Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Kencan Pertama Yang Gagal


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Maaf mba, sekali lagi saya minta maaf". Ujar seorang laki-laki yang terlihat seperti pegawai di mall ini, dia mendorong begitu banyak bawaan sehingga menutupi pandangannya dan tak melihat ku yang ada di depannya.


"Iya-iya ngga papa mas". Jawabku memakluminya.


"Ayo cepat?!". Teriak pak Juan yang berjalan mendahului ku.


"Iya, sebentar". Sahutku.


Aku segera berputar dan mengejar ketertinggalanku. Kini kami tiba di salah satu cafe yang ada di mall.


"Ice capuccino 1". Ucapnya pada pelayan cafe itu.


"Bapak ngga makan?". Ujarku.


"Belum lapar". Jawabnya singkat sambil asik dengan telpon genggamnya.


"Pasta Lasagnanya 1 ya mba sama ice lemon tea nya 1". Ujarku memesan makanan.


Ku dengar tak ada jawaban dari mba pelayannya, saat ku tengok ternyata dia sedang asik memandangi pak Juan dengan mata berbinar.


"Ehm ehm". Aku berdeham, dan tentu saja itu bisa menyadarkan mba pelayan itu dari lamunannya.


"Eh, i..iya mba". Sahutnya lalu berjalan masuk ke dalam mengantarkan pesanan kami.


"Padahal aku nangkring disini loh, tapi mbanya masih aja natap pak Juan". Ujarku yang tak suka pak Juan di tatap wanita lain.


~


"Assalamualaikum". Ujarku ketika sudah sampai di ambang pintu.


"Waalaikumsalam". Sahut Bu Nala dan ayah Adi.


Mereka tengah duduk diruang tamu.


Pak Juan hanya berlalu begitu saja melewati ku, ku lihat dari bawah dia segera masuk ke kamarnya. Aku kembali menghela napasku.


"Gimana sayang?". Tanya bu Nala yang terlihat antusias.


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.


"Apa Juan bersikap kasar padamu nak? Kenapa kamu terlihat lesu". Timpal ayah Adi.


"Eh, ngga kok yah. Tadi gara-gara macet. Riri sama pak Juan jadi ngga bisa nonton". Ujarku tertunduk lesu.


"Yaudah gpp, nontonnya bisa lain kali". Kata bu Nala menenangkan ku.


"Hehhe iya bu". Sahutku yang kembali mengembangkan senyumku.


Beruntung sekali aku memiliki calon mertua yang super duper baik perhatian dan tulus padaku dan selalu mendukung ku. Tak ada yang ku tutup-tutupi dari mereka perihal hubungan ku dengan pak Juan. Terutama bu Nala, aku sering curhat dengannya bagaimana perkembangan hubungan kami. Bahkan bu Nala lah yang sering memberikan aku kesempatan agar lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan pak Juan.


"Yaudah Bu, kalau gitu Riri mau pamit pulang dulu. Takut kesorean".


"Loh, cepet banget. Baru aja kita ngobrol". Ujar bu Nala yang terlihat kecewa.


"Riri mau belajar bu, karna besok ada ulangan". Sahutku, padahal aku juga ingin berlama-lama disini mengobrol dengan Bu Nala tapi apa boleh buat, aku tidak ingin ada angka merah di raport ku.

__ADS_1


"Yasudah Bu, biarkan saja Riri pulang". Ujar ayah Adi.


"Hm, yaudah deh". Ucap bu Nala yang terlihat terpaksa.


"Yaudah Riri pamit dulu ya bu, yah". Pamitku.


"Eh tunggu-tunggu, kamu mau kemana sendirian? Ngga bisa, kamu harus di antar sama Juan". Cegahnya.


"Ngga papa kok bu, Riri bisa naik taksi". Ujarku menolak.


"Ngga boleh". Bu Nala terlihat menahan tanganku.


"Bi, bi Ningrum".


"Iya nyonya, ada apa?!".


"Tolong panggilkan Juan ya bi".


"Baik nyonya".


"Aduh gimana nih, pak Juan pasti tambah kesal". Batinku cemas.


~


"Kenapa bu?". Ujar pak Juan yang sudah turun dari tangga.


"Anterin Riri". Perintahnya.


"Tadi kan dia datang naik taksi, jadi pulang juga naik taksi". Sahutnya enteng.


"Juan". Ujar ayah Adi.


"Merepotkan sekali". Celetuknya ketika kami sudah berada di dalam mobil.


"M..maaf pak". Ujarku tak enak.


Dia melirikku sekilas sebelum melajukan mobilnya untuk mengantar ku pulang.


~


Ke esokan paginya di dalam kelas.


"Gimana gimana?". Tanya Kania terlihat antusias.


"Gimana apanya?!". Ujarku santai sambil terus membaca materi ulangan.


"Kencan pertama lo?". Katanya to the point.


"Ya ngga gimana-gimana". Sahutku enteng.


"Yang bener dong masa ngga gimana-gimana". Protesnya.


"Ya habis gimana? Orang emang bener ngga gimana-gimana. Nonton aja gagal". Terangku.


"Hah? Kok bisa?". Ujarnya penasaran.


"Ngga jadi nonton, tiketnya habis gara-gara macet". Sahutku yang masih kesal mengingat kemarin kencan pertama yang gagal.

__ADS_1


"Hahaha". Terdengar gelak tawanya yang menggema di seluruh ruangan kelas.


"Lucu?". Ujarku datar.


"Hehhe sorry sorry. Abisnya kalian tuh lucu banget, udah berkali-kali nyoba buat kencan dan akhirnya kesampaian eh ujung-ujungnya malah zonk". Ujarnya cekikikan.


"Heh. Tau ah". Ujarku malas membahas soal kencan.


~


Teng teng teng


Waktunya istirahat. Aku dan Kania berjalan bersama menuju kantin.


"Widihhh calon suami lo hebat ya, baru beberapa bulan disini kemajuan sekolah kita pesat banget. Tuh liat udah mau bangun ruangan baru aja". Ujar Kania menunjuk ke arah gedung yang akan di bangun guna menambah fasilitas sekolah tak jauh di depan kami.


Aku kembali mengembangkan senyumku.


"Iya pak Juan memang hebat. Bisa mengepalai sekolah ini dengan baik". Batinku tersenyum.


"Kan, Kania". Teriak Gandi teman sekelas kami. Dan otomatis aku dan Kania berbalik melihat kearah sumber suara.


"Kenapa si Gan teriak-teriak". Ujar Kani.


"Lo dipanggil bu Tania tuh". Ujarnya memberi tahu.


"Kenapa?".


"Mana gue tau, disuruh cepet katanya". Sambungnya sebelum meninggalkanku dan Kania.


"Ah elah, udah laper juga". Protes Kania.


"Hahaha, sabar. Yaudah sana gih. Biar gue pesenin nanti". Ujarku.


"Ok, pesenin ya". Ucapnya sebelum berbalik meninggalkan ku.


"Ok".


Aku berjalan sendirian menuju kantin. Dan sekarang aku tepat berada di bawah bangunan yang baru saja dibangun. Terlihat beberapa tukang yang tengah sibuk dengan pekerjaannya di atas sana.


Drt drt


"Kani?". Ujarku melihat sebuah nama yang sedang menelpon ku.


"Halo Kan, kenapa?". Jawabku.


"Pesenin yang jumbo ya, laper banget gue". Sahutnya dari seberang telpon.


"Hahha Ok Ok". Ucapku mengerti.


"Dek awaaaaasssss". Ku dengar sumber suara berteriak dari atasku.


Ku tengok arah sumber suara itu. Karna terlalu silau aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.


Brug...


❤️❤️❤️

__ADS_1


Enjoy for reading 😘


__ADS_2