Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Perkara Ranjang


__ADS_3

❤️❤️❤️


Gara-gara semalam tidur di lantai rasanya badanku sakit semua.


"Kenapa Non? Badannya sakit?" Tanya Pak Amat yang melihat ku memukul-mukul bagian belakangku dari kaca depan mobil. Iya, karna hari ini kami di antarkan oleh pak Amat, berhubung mobil Pak Juan tidak bisa masuk ke dalam gang rumah ku, jadi untuk 2 hari kedepan kami akan di antar jemput oleh Pak Amat.


"Iya nih Pak, pegel" Sahutku yang masih sibuk memukul-mukul bagian belakang ku.


Ku lihat dari kaca depan Pak Amat seperti menahan tawanya.


"Kenapa Pak? Kok senyum?" Tanyaku bingung.


"Ngga papa Non" Sahutnya yang masih menahan tawa di ujung bibirnya.


"Apa Non mau Saya rekomendasikan tempat pijat yang ampuh?" Tanya Pak Amat lagi.


"Di....".


Saat aku hendak menjawabnya, tiba-tiba saja Pak Juan memotong ucapanku.


"Pak, fokus menyetir saja!" Tegas Pak Juan, setelah itu Pak Amat tidak lagi mengajakku bicara.


"Kenapa sih pagi-pagi udah sensi aja?" Batinku, menatap malas ke arahnya.


_______________


"Pak, stop!" Perintah Pak Juan.


"Kau turun disini!" Ujarnya menatap ke arahku.


"Disini Pak?" Tanyaku heran.


"Iya, apa kau mau anak-anak lain tau hubungan kita kalau kita turun bersama di depan gerbang sekolah?".


Mau tidak mau aku harus turun seperti yang di perintahkannya.


"Cih, kenapa ngga dia aja yang turun dan jalan kaki? Nyebelin banget" Gerutuku.


"Eh, tapi anak-anak kan taunya aku ngga punya mobil ya, hehhe bisa heboh mereka kalo liat aku turun dari mobil" Ujarku kemudian.


"Yaudahlah, emang udah nasib!".


Tiin tiin


"Kok jalan kaki?" Ujar sebuah suara yang sangat akrab di telinga ku, bahkan dalam mimpi pun aku bisa mengetahui pemilik suara bising ini.


"Di suruh jalan kaki gue." Sungutku.


"Kok bisa?".


"Katanya biar anak-anak pada ngga curiga."


"Cup cup cup kasian banget sih syahabat gue ini" Ujarnya menepuk-nepuk pelan kepalaku.


Aku menatap iba pada Kania, persis seperti anak kecil yang meminta di belikan permen.


"Yaudah, naik ayo" Ajaknya.


"Sahabat gue paling is the best" Ujarku sambil memeluknya dari belakang.


"Jangan peluk-peluk gue, jijik gue" Ujarnya menggoyang-goyangkan tubuhnya agar pelukan ku terlepas.


"Aaaoohhhhhh" Ujarku dengan nada yang manja.


_____________


Saat aku dan Kania berjalan hendak melewati ruangannya pak Juan, ku lihat dia sedang berbicara dengan Bu Tania di depan ruangannya.


"Cih, akrab sekali. Sadar diri dong kalau sudah punya ISTRI" Ujarku cukup keras saat melewati mereka.


Kania menatap heran padaku. Lalu sesaat dia langsung mengerti maksud ucapan sindiran ku barusan.


"Gedeg banget gue Kan liat adegannya kemaren di tv, udah punya istri tapi mepet-mepet sama cewek lain" Sambungku dengan nada yang sengaja ku tinggikan agar Pak Juan mendengarnya.


"Iya Gedeg banget gue, gue juga nonton tuh kemaren" Timpal Kania yang tak kalah kerasnya.

__ADS_1


Setelah mengucapkan kata-kata sindiran itu kami langsung berjalan dengan cepat agar segera menjauh dari mereka yang kami sindir.


"Ri, gila Lo keren banget tadi. Sumpah!" Ucap Kania sambil mengacungkan jempol di hadapanku.


"Aduh, bentar bentar Kan. Kaki gue lemes" Ujarku sambil memegang tangan Kania.


"Yaelah Lo, baru aja gue puji"


"Kayaknya gue tadi kerasukan deh Kan" Ujarku menatap harap-harap cemas pada Kania.


"Kerasukan jin PENCEMBURU!" Ujar Kania lalu meninggalkan ku begitu saja.


"Kaaaaannnn, tungguiiiinnn..."


______________


"Gimana? Lo udah kasih tau Dennis belum soal saran gue kemaren?" Tanya Kania sambil asik menyeruput es tehnya.


"Belum"


"Kok belum sih?"


"Orang Dennis nya juga lagi di puncak" Sahutku.


"Ya kan bisa di telpon markonahhh"


"Nah itu dia Kan, gue ngga punya nomornya. Hehhe"


"Hadeuhhhh" Ujarnya sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Trus Lo kenapa dari tadi di kelas gue liat tepuk-tepuk belakang?" Tanya nya lagi.


"Pegel badan gue Kan, gara-gara tidur di lantai" Ujarku sambil sesekali menepuk dan memijat bagian belakang ku.


"Jangan bilang, Lo ngalah?" Tanya Kania lagi dengan tatapan menyelidik.


"Ya mau gimana lagi, tadi malam...


Aku menceritakan semua kemalangan yang terjadi padaku tadi malam, alasan kenapa tubuhku terasa pegal sejak pagi.


"Apaan sih Lo, daging segar ikan asin." Ujarku yang bingung dengan istilah-istilah yang ungkapkannya.


"Aduh Lo tuh ya, maksud gue. Itu Pak Juan sudah berbaik hati nawarin dirinya sendiri buat Lo, kenapa ditolak sih? Kalo gue jadi Lo, ada barang bagus di depan gue. Udah langsung gue hap" Ujarnya antusias.


"Itusih maunya Lo. Dasar Lo"


"Hehehehe, seandainya gue yang di jodohin sama Pak Juan" Ujarnya dengan mata yang berbinar seolah membayangkannya.


"Kaaaaannnn?!"


_______________


"Mending naik ojek deh kalo gini" Gerutuku, yang mulai lelah menunggu jemputan di pinggir jalan tempat ku di berhentikan tadi pagi, sudah 30 menit belum juga kulihat ada mobil yang berhenti di depan ku.


"Apa Pak Juan ninggalin aku?" Gumamku, tiba-tiba saja pikiran itu terlintas di benakku.


Tapi untung saja pikiranku itu salah, setelah 5 menit kemudian, mobil yang mengantarku tadi pagi berhenti tepat di depanku.


"Maaf ya Non kelamaan, soalnya tadi ban mobilnya kempes" Ujar Pak Amat sambil membukakan pintu belakang untukku.


"Oh, ngga papa kok Pak. Riri juga baru sebentar kok nunggunya" Sahutku sambil tersenyum ramah.


Setelah itu Pak Amat langsung melajukan mobil yang kami tumpangi, selang 30 menit akhirnya kami sampai di depan gang rumahku. Karna sudah mengantar kan ku dan Pak Juan kerumah orangtuaku, Pak Amat langsung pamit untuk pulang ke kediaman kedua mertuaku.


"Assalamualaikum" Ujarku sambil mengetuk pintu.


Beberapa kali ku ketuk tapi tak juga mendapat jawaban dari dalam. Saat aku hendak menelpon Ibuku. Ternyata telponku berdering.


"Kebetulan Ibu telpon" Gumamku ketika melihat layar telpon genggam ku.


"Assalamualaikum Bu"


"Waalaikumsalam"


"Nak, Ibu cuma mau kasih tau. Ibu sekarang ada di rumah bibi mu, dan setelah kerja ayah langsung kesini. Dan sepertinya kami menginap disini, dan baru pulang besok pagi." Jelas Ibuku.

__ADS_1


"Oh gitu"


"Atau kamu mau pulang kerumah mertua kamu?"


"Ngga deh Bu, Riri masih mau nginap disini" Sahutku.


"Yasudah kalo itu mau kamu, baik-baik dirumah sama nak Juan ya. Oiya kunci rumah ibu taruh di tempat biasa."


"Iya Bu"


"Yasudah, kalau begitu. Ibu tutup dulu telponnya ya Assalamualaikum"


"Iya, Waalaikumsalam"


Tut tut


Setelah menemukan kunci rumah di tempat biasa, aku langsung membukanya.


"Pak, Ibu sama Ayah ngga ada dirumah. Katanya mungkin besok pagi baru pulang. Kalau Bapak mau pulang, boleh kok" Ujarku menjelaskan.


"Apa kata mereka kalau aku meninggalkan mu sendirian disini?" Ujarnya lalu duduk di sova sebelahku.


"Apa? Jadi aku akan tidur hanya berdua saja dengannya malam ini?" Batinku.


_____________


Setelah selesai makan malam, bak anak kecil yang berebut mainan, aku dan Pak Juan sama-sama berlari menuju kamarku. Dan kali ini aku tidak akan mau mengalah.


Bug


Aku tersenyum penuh kemenangan saat berhasil berbaring di atas ranjang ku.


"Turun!" Ujarnya sambil menarik-narik kaki ku.


"Ngga mau, pokoknya Riri harus tidur di ranjang kali ini" Ujarku bersemangat.


"Ohh kau menantang ku" Ucapnya.


Pak Juan masih berusaha sekuat tenaga menarik kaki ku, tapi pegangan ku pada ranjang semakin erat. Hingga akhirnya dia menyerah, terlihat raut kekesalan di wajahnya. Dengan penuh kekesalan dia menutup pintu kamarku dengan keras saat keluar dari kamar.


"Heh, Riri di lawan. Kalo soal pegang-memegang Riri ahlinya" Ujarku puas.


"Ahhhh, nyamannya" Ujarku sambil memejamkan mata menikmati kehangatan kasurku yang sudah lama tak ku rasakan hingga akhirnya aku tertidur.


_____________


Triiriiingg triiriinggg


Suara alarm yang memekakkan, berhasil membangunkan ku. Rasanya tidurku tadi malam nyenyak sekali.


Saat aku ingin menggeliatkan tubuhku, ku rasakan ada sesuatu yang aneh.


"Kenapa aku tidurnya terlalu di pinggir?" Gumamku, ketika melihat posisiku yang sedikit lagi akan terjatuh jika aku menggeliat kan tubuhku.


"Dan ini apa?" Ujarku yang merasakan ada sesuatu di belakangku, seperti tubuh seseorang.


"Tangan?" Ujarku lagi ketika melihat ada tangan yang melingkar di tubuh mungilku.


Aku mencoba berbalik secara perlahan.


"Pak Juan?" Ujarku yang reflek langsung menutup mulutku, aku terkejut kenapa dia bisa tidur di sebelahku.


"Aaaaaaaaaa"


Brug


❤️❤️❤️


Puasanya lancar kan gais? Mudah-mudahan lancar ya? Pasti lancar dong ya 😚💪


Semoga novel retjeh ini bisa sedikit menghibur kalian di saat koronce begini ya 😚


Happy reading and enjoy 👄😚


See u di part berikutnya 😂🙏

__ADS_1


__ADS_2