Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Bosan Sekali!


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Pak Juan?! Apa yang bapak lakukan disini?". Pekik ku terkejut sambil mengatup kedua tanganku di dada.


"Kau sendiri kenapa berteriak? Membuat orang khawatir saja!".


"I..itu, karna Riri terpeleset dan jatuh". Ujarku menunduk malu.


"Ta..tapi meskipun begitu bapak tidak seharusnya masuk begitu saja dong!". Kilah ku cepat.


"Salah sendiri pintunya tidak di tutup". Ujarnya enteng.


"I..itu...


"Apa? Kau mau cari alasan apa lagi? Jelas-jelas kau yang salah, siapa suruh pintunya tidak di tutup". Ujarnya sebelum keluar meninggalkan ku.


"Ke..kenapa jadi aku yang salah?!".


"Tapi, kenapa dia meninggalkan ku sendirian? Bukannya membantu ku berdiri?!". Sungutku.


"Em, pak?! Apa bapak masih disitu?". Panggil ku pelan.


"Pak Juan?!". Ujarku dengan nada yang meninggi karna panggilan ku sebelumnya tidak di gubris olehnya.


"Ada apa lagi?". Sahutnya yang kini sudah berada di ambang pintu.


Aku mengulurkan kedua tanganku meminta belas kasihnya, dengan ekspresi yang memelas, berharap dia mau menolongku.


"Kau ini merepotkan sekali!". Ujarnya namun tetap membantuku untuk berdiri.


Saat dia hendak membantuku berdiri, dia tidak sengaja menginjak handuk yang ku kenakan. Dan terjadilah kejadian nahas yang menimpa diriku.


Ku lihat matanya membulat sempurna menatap ku.


"Ayo pak, bantu Riri". Ujarku memegang tangannya.


Dia masih terdiam mematung di tempatnya, bahkan tak berkedip sedikitpun.


"Ba..bapak kenapa?". Tanyaku yang mulai panik melihat ekspresinya.


"A..apa kau tidak merasakannya?". Ujarnya dengan nada terbata.


"Maksud bapak?". Tanyaku lagi bingung.


"Apa kau tidak merasakan dingin dan keanehan di seluruh tubuhmu?". Ujarnya lagi.


"Dingin apanya?". Ujarku, kemudian aku melirik pada bagian tubuhku. Betapa terkejutnya aku, dengan bodohnya aku baru menyadari sekarang bahwa tubuhku sudah berpenampilan polos tanpa sehelai benang pun di depannya.


Aku dan pak Juan memandang satu sama lain, sebelum...


"Aaaaaaaaaaa".

__ADS_1


_______________


Sampai sekarang jam 10 malam aku masih meringkuk di dalam selimut. Tidak ingin keluar sama sekali akibat rasa malu yang menjalar ke seluruh tubuhku sampai ke ubun-ubun, gara-gara kejadian yang sangat memalukan tadi sore.


Betapa bodohnya aku tidak menyadari bahwa handuk yang melindungi tubuhku terlepas dan nampak lah seluruh penampilan polosku di hadapannya. Bahkan aku menolak untuk makan malam, meskipun perutku rasanya lapar sekali. Kedua mertuaku sudah membujukku, tetapi aku tetap tidak ingin keluar, mereka bingung dengan sikapku yang tiba-tiba seperti ini, untungnya pak Juan tidak memberitahu mereka alasan kenapa aku seperti ini, bisa-bisa rasa malu ku bertambah.


"Apa kau akan terus menutupi dirimu seperti ini?". Ujarnya yang kudengar sepertinya sekarang dia ada di sebelahku.


Tubuhku kembali bergetar merasakan malu yang teramat ketika mendengar suaranya, yang tadinya sudah berkurang meskipun sedikit sekarang malah kembali lagi.


"Kau akan sesak napas kalau seperti ini terus?!". Ujarnya menarik-narik selimut yang menutupi tubuhku.


Tapi aku masih kekeuh dengan pendirianku, aku tidak ingin keluar dari selimut ini.


Keringatku bercucuran semakin banyak karna terlalu lama berada di dalam selimut, tapi aku bisa menahannya. Rasa pengap ini tidak sebanding dengan rasa malu yang kurasakan.


"Cepatlah keluar dan makan. Kau tidak perlu khawatir, aku sudah melupakan kejadian tadi, dan aku juga tidak melihat seluruh tubuhmu".


"Bapak serius?". Ujarku memberanikan diri mengintip di balik celah selimut yang kubuka sedikit.


"Iya, sekarang keluarlah. Apa kau mau mati kelaparan?".


Perlahan tapi pasti aku keluar dari persembunyianku, kulihat sekarang dia sedang duduk di bibir ranjang menatap ke arahku.


"Lihatlah keringatmu itu!". Ujarnya yang kemudian mendekat dan menyeka keringatku dengan tangannya.


Deg


"Hei jantung, tenanglah! Ingat kata Kania, kau tidak boleh goyah hanya karna sikap manisnya. Kalau kau ingin tau tentang perasaannya yang sebenarnya, kau harus menunggu dan mengujinya". Ujarku dalam hati bermonolog mengingat petuah yang di sampaikan Kania di sekolah siang tadi.


"Aku hanya membantumu menyeka keringatmu".


"Riri bisa sendiri pak!". Sahutku lalu berusaha beranjak untuk turun dari ranjang.


"Kau mau kemana?". Tanya nya yang melihat ku turun dari ranjangnya.


"Mau kebawah pak, cari makan". Sahutku, sambil terus berjalan dengan kaki yang pincang.


"Kau tunggu disini, biar ku ambilkan". Ujarnya kemudian berjalan melewati ku.


"Tidak perlu pak, biar Riri ambil sendiri saja". Ucapku sambil terus berusaha berjalan meskipun kakiku rasanya nyeri sekali.


"Apa kau selalu keras kepala seperti ini?". Ujarnya dengan nada tegasnya yang membuatku berhenti melangkahkan kaki ku.


"Riri tidak mau di sebut anak manja, hanya karna kaki terkilir". Sahutku yang kemudian mencoba untuk melangkahkan kaki kembali.


"Siapa yang akan menyebutmu sebagai anak manja!". Ucapnya, tiba-tiba aku merasakan tubuhku seperti di angkat dari belakang. Dan benar saja, pak Juan sekarang mengangkat tubuhku.


"A..apa yang bapak lakukan? Turunkan Riri!?". Pekik ku, meronta meminta di lepaskan.


"Karna kau tidak bisa di beritahu dengan kata-kata, aku terpaksa harus melakukannya dengan perbuatan". Ujarnya lalu mendudukkan ku di bibir ranjang.

__ADS_1


"Jangan membantah! Tunggu disini, aku akan mengambilkan makanan untuk mu".


Hingga di ambang pintu, Dia berbalik menoleh padaku.


"Ah iya, kau jangan salah sangka. Aku melakukan ini hanya agar kau cepat sembuh, dengan begitu kau tidak akan merepotkan ku lagi". Ujarnya di iringi senyuman tipis di ujung bibirnya sebelum turun kebawah untuk mengambilkan makanan untuk ku.


"Cih, benar saja. Tidak seharusnya aku mudah luluh dengan sikapnya. Tentunya ada sesuatu dibalik tindakan baiknya itu". Gerutuku.


______________


"Bosan sekali". Ujarku menghela napas.


Pak Juan pagi-pagi sudah berangkat ke sekolah, meskipun nanti siang dia berjanji akan mengantarku kerumah sakit untuk memeriksakan kaki ku ini.


Ayah Adi dan Ibu Nala pergi karna ada acara di rumah kolega mereka. Dan Dennis katanya sedang pergi keluar untuk olahraga, sekarang tersisa hanya aku dan beberapa asisten rumah tangga di rumah besar ini. Terasa sekali hampanya, tidak seperti dirumah ibu dan ayahku.


Aku hanya menyandarkan tubuhku pada ranjang sambil mengotak-atik handphone ku untuk mencari sesuatu yang menarik di internet, tapi nyatanya tidak ada yang menarik sama sekali, aku menghela napasku kembali.


Tok tok tok


"Masuk". Sahutku.


"Boring ngga?".


"Dennis?". Ujarku senang.


"Mau keluar?". Tanyanya yang kini duduk di bibir ranjang.


Dengan cepat aku mengangguk-anggukan kepalaku, tentu saja ini yang ku inginkan dari tadi. Akhirnya aku memiliki teman, yang bisa membantuku mengusir rasa kebosanan ini.


"Ayo". Ujarnya mengulurkan tangannya.


Aku dibantu berjalan oleh Dennis menuruni anak tangga. Dan aku memintanya untuk membawaku untuk ke taman belakang.


Taman ini adalah salah satu caraku untuk menghilangkan kebosanan, karna tampilannya yang cantik akan bunga-bunga dan juga terdapat kolam ikan koi yang cukup besar, ditambah ayunan yang bisa membuatku bersantai.


"Bagaimana kaki lo Ri?". Tanya Dennis saat hendak membantuku duduk di atas ayunan.


"Beginilah Den, masih agak nyeri". Sahutku.


"Apa perlu gue anterin kerumah sakit?". Tanyanya lagi.


"Ngga usah Den, pak Juan udah janji mau nganterin. Kalau dia tau Riri sudah kerumah sakit, bisa-bisa pak Juan nanti marah-marah lagi". Tolakku.


"Em yasudah kalau begitu".


"Katanya kamu mau olahraga? Kenapa sudah pulang?". Tanyaku.


"Karna gue kangen sama lo?!".


❤️❤️❤️

__ADS_1


Jgn lupa tinggalkan jejaknya ya dear 😘🙏


Happy reading and enjoy 😚


__ADS_2