninggalkan jejaknya di bawah 😘


__ADS_2