Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Juan POV VII


__ADS_3

❤️❤️❤️


Gadis ini benar-benar membuatku gemas, masih saja dia berusaha membuatku cemburu dengan pergi makan malam bersama dengan Dennis. Mungkin aku akan cemburu jika tidak mengetahui akal bulusmu, tapi tidak jika aku mengetahuinya. Gadis bodoh, jika kau benar-benar ingin melihatku cemburu, seharusnya kau lebih barhati-hati dalam bertindak.


Dia tertidur di sampingku, tapi tidak benar-benar di sampingku. Dia tidur dalam posisi duduk dengan kasur sebagai alas kepalanya, aku membelai rambutnya yang halus dengan sangat lembut. Mendengar penuturannya barusan benar-benar membuatku terenyuh. Dalam hidupku ini adalah pertama kalinya, aku mendengar pengakuan cinta seperti ini. Jatuh cinta pada pandangan pertama? Aku menyunggingkan senyum ketika mengingat kata-katanya barusan.


"Tanpa kau meminta ruang pun, nyatanya kau sudah mengisi penuh setiap sudut ruangan yang ada di hatiku."


"Riri, aku mencintaimu!"


*Cup*


Sebuah kecupan lembut ku daratkan tepat di bibir mungilnya. Ini adalah pertama kalinya bagiku mencium bibir gadis yang ku cintai.


Setelah satu kecupan lembut itu, aku langsung mengangkatnya ke atas tempat tidur. Dia benar-benar tertidur pulas, bahkan ketika aku mengangkatnya pun dia tidak bergerak sama sekali. Ku pandangi cukup lama wajahnya yang terlihat sangat cantik, bahkan ketika dia sedang tidur. Sesekali aku menyunggingkan senyum sambil membelai lembut rambut halusnya, sebelum aku ikut larut kedalam mimpi sambil memeluk tubuh mungilnya.


Triiriiingg triiriinggg


Ku lihat dari ekspresinya dia begitu terkejut karna ketika dia bangun, dia sudah berada di atas ranjangku.


"Apa kau akan terus duduk disitu? Cepat mandi! Atau ku tinggal kau nanti" Ujarku yang tiba-tiba mengagetkannya.


"I..iya Pak" Sahutnya, lalu dia segera bangun dan berlari kecil menuju kamar mandi.


"Cepat!" Perintahku, ketika dia sudah berada dalam kamar mandi.


"Iyaaa." Teriaknya yang masih jelas ku dengar.


"Bahkan saat baru bangun tidur pun, kau terlihat sangat cantik." Gumamku, dengan senyuman yang merekah.


______________


Ku perhatikan sesekali ekspresinya tampak murung sedari tadi ketika kami keluar dari gerbang sekolah.


Bahkan ku rasakan, dia terus memandangiku.


"Aku tau, aku tampan!" Celetuk ku.


"Cih, PD banget!" Ujarnya, lalu dengan cepat dia mengalihkan pandangannya.


"Kalau aku tidak tampan, mana mungkin kau jatuh cinta pada pandangan pertama padaku!" Ujarku yang sontak membuatnya terkejut.


"A..apa Bapak bilang? Riri jatuh cinta pada pandangan pertama pada Bapak? Hahahaha"


"Bapak lucu sekali, mana mungkin Riri jatuh cinta pada pandangan pertama pada Bapak. Lagian Bapak tau darimana berita lucu seperti itu? Hahaha.." Ujarnya lagi, yang masih terus menyangkal.


"Kau akan terus menyangkalnya kan?" Batinku menyeringai. Hingga tiba-tiba muncul sebuah ide untuk menggodanya.


Ciiiittttt


Jedug


"Aduh!" Pekiknya.


"Apa Bapak tidak bisa mengerem pelan-pelan?" Protesnya.


Bukannya menanggapinya, aku malah memajukan wajahku mendekat padanya.


"A..apa yang mau Bapak lakukan?" Ujarnya mulai panik sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Kau tidak mau mengakuinya?" Ujarku yang semakin mendekatinya dan menatap lekat pada netra pekatnya.


"Me..mengakui apa?"


"Mengakui bahwa kau..."Ucapku menggantung sambil menyibakkan rambut yang sedikit menutupi matanya ke belakang telinga.


"Aduh!" Pekik nya tiba-tiba.


"Kenapa?" Tanya ku bingung melihatnya yang tiba-tiba mengaduh.


"Sepertinya ada sesuatu di tengkuk Riri Pak." Sahutnya.


"Aduh, aduduh..." Pekik nya lagi, sambil mengibas-ngibaskan tangannya pada tengkuknya.


"Dimana? Biar ku lihat." Ujarku yang langsung melepas seatbelt, lalu membantu memeriksa tengkuknya.


"Disini Pak!" Ujarnya yang ku lihat menunjuk pada bagian yang sakit.


"Mana? Tidak ada?" Ucapku yang tidak melihat apapun disana.


"Pasti ada, aduh aduh.. sakit" Pekiknya lagi yang membuatku semakin khawatir.


"Dimana? Disebelah sini?" Tanya ku sambil menyentuh bagian belakang lehernya, tapi aku tidak melihat ada sesuatu di tengkuknya.


"Hahaha, aduh Pak geli!" Ujarnya tiba-tiba tertawa kegelian.


"Apa kau tidak bisa diam? Bagaimana aku bisa membantumu kalau kau tidak bisa diam?" Pekik ku, aku sudah khawatir dia malah tertawa.


"Hahaha, aduh Pak geli. Hahaha" Ujarnya lagi yang tidak bisa menahan tawa karna geli sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya kesana kemari.


Tok tok tok


Suara ketukan dari luar sontak membuat kami terkejut.


"Polisi?" Batinku.

__ADS_1


Sesaat kami berpandangan dengan tatapan yang sama-sama bingung.


Tok tok tok


"Bisa keluar sebentar?" Ujar Pak polisi yang masih bisa kami dengar dari dalam mobil.


"Kenapa polisi mengetuk kaca mobil kita Pak?" Tanya Riri padaku.


"Aku tidak tau, kau tunggu dulu disini sebentar." Ujar ku sebelum keluar dari mobil.


-


"Selamat siang Bapak?!" Ujar Pak polisi sambil memberikan hormat.


"Siang Pak. Ada apa ya?" Tanya ku heran.


"Tadi ada salah satu warga yang memberi keluhan, katanya tiba-tiba ada mobil yang berhenti di tepi jalan cukup lama. Setelah mereka perhatikan, mobil Bapak bergoyang, bahkan saya pun tadi melihatnya."


"Maksud Bapak?" Tanya ku lagi semakin bingung.


"Apa kalian sedang melakukan hal yang tidak senonoh di dalam sana?"


"Hah? Hal tidak senonoh apanya?" Ujarku mengerutkan kedua alisku.


"Saya tidak melakukan apapun Pak" Ujarku lagi.


"Tapi saya tadi melihatnya Pak, mobil bapak bergoyang dan itu tidak sebentar. Bahkan tadi saya lihat gadis di sebelah Bapak masih sangat muda dan mengenakan seragam sekolah."


"Iya mobil kami mungkin bergoyang, tapi...


"Sekarang Bapak mengakuinya kan?" Ucap Pak polisi tiba-tiba memotong ucapanku.


"Hah? Mengakui apa Pak?"


"Sekarang Bapak ikut saya ke kantor polisi untuk di periksa."


"Hah? Pak, ini bukan seperti yang terlihat. Saya tidak gila, sampai melakukan hal yang tidak-tidak di pinggir jalan." Ujarku meyakinkan. Yang benar saja aku melakukannya di pinggir jalan seperti ini, kalau ada kasur yang sangat empuk di kamarku, kenapa aku harus melakukannya disini.


"Kau tunggu di dalam saja!" Ujarku ketika ku lihat Riri membuka pintu mobil mencoba untuk keluar.


"Tapi Pak...


Brak


"Semua orang yang tertangkap basah melakukan tindak asusila di depan umum juga menyangkalnya, tapi apa? Semuanya bohong" Ujar Pak polisi lagi.


"Tapi saya tidak berbohong Pak, kami tidak melakukan apapun. Dan meskipun saya melakukan sesuatu, tidak apa-apa kan? Toh, dia istri saya." Sahutku yang mulai geram.


"Sudah mengarangnya? Sekarang ikut saya ke kantor polisi. Atau kalian mau saya arak di jalanan raya ini?" Ujar Pak polisi mengancam.


Kulihat orang-orang sekarang mulai mengerubungi kami.


____________


Alhasil, akhirnya aku dan Riri sekarang benar-benar berada di kantor polisi. Bukan karna di tilang melainkan di tuduh melakukan hal yang tidak-tidak di tempat umum. Ini benar-benar gila. Dan sialnya lagi aku tidak membawa buku nikah kami sebagai tanda bukti, dengan terpaksa aku menelpon orangtuaku untuk membawa buku nikah kami ke kantor polisi. Benar-benar memalukan, sudah bisa di tebak, pasti Ayah dan Ibu nantinya akan mengejek ku habis-habisan.


Dan benar saja, sejak pulang dari kantor polisi mereka terus mengejekku hingga ke esokan harinya mereka tetap saja mengejekku. Aku benar-benar jengah di buatnya.


Moodku hancur hari ini, bahkan ketika Riri mengajakku bicara pun aku tidak meladeninya.


-


Setibanya di sekolah, saat aku berjalan menuju ruangan ku, aku merasakan tatapan-tatapan aneh tertuju padaku. Meskipun biasanya mereka juga menatapku, tapi entah kenapa kali ini rasanya benar-benar berbeda.


Hingga jam istirahat tiba, aku menyelesaikan makan siangku. Aku di kagetkan dengan berita yang sangat mengejutkan yang ku dengar dari beberapa siswa.


"Apa kau bilang barusan?" Tanyaku pada salah satu siswa yang membicarakannya.


"I..itu Pak, Ri..Riri dan temannya berkelahi dengan siswi di kelas sebelah. Da..dan sekarang mereka sedang berada di ruangan Bu Tania."


Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung berlari dengan tergesa-gesa menuju ruangan Bu Tania tanpa menghiraukan tatapan orang-orang yang menatap ku dengan heran.


Yang ada di pikiran ku saat ini adalah Riri. Apa dia baik-baik saja? Apa dia terluka? Aku benar-benar mengkhawatirkannya sekarang.


Krek


Tanpa mengetuk aku langsung masuk begitu saja. Dan orang pertama yang ku lihat adalah Riri. Kulihat penampilannya sekarang benar-benar berantakan.


"Berani-beraninya anak itu menjambak rambut istriku?" Batinku, manatap tidak suka dengan gadis di sebelahnya, yang sudah bisa ku tebak dialah yang membuat istriku menjadi berantakan seperti ini.


"Ada perlu apa Pak?" Tanya Bu Tania padaku.


"Saya dengar pertengkaran mereka dimulai gara-gara Saya. Boleh Saya ambil alih mereka sekarang?" Pintaku.


"Eh, eng.. ta..tapi Pak?"


"Biar Saya yang urus mereka." Ujarku lagi.


"Ba..baiklah Pak. Silahkan!"


"Kalian, ikut ke ruangan Saya!" Perintah ku.


-


Masuk!" Perintahku sambil menahan pintu dan membiarkan mereka masuk.

__ADS_1


"Salah satu di antara kalian, coba ceritakan. Apa akar permasalahan yang sebenarnya?" Tanya ku yang sudah tidak sabar ingin mengetahui kebenarannya.


"Lo aja."


"Lo"


Bukannya menjawab, mereka malah saling bersikutan satu sama lain. Tidak ada yang mau mengalah, hingga kembali menimbulkan keributan.


Brak


"Arianti!" Panggilku yang membuatnya terkejut.


"Eh, i...iya Pak!" Sahutnya terbata.


Coba ceritakan!" Perintahku.


"Sa..saya Pak?"


"Memang ada berapa orang yang bernama Arianti di ruangan ini?"


"Eh, i...iya Pak. Nita yang terlebih dahulu menarik rambut Saya Pak!" Ujarnya.


"Eh enak aja, itu juga gara-gara mulut Lo yang ngga ada akhlaknya itu." Bantah gadis bernama Nita menyalahkan istriku kembali.


"Itu juga gara-gara Lo yang mulai."


Suasana kembali riuh di ruangan ini. Mereka kembali saling bersahutan dan menyalahkan satu sama lain.


Brak


"Apa kalian tidak bisa mencerna perkataan Saya? Saya bilang salah satu dari kalian ceritakan akar permasalahannya, dan saya meminta Arianti untuk menceritakannya. Kenapa kalian malah saling menyalahkan satu sama lain dan bertengkar, dan terlebih lagi di hadapan Saya? DIMANA ETIKA KALIAN?" Ujarku lantang.


"Kalian semua tunggu diluar! Kecuali Arianti." Perintahku.


"Ba..baik Pak" Sahut mereka, lalu secara beraturan mereka meninggalkan ku dan Riri berdua di ruanganku.


"Mendekatlah!" Perintahku.


Ku lihat dengan takut-takut dia melangkahkan kakinya.


"Ku bilang mendekatlah!" Ujarku meninggikan suara.


"I..ini sudah dekat Pak!" Sahutnya.


Greb


Aku meraih tangannya, membuatnya semakin dekat denganku.


"Ma..maafkan Riri Pak. Ri..."


"Kenapa kau jadi kacau balau seperti ini?" Ucapku pelan sembari membetulkan rambutnya yang benar-benar tampak kacau.


"Lain kali, tolong jangan seperti ini lagi hanya gara-gara aku." Ujarkh pelan, sambil terus merapikan rambutnya yang kacau.


"Pak Juan?" Ucapnya menatap nanar ke arahku.


"Pasti sakit sekali!" Ujarku sambil mengusap pelan kepalanya.


"Berbalik lah, aku akan bantu ikatkan rambutmu."


Tanpa membantah, dia memutarkan badannya membelakangi ku.


"Biar Riri aja Pak?" Ujarnya hendak mengambil alih apa yang ku kerjakan sekarang.


"Diamlah sebentar!" Perintahku.


"Jadi, ceritakanlah apa yang terjadi?" Tanya ku yang masih sibuk dengan rambutnya.


Ku dengarkan dengan saksama setiap perkataan yang diucapkannya. Sambil sesekali aku menyunggingkan seutas senyum ketika mendengarnya.


"Lain kali, ku minta.. Kau jangan pernah melakukan ini lagi hanya karna aku." Ujarku, aku khawatir ini akan berdampak buruk padanya.


"Aku hanya tidak ingin kau terluka seperti sekarang. Kau lihat? Aku adalah akar permasalahannya, tapi malah kau yang terluka gara-gara aku. Cukup diam saja, jangan kau dengarkan perkataan mereka yang mencaci maki, bukankah kau yang paling tau tentang ku? Kenapa kau harus marah, jika itu semua tidaklah benar?"


"Ta..tapi Pak, Riri ngga bisa diam aja dong kalau Bapak di fitnah seperti itu."


"Dengarkan aku! Kau itu wanita, dan aku pria. Bukankah seharusnya seorang pria yang melindungi wanitanya?"


"Aku seperti ini juga untuk melindungimu. Kalau kau bersikap berlebihan seperti ini, apa menurutmu mereka tidak akan curiga dan menimbulkan spekulasi yang pada akhirnya rahasia kita akan terbongkar. Kau tenang saja, aku juga tidak akan membiarkan rumor ini terus berlanjut. Aku janji akan segera meluruskan perihal rumor yang beredar ini secepatnya."


Ku lihat dia hanya menganggukkan kepalanya pelan, mengiyakan semua ucapan yang ku lontarkan.


"Sepulang sekolah, bisa kau tunggu di tempat dulu waktu kau menunggu ku? Jangan di parkiran, aku rasa kita sekarang harus lebih berhati-hati."


"I..iya Pak" Sahutnya tanpa membantah.


Aku kembali menyunggingkan senyumku padanya, saat menurut seperti ini dia benar-benar manis sekali.


"Baiklah, kau boleh keluar dan ajak temanmu kembali ke kelas. Untuk 2 gadis yang mengganggumu tadi, suruh dia menemui ku." Perintahku.


"Baik Pak" Balasnya tersenyum.


Tanpa di perintah, tanganku langsung membelai lembut rambut halusnya. Entah sejak kapan, aku mulai menyukai aktivitas membelai ini. Aku benar-benar menyukainya.


"Apa kau sadar gadis nakal, kau sekarang membuatku benar-benar tidak berdaya."

__ADS_1


❤️❤️❤️


😚😚😚


__ADS_2