Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Ciuman Pertamaku


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Assalamualaikum". Sapaku ketika aku dan pak Juan sudah berada di ambang pintu.


"Waalaikumsalam". Sahut mereka bersamaan.


"Riri, ibu kangeeennnnn". Ujar Bu Nala yang langsung menghambur peluk padaku.


"Riri juga kangen Bu". Balasku sambil membalas pelukannya.


"Seminggu ngga ketemu rasanya setahun". Ucap bu Nala kemudian setelah melepas pelukannya dari ku.


"Lebay". Celetuk pak Juan sebelum berlalu dan ikut duduk di sova bersama ayah Adi.


"Udah sayang, si Juan jangan di dengerin". Ujar Bu Nala yang menyadari perubahan ekspresi di wajahku.


"Duduk yuk". Ucap Bu Nala yang menggiringku untuk ikut duduk di sova di sampingnya.


"Gimana sayang? Selama kami pergi apa Juan mengganggumu?". Tanya bu Nala to the point.


Pak Juan mengernyitkan kedua alisnya setelah mendengar pertanyaan dari ibunya itu.


"Ngga kok Bu, semuanya baik-baik aja". Jawabku sambil menyunggingkan senyum.


"Yang bener?". Selidik Bu Nala.


"Kalau Juan macam-macam dan mengganggumu beritahukan dengan ayah dan ibu, kamu tidak perlu takut nak". Kata ayah Adi.


Pak Juan kembali mengernyitkan kedua alisnya.


"Sebenarnya anak kalian itu siapa sih? Apa kalian tidak mengkhawatirkan ku? Bisa saja dia yang menggangguku?". Ujarnya bersidekap menatap tajam padaku.


"Itu sangat tidak mungkin". Sahut Bu Nala.


"Terserah kalian saja lah". Ucapnya kemudian berdiri lalu berjalan menaiki anak tangga.


"Dasar pemarah". Celetuk Bu Nala menatap kepergian anaknya itu.


"Benar sayang kalian baik-baik saja?". Tanya Bu Nala yang masih tidak percaya dengan jawabanku sebelumnya.


"Iya, katakan saja nak. Akan Ayah beri dia pelajaran kalau dia berani macam-macam denganmu". Sambung Ayah Adi dengan tatapan seriusnya.


"Hahahaha... Ayah, Ibu, kalian ngga usah khawatir. Riri baik-baik aja kok. Serius". Ujarku meyakinkan mereka.


"Yasudah, kalau ada apa-apa segera beritahu Ibu atau Ayah?!".

__ADS_1


"Hehe siappp". Ujarku sambil memberikan hormat pada mereka.


"Em.. Bu?!".


"Iya sayang, ada apa?".


"Eh, ngga ada apa-apa hehhe.. Riri ke atas dulu ya Bu, Yah. Riri belum mandi soalnya, hehhe". Ujarku. Awalnya aku ingin menanyakan tentang wanita yang di sebutkan Dennis tadi pagi, tapi aku mengurungkan niatku kembali, belum juga bertanya aku sudah cemas akan jawaban dari mereka.


"Oh yasudah". Sahut Bu Nala sambil membelai rambutku pelan.


______________


Sebenarnya aku malas melihat wajahnya sekarang, tapi aku juga tidak ingin egois hanya karna rasa kecemburuan yang belum pasti ini, bisa saja aku salah menafsirkan hubungan antara pak Juan dengan wanita itu karna aku belum mendengarnya langsung dari mulut pak Juan atau mertuaku.


Krek


Ku lihat dia baru saja keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang menutupi bagian bawahnya. Sebenarnya aku sudah mulai gugup melihatnya seperti itu, dan aliran darahku sudah naik begitu cepat, tapi aku berusaha menahannya.


"Ri, jangan mudah goyah!". Batinku mengingatkan diriku sendiri.


Setelah aku meletakkan tas ku, aku berjalan lurus ke arah kamar mandi tanpa menoleh padanya.


Bug


Dia melemparkan handuknya hingga menutupi kepalaku.


Aku melakukan sesuai perintahnya, tapi aku tidak menjawab perkataannya. Aku langsung masuk kedalam kamar mandi.


Brak


Ku tutup pintu itu kuat-kuat.


"Menyebalkan". Itulah kata-kata pertama yang keluar dari mulutku setelah sekarang aku berada di dalam kamar mandi.


Cukup lama aku berdiam diri di kamar mandi, berendam di dalam bathtub menggunakan air hangat guna menyelaraskan perasaan ku yang saat ini tidak tenang.


Setelah ku rasa kekesalanku sudah mereda, aku memutuskan untuk keluar menggunakan jubah mandi ku.


Krek


"Apa kau pikir pintu itu tidak di beli dengan uang?!". Ujarnya.


Tapi aku sama sekali tidak menjawab pertanyaannya barusan, aku terus berjalan menuju lemari untuk mengambil baju ganti ku.


"Aku sedang bicara denganmu!". Ujarnya lagi yang kini meninggikan nada bicaranya.

__ADS_1


Setelah ku ambil baju dari lemari segera aku kembali kedalam kamar mandi untuk mengenakan pakaianku. Saat aku keluar, aku terkejut karna dia sekarang sedang bersandar di tembok dekat pintu kamar mandi sambil bersidekap.


Di cengkramnya tanganku kuat, aku meringis merasakan perih di lenganku karna cengkramannya.


"Sakit pak". Pekik ku sambil berusaha melepaskan cengkramannya dari tanganku.


"Ternyata kau masih bisa bicara". Ujarnya lalu melepaskan tanganku kasar.


Aku lelah, aku ingin tidur. Tanpa menghiraukannya lagi aku kembali berjalan menuju sova tempatku tidur. Saat aku hendak berbaring dia kembali menarik lenganku.


"Berani sekali kau mengabaikan ku?". Ujarnya yang kini sudah mulai geram karna aku terus menerus mengacuhkannya.


"Riri ngantuk". Ucapku tanpa ekspresi sambil berusaha melepaskan tangannya.


"Kau pikir, kau bisa tidur setelah mengabaikan ku?". Seringainya.


"Pak lepaskan tangan Riri". Pekik ku.


"Lepaskan". Ujarku lagi menatap matanya intens.


Dia melepaskan tangannya dari ku. Namun ketika aku hendak berbaring kembali, lagi-lagi dia menarik tanganku. Karna tarikannya yang tiba-tiba aku menjadi kehilangan keseimbangan ku.


"Aaaaaaaaa".


Brug


*Cup*


Glek


Dug dug dug dug


Mataku dan matanya membulat sempurna ketika bibir ku mendarat tepat di atas bibirnya.


Jantungku kembali berdebar tidak karuan, tubuhku serasa bergetar merasakan desiran darah yang begitu cepat. Rasanya lebih dahsyat di banding kecupan di pipi waktu itu.


"Ci.. ciuman pertamaku?!".


❤️❤️❤️


😘😘😘


Happy reading and enjoy 😚


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di novel receh ini ya 🙏

__ADS_1


Xiexie 😚


__ADS_2