
❤️❤️❤️
Tapi bukannya menjawab pertanyaan ku, Pak Juan malah melewati ku begitu saja dan masuk kedalam ruangan.
"Ye, di tanyain malah main melengos aja." Ujarku kesal.
"Ngapain ya dia Kan?"
"Ngga tau. Lo penasaran?"
Dengan segera aku menganggukkan kepala ku cepat.
Setelah aku dan Kania saling berpandangan sebentar, seolah mengerti jalan pikiran masing-masing. Tanpa membuang waktu lagi kami langsung menempelkan kuping pada pintu, ya apalagi kalo bukan untuk menguping, hehhe..
"Lo denger ngga Kan?" Bisik ku.
"Ngga kedengeran." Sahut Kania dengan nada yang berbisik juga.
"Aduh, kok ngga kedengeran sama sekali ya? Atau kuping gue yang budeg?" Gumamku, yang semakin menempelkan telingaku pada pintu.
"Aduh Kan, jangan dorong-dorong dong."
"Gue juga mau dengerin sebelah situ." Bisik Kania.
"Ya sama aja dong, mau di sini atau di situ sama-sama ngga kedengeran."
"Ya siapa tau gue bisa denger kalo di sebelah situ." Ujar Kania menunjuk pada tempat ku.
"Yaudah yaudah.."
Akhirnya kami bertukar tempat.
"Gimana? Kedengaran ngga?"
"Shttt, diam dulu."
"Ah, udahlah. Kita pulang aja, ngga kedengeran juga." Ujarku memundurkan tubuhku.
"Eh tunggu tunggu, kayaknya gue denger sesuatu deh."
"Apa?" Tanyaku penasaran.
"Coba Lo dengerin dulu sini!" Ujar Kania menarikku kembali. Lalu kami kembali menguping, karna terlalu bersemangat untuk menguping, kami semakin menempelkan kuping pada pintu, hingga tak sengaja mendorongnya cukup keras dan..
Kreeeekkkk
Pintu terbuka perlahan namun pasti, dan secara otomatis atensi mereka yang ada di dalam ruangan seketika tertuju padaku dan Kania.
Krik krik krik krik
"Haishh, sial." Batinku.
"Mana ya Kan kunci motornya? Kok ngga ada?" Ujarku celingukan mencari benda yang sebenarnya tidak ada.
"Kayaknya ngga ada deh Ri, coba kita cari sebelah sana."
"Ayok, kalo ngga ketemu kita ngga bisa pulang nanti. Ha ha ha." Ujarku lagi yang diakhiri dengan tawa yang garing.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu lagi, dengan secepat kilat aku langsung menutup pintu itu kembali.
Segera setelah pintu itu tertutup, aku dan Kania langsung berlari menggunakan jurus seribu bayangan, agar secepatnya menjauh dari ruangan itu.
Hingga tiba di lapangan sekolah.
"Heh heh heh heh heh.." Kami sama-sama terengah setelah berlari cukup jauh.
Sesaat kami saling berpandangan. Hingga akhirnya tergelak bersama.
-
Sebelum berangkat sekolah tadi pagi, Pak Juan memberitahu ku bahwa sepulang sekolah dia ada rapat dengan para guru sehingga tidak bisa pulang bersama. Jadilah aku meminta bantuan Kania untuk mengantar ku. Kebetulan karna sudah lama aku tidak pulang ke rumah kedua orang tua ku, hari ini aku meminta Kania untuk mengantar ku ke rumah Ayah dan Ibu karna sebelumnya aku sudah meminta izin pada kedua mertuaku.
"Panas banget ya Kan?" Ujarku yang sedikit berteriak, karna aku duduk di belakang sedangkan Kania memboncengku.
"Iya, Ampe kering nih rasanya tenggorokan gue." Sahut Kania.
"Eh eh, mampir situ yuk. Ada es teler tuh, pas banget!" Tunjuk ku pada pedagang es teler.
"Ashiap." Tanpa ba bi bu lagi Kania langsung mengarahkan motornya pada pedagang es teler yang ada di seberang jalan.
Segera setelah turun, aku dan Kania langsung memesan 2 mangkok es teler berukuran sedang.
"Silahkan neng!" Ucap bapak-bapak pedagang es teler mengantarkan pesanan kami.
"Terimakasih Pak!" Sahut ku dan Kania berbarengan.
Saat tengah asik menyantap semangkok es teler segar, tiba-tiba perhatian ku teralihkan pada sosok laki-laki dan wanita yang sedang asik berbincang di bangku taman tak jauh dari tempat ku dan Kania berada, sosok itu sangat tidak asing di mataku.
"Kenapa?" Tanya Kania yang masih sibuk menyantap es telernya.
"Coba liat ke sana deh!" Ujarku lagi menunjuk ke arah laki-laki dan wanita yang sedang duduk tadi.
"Yaelah Lo, ngapain nyuruh gue nontonin orang pacaran." Ucap Kania yang hanya melirik sebentar, lalu kembali membalikkan badannya menikmati minumannya yang menyegarkan.
"Ih, coba liat dulu. Itu Dennis bukan sih?" Ucapku yang terus memperhatikan mereka.
"Dennis? Dennis pacar gue?" Tanya Kania terkejut, lalu kembali membalikkan badannya untuk melihatnya.
"Bukan, bukan Dennis pacar Lo. Tapi Dennis, adek sepupunya Pak Juan."
"Eh, iya loh." Kata Kania membenarkan setelah ikut memperhatikan.
"Apa itu cewek yang di maksud Dennis kemaren ya? Yang dia bilang cewek yang dia taksir?"
"Bisa jadi. Cakep weh, mana bodynya juga kek gitar spanyol gitu." Ujar Kania.
"Eh eh, tapi itu.. ceweknya kok kayak nangis gitu?"
"Eh eh, di tampar juga dong.." Ujar Kania lagi.
"Lah, kok pergi? Itu ceweknya di tinggal?" Kata Kania dengan nada hebohnya.
"Ri, Lo sebenarnya liat ngga sih? Kok Lo diem aja?" Tanya Kania.
Sebenarnya aku memperhatikan sejak tadi, dan tak terlewat sedikitpun. Aku melihat perlakuan laki-laki itu yang terlihat kasar pada wanita yang bersamanya itu. Tapi, aku hanya tidak mengerti. Tidak, aku memang tidak ingin mengerti. Bagaimana bisa itu Dennis? Dennis yang ku kenal selama ini, adalah Dennis yang baik, manis, penuh perhatian, humoris dan juga lemah lembut. Sangat tidak mungkin Dennis yang ku kenal bisa berbuat seperti itu pada wanita, bahkan menamparnya lebih dari 1 kali. Aku terus berpikir, mungkin wanita itu melakukan kesalahan yang sangat fatal sehingga membuatnya kehilangan kendali, tapi itu juga tidak bisa di benarkan. Aku benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang ku lihat barusan. Aku membeku seperti patung di tempatku, aku benar-benar terkejut dan tidak percaya.
__ADS_1
"Ri, woy Ri.." Pekik Kania, sambil menjentik-jentikkan jarinya di depanku.
"Eh, i..iya Kan." Sahutku, yang masih sedikit bingung.
"Kok Lo bengong?"
"Eh, ngga."
"Kan? Apa menurut Lo, cowok tadi benar-benar Dennis yang kita kenal? Adek sepupunya Pak Juan?"
"Dari postur tubuh, emang mirip sih. Tapii.." Kania menggantung ucapannya.
"Tapi kayaknya bukan, ya ngga sih? Karna kita ngga liat dari dekat. Trus kita liatnya juga menyamping. Mungkin dia bukan Dennis yang kita kenal. Karna kata orang, di dunia ini kita seakan memiliki kembaran. Karna pasti ada 1 atau 2 orang yang mukanya mirip sama kita?" Ujarku yang masih berusaha berpikiran positif.
"Iya, bisa jadi sih. Gue juga ngga percaya itu Dennis, adek sepupunya Pak Juan." Kata-kata Kania sedikit membuatku lebih tenang.
"Iya, ngga mungkin itu Dennis." Batinku, yang terus berusaha menyangkalnya, tapi jauh di lubuk hatiku, seakan memberitahu, apa yang ku lihat itu tidak salah. Tapi sekali lagi aku menyangkalnya
Setelah selesai meminum es teler, Kania mengantar ku sampai kerumah kedua orangtua ku hingga petang tiba. Dan setelah adzan Maghrib berkumandang, Pak Juan datang untuk menjemputku.
-
Jujur saja, perasaan ku sangat tidak tenang. Mengingat kejadian yang mengejutkan tadi sore, aku terus melamun memikirkannya sepanjang jalan.
"Pak?" Panggilku.
"Hm, kenapa?"
"Ngga, aku ngga boleh tanya soal ini ke Pak Juan." Batinku. Aku mengurungkan niatku kembali, untuk menanyakan keraguan ku mengenai adik sepupunya.
"Ngga papa kok pak. Bapak sudah makan?" Ujarku mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudah." Sahutnya singkat, sambil menatapku bingung.
"Ah iya, syukur deh." Ujarku mengangguk.
"Sepertinya kau sudah mulai populer." Celetuk Pak Juan tiba-tiba.
"Maksud Bapak?" Tanya ku heran.
"Saat di ruangan panitia tadi, sepertinya mereka menyukai mu."
Kemudian aku berpikir sejenak.
"Ah.." Aku mengingatnya.
"Bapak cemburu?"Tanyaku menyelidik.
"Aku? Cemburu? Dengan anak itu? Heh, jangan mimpi!" Ujarnya mengelak.
"Kalo cemburu bilang dong Pak, jangan diem trus marah-marah." Ujarku sedikit memajukan tubuhku sambil tersenyum menggodanya dengan membelai lembut bahunya.
"Sudah ku bilang, aku tidak cemburu. Sudah, jauh-jauh sana. Jangan menggangguku menyetir."
❤️❤️❤️
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favoritnya juga ya dear 🤗😘 terimakasih 😚🙏
__ADS_1