
❤️❤️❤️
"Emm.. pak?!". Ujarku ragu-ragu.
"Saya paling tidak suka diajak bicara saat menyetir". Sergahnya cepat.
"Tapi p..".
Belum juga aku menyelesaikan kalimatku, dia malah menatap ku dengan tajam. Aku kembali mengurungkan niatku.
Aku sudah berusaha menahannya, tapi...
"Aduh, aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi". Batinku, sambil merapatkan kedua kakiku.
"Pak, tolong berhenti di pom bensin berikutnya". Ujarku tanpa ragu-ragu.
"Berani sekali kau...
"Pak pak, stop di pom bensin di depan sana". Potongku cepat sambil menunjuk ke arah pom bensin yang ada di depan.
Betapa tidak beruntungnya aku, bukannya berhenti pak Juan malah terus melajukan mobilnya, malah sekarang dia menambahkan kecepatan laju mobilnya.
"Loh, pak. Kok di lewatin sih?". Rengek ku sambil terus menatap pom bensin yang sudah terlewati.
"Jangan harap kau bisa memerintah ku". Sahutnya, di barengi dengan senyuman miring di ujung bibirnya.
"Aduh pak, bukan seperti itu. Riri sudah ngga tahan lagi". Pekik ku, sambil terus merapatkan kakiku.
"Maksudmu?". Dia menatapku heran.
"Riri kebeleeeetttt". Pekik ku.
"Kenapa tidak bilang dari tadi". Ujarnya yang mulai panik.
"Bapak sendiri yang melarang Riri bicara".
Ciiitttt
Dug
"Aduh". Pekik ku.
"Cepat turun?!". Perintahnya.
"Di tempat seperti ini?!". Ujarku menatap bingung area sekitar.
"Di semak itu?". Tunjukku ke arah semak dekat pohon yang ada di depan kami.
"Bapak kira Riri kucing?". Pekik ku. Yang benar saja aku di suruh buang air kecil di tempat seperti itu.
"Gadis bodoh. Kau tidak lihat rumah makan itu?". Ujarnya menunjuk rumah makan yang ada di seberang jalan.
"Eh, eng...". Aku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal.
"Memalukan sekali". Batinku.
"Cepatlah, awas saja kalau kau berani buang air kecil di mobilku".
"Iya, iya. Siapa juga yang mau buang air kecil di mobil bapak". Ujar ku, dengan secepat kilat aku berlari ke rumah makan di seberang jalan tanpa mendengarkan ocehannya lagi.
__ADS_1
~
"Sudah pak". Ujarku yang sudah kembali ke dalam mobil.
"Hm". Jawabnya singkat.
Lalu kami kembali membelah jalanan yang tampak ramai di depan kami, cuaca yang panas menyeruak masuk lewat kaca depan mobil pak Juan yang membuat ku mengernyit kala cahaya panas itu mengenai wajahku.
Tiba-tiba saja pak Juan menurunkan sun shield yang ada di depanku.
Dengan reflek aku memundurkan tubuhku, aku terkejut atas tindakan langkanya barusan. Aku menatapnya dengan heran.
"Apa kau saking bodohnya tidak tau fungsi sun shield yang ada di depanmu?!". Celetuknya.
Aku hanya tersenyum mendengarkannya.
"Aku sedang mengejekmu bukan memujimu?!". Ujarnya kemudian sesaat setelah melihatku tersenyum.
"Terimakasih pak". Ujarku tersenyum manis ke arahnya.
Dia hanya mengernyitkan dahinya menatapku heran.
Triiriing triiriing..
Ku lihat dari layar depan mobil yang sudah otomatis tersambung dengan handphonenya, ada yang menghubunginya dan bu Nala lah orang yang tengah mencoba menghubunginya itu.
"Kenapa bu?". Ujarnya yang langsung mengangkat telpon dari ibunya itu.
"Bawa Riri kerumah Ju?!". Ku lihat pak Juan mengernyitkan dahinya heran.
"Ibu tau. Sekarang Riri ada di mobil kamu kan". Sambung bu Nala.
"Eh, engg..". Aku langsung mengalihkan pandangan ku ke sembarang tempat.
"Jangan salahkan Riri. Bawa menantu ibu kerumah". Perintahnya lagi.
Tut tut
Pak Juan memutuskan panggilannya begitu saja.
"Jangan harap aku akan membawamu kerumah sekarang". Ucapnya.
"Cih, apa bapak begitu membenciku?". Celetuk ku dalam hati. Tentu saja aku tidak berani menanyakannya secara langsung, bagaimana kalau dia bilang dia memang membenciku. Tidak, tidak.. aku tidak akan menanyakannya.
Dan nahasnya dia benar-benar mengantarkan ku kerumah bukan membawaku ikut kerumahnya seperti yang di perintahkan oleh ibunya.
"Hatinya itu terbuat dari apasih?". Gerutu ku ketika sudah berada di dalam kamar.
Setelah aku melepaskan seragamku, aku segera menghempaskan tubuhku yang terasa penat di atas ranjang baringanku.
Sesekali aku menghembuskan napasku lelah, setelah mengingat kejadian yang menimpaku hari ini.
Aku mengingat kembali perkataan Kania. Tentang pak Juan yang khawatir terhadapku.
"Apa benar dia mengkhawatirkan ku?". Ujarku yang meragukan penuturan Kania.
"Sikapnya padaku saja seperti itu, heh". Aku kembali menghela napasku.
~
__ADS_1
Seminggu telah berlalu, ulangan ku juga sudah berakhir. Dan sekarang adalah hari liburku setelah ulangan. Sudah 3 hari aku tak bertemu dengan pak Juan, aku sudah sangat merindukannya.
Aku merasa sangat bosan tidak ada kegiatan yang bisa ku lakukan, Kania juga sibuk dengan pacarnya. Hanya nasibku yang malang terkurung dengan kebosanan.
Ku lihat beberapa kali nomor pak Juan, aku ingin menelponnya. Tapi pasti dia tidak akan mengangkat telpon ku.
"Membosankan sekali". Gumamku pelan sambil menatap nanar ke arah luar jendela.
Drt drt
Pesan masuk dari bu Nala.
"Sayang, datang lah kerumah. Juan sedang sakit, ibu dan ayah tidak bisa pulang sekarang. Bisakah kamu merawatnya menggantikan ibu hari ini?".
Aku langsung bangun setelah membaca pesan dari bu Nala.
"Pak Juan sakit?!". Ujarku.
Tanpa berpikir lagi aku langsung bersiap-siap hendak menemuinya.
Setelah berpamitan dengan ibuku, aku langsung berangkat menuju rumah pak Juan yang di antar oleh tukang ojek langganan ku.
~
Setelah aku membayar ongkos ojek aku langsung berlari masuk kedalam rumahnya.
"Bi, pak Juan ada di dalam?!". Tanya ku pada bi Ningrum yang sedang sibuk menyiram tanaman dengan napas yang tersengal.
"Tuan muda ada di at...."
"Terimakasih bi". Ujarku tanpa mendengarkan jawabannya sampai habis.
~
"Pak, pak Juan. Bangun pak". Ujarku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?". Ucapnya bingung sesaat setelah bangun karna goncanganku.
"Bagian mana yang sakit pak?". Tanyaku khawatir, sambil mengecek suhu tubuhnya.
"Apa maksudmu?". Dia menepis tanganku dari tubuhnya.
"Kata bu Nala, bapak sakit dan meminta Riri untuk merawat bapak hari ini". Ujarku menatapnya khawatir.
"Dia membohongimu". Sahutnya datar.
"Cepat keluar". Perintahnya dengan mendorong tubuhku agar menjauh darinya.
Tapi nahasnya kaki ku tersangkut di dalam selimutnya, karna aku kehilangan keseimbangan dan kurasa aku pasti akan terjatuh dengan reflek aku menarik kerah bajunya, dan...
"Aaaaaa".
Brug
"Cup... 😨".
❤️❤️❤️
Aduh, mana lagi puasa. Maap gais sengaja 🙈 biar greget 🤣
__ADS_1