
❤️❤️❤️
"Auhhhh" Pekik Pak Juan sembari memegangi bokongnya.
"Apa-apaan kau?" Ujarnya dengan mata yang melotot.
"Ya, ma..maaf Pak. Riri ngga sengaja." Lirihku cemas.
"Tidak sengaja apanya, jelas-jelas kau sengaja menendangku sampai jatuh ke lantai seperti ini. Bagaimana kalau tulang ekorku patah? Apa kau mau tanggung jawab?" Ujarnya cukup keras.
"Ya, s....
"Apa, mau cari alasan apa lagi?" Ujarnya lagi sambil berusaha bangun dari posisi terjatuhnya.
"Ya, si..siapa suruh Bapak tidur di samping Riri tanpa minta izin dulu, Riri kira kan Bapak tidur diluar. Tau-taunya pas Riri bangun Bapak ada di sebelah, ya Riri kaget lah Pak" Cerocos ku.
"Ya mikir dong, masa saya tidur di luar. Yang ada saya bentol-bentol gara-gara nyamuk."
"Ya, kan bisa pakai obat nyamuk" Gumamku pelan.
"Kau itu benar-benar ya, arghhh..." Ujarnya sebelum keluar meninggalkan ku.
"Emang bener kan? Kan bisa pakai obat nyamuk atau pakai selimut, nyamuk juga ngga bakal ganggu. Repot benget sih hidupnya" Gerutuku setelah kepergiannya.
Untung saja Ibu dan Ayahku belum datang, bagaimana reaksi mereka kalau melihat kami yang selalu bertengkar seperti tadi.
Setelah bangun aku segera ke dapur untuk membuat sarapan untukku dan Pak Juan sebelum pergi mandi. Kulihat dia hanya diam saja ketika kami sarapan sembari sesekali memegangi bagian tulang ekornya, mungkin rasanya sakit sekali. Aku menjadi tidak enak, karna aku benar-benar tidak sengaja menendangnya sekeras itu.
"Emm, apa Bapak mau Riri rekomendasikan tukang pijat yang ampuh? Kebetulan kemarin sebelum pulang, Pak Amat kasih tau Riri alamatnya." Ujarku tanpa basa-basi.
Bak tepat sasaran, Pak Juan langsung menatap tajam padaku. Tapi bukannya menjawab, dia malah mengambil tas kerjanya dengan kasar yang ada di sebelahnya lalu pergi meninggalkan ku keluar, bahkan sarapannya pun tidak di habiskan.
"Kenapa sih dia, padahal aku kan berniat baik mau membantu" Sungutku.
_______________
Ku lihat Pak Juan sepertinya tidak tenang saat duduk di mobil, geser ke kiri ke kanan.
"Apa sesakit itu?" Pikirku.
"Em, Pak.. apa mau di periksakan ke dokter aja?" Tanya ku.
"Tuan kenapa? Sakit?" Tanya Pak Amat.
"Iya Pak, kayaknya tulang ekornya cidera." Jawabku.
"Hah, kok bisa?" Tanya Pak Amat lagi yang terlihat khawatir.
"Diam kau, apa kau tidak bisa berhenti bicara?" Pekik Pak Juan.
__ADS_1
"Riri kan cuma khawatir, lagian bapak seperti itu juga karna Riri. Riri kan jadi merasa bersalah." Sungutku.
Ku lihat dari kaca depan mobil Pak Amat mengulum senyum di bibirnya, dan itu terlihat oleh Pak Juan. Tentu saja dia juga ikut terkena semprot.
"Pak Amat, apa Bapak sudah bosan ikut kerja dengan Saya?" Ujar Pak Juan dengan tegasnya.
Tentu saja raut Pak Amat seketika berubah menjadi serius.
"Tidak Tuan!" Sahutnya, lalu kembali fokus menyetir tanpa melihat ke belakang.
Perjalanan kembali menjadi hening, aku dan Pak Amat tidak ada yang berani mengajaknya bicara lagi. Aku dan Pak Amat duduk dengan tenang tanpa mengeluarkan suara, berbeda dengan Pak Juan yang sibuk mencari posisi duduk yang pas.
"Gengsi aja yang di gedein" Batinku, menatap malas padanya.
_____________
"Morniiiinggggg" Teriak ku ketika memasuki ruang kelas.
"Widiiiiihhhhh, bawaannya lagi happy nih!" Ujar Kania.
"Iya, kan kita memang harus terlihat happy setiap hari." Sahutku sambil menaik turunkan alisku.
"Halahhhh".
Hari Sabtu memang hanya memiliki 2 mata pelajaran di sekolahku. Dan kebetulan pelajaran pertama kosong, karna Pak Dimas selaku guru bahasa Inggris tidak masuk hari ini. Sama dengan kelas lain pada umumnya ketika tidak ada guru yang masuk, kami semua berhamburan. Ada yang duduk di pojok sambil nge-charge hp, malah mereka sengaja bawa stop kontak dari rumah. (Pengalaman author juga nih semasa SMA, bahkan bawa laptop biar bisa nobar bareng, genrenya horror lagi. Ahh mantap 🤣 Lumayan kan hemat energi listrik di rumah 😂, tapi pihak sekolah yang amsyong, tagihan listrik membengkak 🤣).
Ada yang tiduran dimeja belajar, di kursi, di lantai, di mana-mana lah pokoknya, yang penting ada tempat yang kosong dan pas untuk merebahkan tubuh kaum rebahan.
Saat aku asik berbincang dengan Kania dan beberapa teman wanita lainnya, tiba-tiba panggilan alam datang mendadak yang tidak bisa di tunda lagi.
"Aduh, gue ke toilet dulu ya guys." Ujarku.
"Hooh, baek-baek Lo ketemu sama Pak Juan, bisa-bisa kena semprot Lo keluar pada saat jam pelajaran, hahaha.." Ujar Sasha yang juga di iringi gelak tawa dari teman-teman ku lainnya.
"Mentalnya perlu di periksa berarti kalo ngelarang orang ke toilet." Pekik ku sebelum keluar dari kelas.
_____________
Setelah aku selesai dengan semua urusan ku di toilet aku segera beranjak hendak kembali ke kelas.
Ntah ini kebetulan atau settingan Tuhan, aku melihat Pak Juan juga berjalan di depanku, sepertinya dia hendak kembali ke ruangannya.
Sengaja ku percepat langkahku, saat dia masuk ke ruangannya, aku juga ikut masuk ke dalam ruangannya.
"Apa yang kau lakukan?" Pekiknya yang terkejut melihatku tiba-tiba masuk.
"Gimana kondisi Bapak?" Tanyaku to the point.
Dia menatapku heran dan sekaligus tak suka mungkin dengan pertanyaan yang ku lontarkan.
__ADS_1
"Masih sakit?" Tanyaku lagi ketika tidak mendapatkan jawaban darinya.
"Keluar sekarang!" Perintahnya.
Tanpa menghiraukan perintahnya, aku langsung mengangkat kemeja bagian belakangnya lalu dengan cepat ku tempelkan 2 lembar koyok di sana yang sebelumnya ku ambil dari ruang UKS tadi pagi sebelum masuk ke kelas.
"Apa-apaan kau?" Pekik Pak Juan yang terkejut melihat ulahku.
"Selesai" Ucapku senang ketika 2 koyok itu berhasil ku tempelkan lalu ke betulkan kembali kemejanya yang berantakan karna ulahku tadi.
"Ini sisanya, kalau panasnya sudah hilang tinggal tempel aja." Ujarku sambil meletakkan sisa koyok di atas mejanya.
Saat dia hendak membuka mulutnya kembali aku segera memotongnya.
"Oiya, Bapak jangan salah sangka. Riri melakukan ini karna Riri merasa bersalah bukan karna ingin menggoda Bapak." Ucapku tersenyum polos.
"Kalau gitu Riri balik ke kelas dulu ya Pak." Ujarku lalu berlalu meninggalkan nya yang masih berdiri bingung menatapku.
_____________
"Ngelayap kemana aja Lo? Ke toilet aja lama bener?" Oceh Kania, persis seperti emak yang mengomeli anaknya.
"Menikmati gue Kan, saking menikmatinya malah ketiduran. Hahahaha..." Kelakarku.
"Dasar Lo"
Setiap hari Sabtu, rasanya waktu berlalu begitu cepat. Hingga sekarang waktunya untuk pulang. Meskipun ada beberapa murid yang belum pulang karna menghadiri kelas ekstrakurikuler. Karna aku mengambil ekstrakurikuler hari Kamis, jadi hari ini aku bisa pulang lebih awal.
Hari ini hari terakhir aku menunggu jemputan di pinggir jalan, karna hari ini aku sudah pulang kerumah mertuaku.
Cuaca hari ini cukup sejuk karna awan yang menghitam, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Setelah 30 menit membelah lautan kendaraan akhirnya kami sampai di depan rumah besar nan mewah, yang sudah 2 hari ini tidak ku datangi.
Aku berjalan beriringan dengan Pak Juan memasuki pelataran rumah.
"Assalamualaikum" Sapaku pertama kali saat sudah di ambang pintu.
"Waalaikumsalam" Sahut sebuah suara yang seminggu ini tidak ku dengar.
"Denniiiiiiiisssssss"
❤️❤️❤️
Hola epribadeh, terimakasih banyak yang sudah mendukung novel retjeh ku sejauh ini 😘
Semoga terhibur ya 😚
Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan favoritnya juga ya 😉🙏
Xiexie 😚
__ADS_1
IG : @dwyulianas