
❤️❤️❤️
Hari sudah semakin gelap ku lihat di luar, saat aku bercermin mataku terlihat sembab karna tangisanku tadi sore. Segera aku masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh wajahku. Karna pintu kamar mandi yang tidak di tutup, aku mendengar pintu kamar yang terbuka, ku intip sekilas, ternyata Pak Juan sudah datang. Setelah selesai membasuh wajahku, dan menyelaraskan ekspresi wajahku, aku segera berjalan keluar.
"Bapak sudah pulang?" Tanyaku sambil tersenyum ke arahnya.
"Hm" Sahutnya.
Lalu dia segera masuk kedalam kamar mandi, tanpa menoleh padaku.
Aku duduk di bibir ranjang menunggunya selesai mandi.
Krek
"Bapak sudah makan belum? Tadi Ibu kesini, minta kita turun kebawah untuk makan malam."
"Kau saja, aku sudah makan." Sahutnya sambil sibuk mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
"Apa bagian belakang Bapak masih sakit?" Tanyaku lagi.
"Tidak" Sahutnya singkat.
"Syukur deh." Ujarku sebelum keluar untuk makan malam. Tanpa bertanya lebih lagi, aku segera turun ke bawah menuju meja makan.
"Loh, kok sendirian aja sayang?" Tanya Bu Nala ketika melihatku yang turun sendirian.
"Katanya, Pak Juan sudah makan Bu" Sahutku.
"Oh yasudah kalau begitu" Ujar Bu Nala, lalu ikut duduk di sebelahku.
Tanpa adanya Pak Juan di meja makan, tidak mengurangi riuh suasana makan malam kami malam ini karna ada Dennis yang selalu bisa menghidupkan suasana. Bahkan kami jadi lebih leluasa bersenda gurau, tanpa Pak Juan yang biasanya selalu protes.
Setelah 30 menit kami menyantap makanan sambil terus saling melempar candaan. Aku pamit untuk naik keatas terlebih dahulu, karna ada tugas sekolah yang harus ku kerjakan malam ini.
"Yah, Bu, Dennis, Riri keatas dulu ya?!" Ujarku sambil bangun dari posisi duduk ku.
"Kok cepet banget sih? Padahal masih banyak cerita lucu yang mau gue ceritain. Rugi Lo kalo ngga dengerin sampai habis." Ucap Dennis.
"Iya, kok buru-buru sayang?" Timpal Bu Nala.
"Riri juga masih pengen disini bareng kalian, tapi ada kewajiban yang harus Riri kerjain" Jawabku.
"Kewajiban?" Tanya mereka berbarengan.
"Tugas sekolah" Sahutku yang terlihat tidak bersemangat, kala mengingat PR yang harus ku kerjakan sekarang, karna akan di kumpulkan besok pagi.
"Oh, tugas sekolah!" Ujar mereka berbarengan.
"Ibu kira kewajiban...
Ucap Bu Nala menggantung.
"Ibu kira kewajiban apa Bu?" Tanyaku dengan polosnya.
"Eh, eng...
"Yasudah, kamu naik saja nak. Nanti kemalaman loh mengerjakan PR nya." Potong Ayah Adi.
__ADS_1
"Yaudah, Riri ke atas dulu ya?" Pamitku. Lalu aku segera berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar atas.
Krek
"Pak Juan?" Ujarku yang sedikit terkejut melihat apa yang dilakukannya saat ini, dengan cepat dia menyingkirkan benda yang ada di tangannya.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu?" Pekiknya, seperti seseorang yang takut ketahuan sedang melakukan sesuatu, dia menjadi kikuk sendiri.
Aku mengulum senyumku melihat tingkahnya.
"Kenapa Bapak ngga bilang dari tadi kalau masih sakit?" Ujarku berjalan mendekat padanya.
"Tidak, siapa bilang masih sakit." Sangkalnya.
"Trus itu apa? Koyok itu buat apa?" Ujarku lagi menunjuk koyok yang dengan cepat tadi dia sembunyikan di bawah selimut, namun masih bisa terlihat olehku karna koyok itu tidak tertutup sepenuhnya di bawah selimut.
"Mana ada koyok? Aku sudah membuangnya tadi siang." Ujarnya yang masih saja mengelak padahal bukti sudah ada di depan mata.
"Lalu ini apa namanya kalau bukan koyok?" Ujarku yang dengan cepat mengambilnya, dan ku arahkan tepat di depan wajahnya.
"I..itu..
Dia terlihat bingung menjawabku.
"Bisa-bisanya dia masih menyangkal saat bukti sudah sejelas ini" Batinku, sambil terus mengulum senyum.
"Kalau Masih sakit dan perlu bantuan, Bapak bilang aja, ngga usah malu" Ucapku.
"Siapa bil...
"Aduh" Pekiknya, kala aku menempelkan koyok di bagian belakangnya tiba-tiba dengan sedikit menekan.
"Ini juga udah pelan Pak. Bapak aja yang manja, baru di tekan sedikit aja udah, aduh aduh.." Ujarku dengan nada mengejek.
"Apa kau bilang?" Ucapnya berbalik menatapku sambil memelototkan matanya.
"Ngga bilang apa-apa." Ujarku mengelak yang di akhiri dengan senyuman miring di ujung bibirku.
"Kau... Auh hshh.."
Ujarnya sambil memegangi bagian belakangnya yang kembali sakit, karna dia tiba-tiba bangun hendak meraih tanganku.
"Aduh Pak, jangan banyak gerak dulu dong kalo masih sakit." Ujarku khawatir lalu membantunya untuk duduk kembali.
"Sudah, lepaskan." Kata Pak Juan menepis tanganku.
"Kalau perlu apa-apa panggil Riri aja" Ucapku mengingat kan.
"Tidak perlu" Tolaknya cepat.
"Langsung nolak aja, bukannya dipikir dulu." Gumamku pelan.
"Apa kau bilang?"
"Eh, eng.. ngga papa kok pak. Riri mau kerjain tugas dulu" Ujarku kemudian berjalan menuju sova untuk mengerjakan tugasku.
_______________
__ADS_1
"Pak?" Panggilku pelan.
"Pak Juan?" Panggil ku lagi.
"Ck, kenapa sih? Berisik sekali? Apa kau tidak bisa membiarkan ku tenang?" Ocehnya.
"Em, itu.. anu pak, mengenai tugas yang Bapak berikan. Apa tidak bisa jawabannya setengah lembar saja? Riri sudah kehabisan ide kalau harus menjawabnya 2 lembar penuh, terlebih Bapak tidak memperbolehkan mencari jawabannya di internet." Ucapku pelan.
"Kau itu, sudah diberi tugas segampang ini masih saja mengeluh."
"Gampang menurut Bapak." Celetukku.
"Apa kau bilang?" Pekiknya yang ternyata mendengar omonganku.
"Eh, eng.. ngga kok Pak" Elak ku cepat.
"Apa Bapak bisa memberikan sedikit bocoran?" Ujarku tersenyum penuh harap padanya.
"Jangan harap!" Tolaknya cepat.
"Cih, dasar guru killer. Ya masa otak ku di bandingkan dengan otaknya yang jenius itu. Yang ada rambut pada memutih semua kalau di paksakan" Gumamku.
"Aku bisa mendengarnya." Ujarnya menatap tajam padaku.
"Bagus deh kalau Bapak denger. Gini ya Pak, Otak Bapak itu sudah jenius dari dulu makanya Bapak bisa dapat beasiswa di universitas terkenal dan terbaik. Jangan paksakan otak Riri yang pas-pasan gini dong. Udah dapat setengah lembar aja syukur pak, karna Bapak baru jelasinnya sekali terus langsung diberi tugas, mana ngga boleh nyari di internet lagi, dibuku materi juga ngga ada. Riri harus cari kemana? Di got?" Ujarku panjang lebar, ntah keberanian darimana aku bisa mengatakannya secara gamblang.
"Kau itu bodoh sekali, ini tidak ada hubungannya dengan jenius atau tidak. Semua yang ku jelaskan ada di dalam buku, jawabannya pun ada, kenapa harus repot-repot mencari di internet. Makanya kalau guru sedang menjelaskan itu di dengarkan jangan hanya sibuk memikirkan laki-laki."
"Siapa yang mikirin cowok" Sungutku.
"Lagian emang benar kok, tugas yang Bapak berikan itu tidak ada di dalam buku". Sahutku yakin.
"Kalau materinya benar-benar tidak ada dibuku, kau boleh mengumpulkannya setengah lembar, tapi kalau memang ternyata ada dibuku, kau harus mengerjakannya 3 lembar penuh" Tantangnya.
"Ok" Sahutku, tanpa takut.
"Buka buku xxx halaman xx" Perintahnya.
"Buku xxx? Kenapa Bapak baru bilang?"
"Aku sudah menjelaskannya panjang lebar di kelas, dan kau yang tidak menyimaknya. Lalu sekarang berani-beraninya kau protes?" Ujarnya meninggikan suaranya.
"Kenapa aku ngga tanya dulu sebelumnya sama Kania ya? Arghhh" Batinku.
"Ma.. maaf Pak" Ujarku tertunduk.
"Sesuai kesepakatan, kau harus mengerjakannya 3 lembur penuh." Ujarnya, di akhiri dengan senyuman tipis di ujung bibirnya.
"Tapi Pak, di buku ini ngga sampe 3 lembar jawabannya."
"Kau pikir saja sendiri jawabannya sampai 3 lembar penuh" Ujarnya sebelum berbalik memunggungi ku.
"Arghhhhhhhh, nasibku kok gini amat sih?!" 😫
❤️❤️❤️
Tinggalkan like, komen, vote dan favoritnya ya para readers ku tercinta 😘
__ADS_1
Terimakasih 😘🙏