Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Kejutan?!


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Pak, ini kopinya. Riri yakin yang sekarang pasti enak". Ujarku yang nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Apa kau tidak pernah di ajarkan sopan santun ketika memasuki ruangan orang lain?!". Pekiknya.


"Takut kegep ya pak? Maaf pak tapi udah kegep duluan". Ujarku bermonolog dalam hati.


"M..maaf pak". Ucapku yang terlihat menyesalinya.


"Sudahlah, kau keluar. Aku mau mandi". Ujarnya yang berjalan menuju kamar mandi tanpa menolehku.


"Tapi, kopinya pak?". Teriak ku ketika pak Juan sudah berada di depan pintu kamar mandi.


Brak


"Sudah ku bilang, aku sudah tidak ingin kopi". Teriaknya dalam kamar mandi.


"Bapak boleh menolaknya sekarang tapi tidak lain kali". Gumamku pelan sambil menunggingkan senyum di ujung bibirku.


~


"Sabar Ri sabar". Ucapku sambil terus mengurut dadaku menuruni anak tangga.


"Ibu? Ayah?".


Pekikku yang kaget melihat kedatangan orangtuaku dan juga orangtua pak Juan yang sekarang sedang duduk di sova ruang tamu.


"Kenapa kalian semua bisa ada disini?". Ujarku menatap bingung pada mereka.


"Kejutaaaannn". Seru mereka serentak.


"Eh, kejutan? Apa ada yang berulang tahun?". Aku masih bingung dengan situasi ini.


"Ngga sayang, kami berencana mengajak kamu dan Juan berlibur di puncak untuk merayakan pertunangan kalian". Ujar bu Nala antusias.


"Apa sebuah pertunangan harus di rayakan bu?". Tanyaku ragu.


"Tentu dong sayang, masa ada kejadian istimewa tidak dirayakan". Sambung bu Nala.


"Eh, tapi kenapa tiba-tiba?". Sahutku terkejut, karna tidak menyangka orangtuaku dan juga calon mertuaku akan memberikan kejutan seperti ini.


"Sebenarnya ini bukan tiba-tiba, kami sudah merencanakan ini dari sebulan yang lalu sayang. Karna sekarang kami lihat kalian sudah mulai akrab, jadi kami kira sekarang lah waktu yang tepat". Ucap ibuku sambil merangkul pundak ku.


"Akrab darimana?". Batinku.

__ADS_1


"Apa pak Juan akan setuju?". Ujarku ragu bahwa pria itu akan menyetujuinya.


"Kamu tenang saja, dia pasti tidak akan menolak". Sahut Bu Nala tersenyum penuh arti.


"Sekarang bisakah kamu bantu ibu mengemasi beberapa pakaiannya, kita akan pergi selama 3 hari?". Pinta Bu Nala.


"Eh, eng... apa tidak apa-apa kalau Riri yang menyiapkannya?". Ujarku malu.


"Ya ngga papa dong, kan cuma nyiapin baju. Lagian kalian sebentar lagi akan menikah". Sambung bu Nala sambil tersenyum lembut padaku.


Ku lirik ayah dan ibuku sebentar, dan mereka menganggukkan kepalanya, tanda bahwa mereka menyetujui usul dari calon mertua ku itu.


Setelah mendapat persetujuan aku menaiki kembali anak tangga menuju kamar pak Juan.


Samar-samar ku dengar suara gemericik air yang menyegarkan dari dalam sana.


"Masih mandi rupanya". Pikirku.


Tanpa menunggu lagi aku bergegas menuju lemari pakaiannya, ku ambil tas berukuran sedang yang ada di lemarinya untuk menampung beberapa pakaian yang akan ku siapkan untuknya.


"Banyak banget, cocoknya yang mana ya?!". Ujarku bingung ketika melihat banyaknya pakaian yang bergantung dalam lemarinya.


Ku ambil beberapa kaos santai, celana kainnya dan juga celana jeans, menurutku dia sangat cocok menggunakannya, aku tersenyum sendiri kala membayangkan pak Juan mengenakan pakaian yang ku pilihkan ini, kupikir dia pasti akan sangat tampan jika memakai pakaian santai seperti ini. Dan tak lupa ku ambilkan jaket, karna ku pikir di puncak pasti suasananya dingin dan sejuk dan dia pasti akan memerlukannya, beberapa celana pendek untuknya bersantai dalam ruangan dan sendal casual yang ada di jajaran lemari sepatunya yang cocok jika di padupadankan dengan pakaian yang ku pilihkan dan tak lupa sneaker yang akan menambah pancaran pesonanya.


"Bawa 2 deh buat jaga-jaga". Ujarku kemudian mengambil kemeja putih dan biru muda di lemarinya.


"Ah iya". Ujarku baru mengingat sesuatu.


Ku buka nakas kecil yang ada di bawah lemarinya. Ku ambil barang yang sangat diperlukannya.


"Apa yang kau lakukan?". Sebuah suara mengejutkan ku.


"Bapak sudah selesai mandi?". Tanyaku berbalik menghadap nya.


Glek


"Kenapa dia hanya menggunakan handuknya?". Darahku kembali berdesir melihat sosok laki-laki tanpa baju di depanku ini.


"Apa-apaan kau ini?!". Pekiknya mengambil kasar barang yang ku pegang.


"Beraninya kau menyentuh barang pribadiku". Ujarnya meninggikan suaranya.


"Bapak malu?". Godaku.


Ku lihat dia mengalihkan pandangannya dari ku, seperti orang yang salah tingkah.

__ADS_1


"Anak jaman sekarang, tidak ada malu-malunya menyentuh barang pribadi laki-laki". Dia kembali mengoceh.


"Barang pribadi? Maksud bapak ini?". Ujarku santai mengambil kembali barang berbentuk segitiga itu dalam lemarinya dan menentengnya tepat di depan wajahnya.


"Kau?".


Wajahnya terlihat merah padam menahan emosi.


"Hahahaha". Kelakar ku melihat tingkah malunya itu.


"Kembalikan?". Ujarnya mencoba meraihnya dari tangan ku.


"Ngga mau, bleee :p". Ujarku mengejek. Aku berlari menjauh darinya, tapi dia terus saja berusaha mengejarku. Sampai akhirnya dia berhasil meraih tanganku, di pegangnya lenganku cukup erat.


"Aduh, sakit pak". Ujarku meringis menahan sakit cengkraman tangannya di lenganku hingga membuat benda yang ku pegang tadi terjatuh kelantai.


Krek


"Apa yang kau lakukan Juan?". Suara bu Nala tiba-tiba datang mengejutkan kami.


"Eh, i..ibu". Ujarku, tanpa menunggu lagi segera ku lepaskan cengkramannya dari lenganku dan berlari menyusul bu Nala yang berdiri di ambang pintu.


"Kamu ngga papa sayang?". Tanya bu Nala yang terlihat khawatir padaku.


"Ngga Bu, Riri ngga papa". Sahutku tersenyum ketir pada bu Nala.


"Kamu benar-benar Juan? Bagaimana jika orangtuanya yang melihat ini langsung? Ditambah dengan penampilan mu yang seperti ini? Apa yang akan di pikirkan mereka?".


"Ngga bu, ini bukan seperti yang ibu lihat". Ujarku yang mencoba meluruskan semuanya.


"Ngga, sayang. Ibu yakin dengan apa yang ibu lihat, dan ibu harus tegas terhadap anak ibu itu". Ucapnya dengan tatapan serius.


"Aduh gimana nih? Kasian pak Juan?!". Batinku yang mulai panik.


"Kamu Juan, ibu tau kamu sudah mulai tidak tahan. Tapi sebagai laki-laki dewasa tidak bisakah kamu bersabar sebentar lagi, kamu tidak boleh melakukannya sebelum menikah nak?!".


"Eh, tunggu tunggu. Apa maksud perkataan dari calon mertuaku ini? Tidak tahan? Tidak boleh melakukannya sebelum menikah?". Pikirku, aku jadi bingung sendiri mencerna perkataannya barusan.


"Terserah ibu saja lah, mau berpikiran seperti apa". Ujar pak Juan yang terlihat jengah menanggapi perkataan ibunya, lalu berbalik menuju lemari pakaiannya.


"Ini maksudnya apa sih?". Ujarku bingung menatap mereka berdua secara bergantian.


❤️❤️❤️


Nah loh 😌🙈🤣

__ADS_1


__ADS_2